Kisah Hikma Bangkit Lewat Salad Umma dan KUR BRI

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 27 Mei 2026 09:09 WIB 2
Kisah Hikma Bangkit Lewat Salad Umma dan KUR BRI

Hikma Nurul Audhliya, perempuan berusia 38 tahun, membuktikan bahwa kegagalan di masa pandemi tidak selalu menjadi akhir perjalanan usaha. Setelah profesinya sebagai makeup artist terpukul karena seluruh jadwal pernikahan batal, ia memulai kembali dari nol melalui usaha kuliner sehat bernama Salad Umma. Perjalanan itu kemudian berkembang berkat pelatihan, inovasi, serta dukungan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.

Usaha yang awalnya dirintis dari dapur rumah tersebut sempat tumbuh perlahan sebelum akhirnya naik kelas dan mendapat pasar yang lebih luas. Dari kondisi ekonomi yang sempat menjepit, Hikma kini mampu mengelola bisnis yang melayani pesanan harian, bazar, hingga kebutuhan acara instansi. Kisahnya menjadi contoh bagaimana pelatihan usaha dan akses pembiayaan dapat mengubah arah hidup pelaku usaha kecil.

Bangkit Lewat Salad Umma

Hikma semula bekerja sebagai perias wajah dan mengandalkan pesanan acara pernikahan untuk menopang pendapatan. Namun pandemi membuat seluruh jadwal wedding dibatalkan, sementara uang muka kepada vendor dekor, tenda, dan bunga sudah terlanjur masuk. Kondisi itu membuatnya harus menjual mobil serta sejumlah perlengkapan usaha untuk menutup kerugian.

Ia mengaku sempat pasrah setelah seluruh pesanan dibatalkan pada akhir 2020. Banyak aset pribadi ikut dijual, mulai dari baju hingga alat makeup, demi menutup kewajiban yang tersisa. Situasi itu memaksanya mencari sumber penghasilan baru yang bisa dijalankan dari rumah.

Di tengah tekanan ekonomi, Hikma mulai berpikir untuk membangun usaha yang sederhana dan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ia memilih kuliner sehat karena melihat peluang pada gaya hidup yang lebih praktis dan menyehatkan. Dari situlah nama Salad Umma mulai lahir sebagai usaha baru.

Kartu Prakerja Jadi Titik Balik

Langkah awal Hikma menuju usaha baru dimulai ketika ia mengikuti program Kartu Prakerja. Ia sempat gagal pada gelombang pertama, sebelum akhirnya lolos dan memperoleh voucher pelatihan senilai Rp 1 juta. Kesempatan itu menjadi pintu masuk untuk mempelajari keterampilan yang lebih sesuai dengan situasi saat itu.

Pada awalnya, Hikma masih memilih kelas makeup karena berharap industri pernikahan dan hiburan segera pulih. Namun, setelah kondisi tidak kunjung membaik, ia mulai mempertimbangkan usaha yang lebih praktis dan tidak membutuhkan banyak peralatan. Pilihannya lalu mengarah pada penjualan salad sayur.

Keputusan itu diambil karena usaha salad dinilai ringkas, tidak membutuhkan kompor, minyak, atau gas, tetapi tetap menjawab kebutuhan konsumen yang ingin hidup lebih sehat. Dari pelatihan tersebut, Hikma memperoleh gambaran usaha yang bisa dijalankan dengan modal terbatas. Ia kemudian mulai menyusun langkah bisnis secara bertahap.

Merintis Dari Dapur Rumah

Hikma memulai Salad Umma dari dapur rumah dengan modal yang dikumpulkan dari bantuan Kartu Prakerja. Dana itu ia terima sebesar Rp 600 ribu per bulan selama empat bulan, sehingga totalnya mencapai Rp 2,4 juta. Uang tersebut digunakan untuk membeli bahan baku dan perlengkapan dasar usaha secara bertahap.

Sejumlah kebutuhan usaha dibeli sedikit demi sedikit, mulai dari chopper, blender, aneka kemasan, hingga showcase. Strategi itu membuat pengeluaran tetap terkendali tanpa menghambat operasional harian. Ia juga menyesuaikan produk dengan kapasitas produksi yang masih terbatas.

Lokasi usaha yang dekat kawasan indekost karyawan dan karyawati membantu Salad Umma menemukan pasar awal. Permintaan datang karena produk sehat dinilai praktis untuk konsumsi harian. Dari situ, usaha kecilnya mulai dikenal secara perlahan di lingkungan sekitar.

KUR BRI Dorong Pertumbuhan

Setelah berjalan beberapa waktu, Hikma memperluas produk dengan menambahkan salad buah ketika menerima pesanan untuk acara ulang tahun pada 2022. Inovasi itu membuat pilihan menu menjadi lebih beragam dan menarik bagi konsumen. Ia juga aktif memanfaatkan pesanan online serta promosi di media sosial.

Meski demikian, omzet usaha sempat naik turun dan belum stabil. Dalam satu hari, pendapatan bisa hanya Rp 15 ribu, lalu naik hingga Rp 100 ribu, bahkan ada hari tanpa pesanan sama sekali. Kondisi itu menunjukkan bahwa usaha kecil tetap membutuhkan ketahanan dan strategi pemasaran yang konsisten.

Perkembangan Salad Umma kembali meningkat setelah produknya memperoleh sertifikasi halal dan mengikuti kegiatan bazar dari Jakpreneur. Dari jaringan itu, Hikma mendapat relasi baru hingga menerima pesanan rutin untuk rapat kementerian dan pemerintah daerah. Dalam fase pertumbuhan berikutnya, omzet harian bahkan bisa menembus Rp 1 juta per hari berkat dukungan pembiayaan KUR BRI dan pendampingan usaha.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!