Kisah Hikma Bangkit Lewat Salad Umma dan KUR BRI

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 23 Mei 2026 01:09 WIB 6
Kisah Hikma Bangkit Lewat Salad Umma dan KUR BRI

Hikma Nurul Audhliya, perempuan 38 tahun asal Jakarta, bangkit dari kejatuhan usahanya sebagai makeup artist saat pandemi dan memulai bisnis kuliner sehat bernama Salad Umma. Usaha yang lahir dari kondisi serba terbatas itu kemudian berkembang berkat pelatihan, inovasi produk, dan dukungan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Perjalanan Hikma menunjukkan bahwa usaha kecil dapat tumbuh dari titik paling sulit ketika pelakunya berani beradaptasi. Dari menjual perlengkapan rias hingga merintis salad sayur dan buah, ia perlahan membangun kembali pendapatan yang sempat hilang.

Jatuh saat pandemi

Sebelum menekuni usaha kuliner, Hikma bekerja sebagai perias wajah atau makeup artist. Pandemi membuat seluruh jadwal pernikahan dibatalkan, sehingga pemasukan berhenti total dalam waktu singkat.

Situasi itu memaksanya menanggung kewajiban kepada vendor dekorasi, tenda, dan bunga. Untuk menutup kerugian, ia bahkan menjual mobil, baju, serta perlengkapan make-up.

Hikma mengaku saat itu kondisi usahanya benar-benar berhenti. Ia sempat pasrah karena tidak melihat ruang untuk melanjutkan pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghasilan utama.

Tekanan ekonomi tersebut menjadi titik balik bagi dirinya untuk mencari jalan baru. Dari pengalaman pahit itu, ia mulai mempertimbangkan usaha yang lebih sederhana dan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Belajar dari prakerja

Hikma kemudian mengikuti program Kartu Prakerja untuk mencari peluang baru. Ia sempat gagal pada gelombang pertama, sebelum akhirnya lolos pada kesempatan berikutnya dan memperoleh voucher pelatihan usaha senilai Rp 1 juta.

Pada awalnya, ia memilih kelas makeup karena berharap industri pernikahan dan hiburan segera pulih. Namun, kondisi yang tak kunjung membaik membuatnya mencari bidang usaha yang lebih praktis dan tidak membutuhkan banyak peralatan.

Pilihan itu akhirnya jatuh pada salad sayur. Menurut Hikma, usaha ini bisa dijalankan tanpa kompor, tanpa minyak, dan tanpa gas, tetapi tetap menjawab kebutuhan masyarakat yang ingin hidup lebih sehat.

Keputusan tersebut menjadi awal lahirnya Salad Umma. Dari hasil pelatihan itu, ia mendapat gambaran bisnis yang sederhana, efisien, dan bisa dikerjakan dari rumah.

Merintis dari dapur rumah

Hikma memulai usahanya dari dapur rumah dengan modal yang terbatas. Dana yang ia terima dari Kartu Prakerja, sekitar Rp 600 ribu per bulan selama empat bulan, digunakan untuk membeli bahan baku dan perlengkapan dasar secara bertahap.

Peralatan yang dibeli antara lain chopper, blender, kemasan, dan showcase. Semua dilakukan sedikit demi sedikit agar modal tetap terjaga dan usaha bisa terus berjalan.

Lokasi usaha yang dekat dengan kawasan indekost karyawan dan karyawati membantu Salad Umma mendapat pasar awal. Dari situ, produknya mulai dikenal karena menawarkan makanan sehat yang praktis dan terjangkau.

Perkembangan berikutnya datang ketika Hikma mencoba menghadirkan salad buah setelah menerima pesanan untuk acara ulang tahun pada 2022. Inovasi itu membuat pilihan menu semakin beragam dan membuka peluang penjualan yang lebih luas.

Naik kelas bersama dukungan

Meski sudah aktif berjualan online dan memanfaatkan media sosial, omzet Salad Umma sempat naik turun. Dalam satu hari, pendapatannya bisa hanya Rp 15 ribu, lalu pada kesempatan lain naik menjadi Rp 100 ribu, bahkan kadang tidak ada pesanan sama sekali.

Perubahan mulai terlihat setelah produknya mengantongi sertifikasi halal. Hikma juga mengikuti kegiatan bazar dari Jakpreneur yang memperluas jaringan dan memperkenalkan produknya ke pasar yang lebih luas.

Dari jejaring tersebut, ia mulai menerima pesanan rutin untuk rapat kementerian dan pemerintah daerah. Pesanan yang lebih stabil itu membantu omzet harian naik hingga mencapai Rp 1 juta per hari.

Dukungan pembiayaan KUR BRI menjadi salah satu penopang penting dalam fase pertumbuhan usaha. Bagi Hikma, akses modal dan pendampingan membuat Salad Umma tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas sebagai usaha kuliner sehat.

Pelajaran dari usaha kecil

Kisah Hikma memperlihatkan bahwa kebangkrutan bukan akhir dari perjalanan usaha. Dengan kemampuan beradaptasi, pelatihan yang tepat, dan keberanian memulai dari skala kecil, ia berhasil membangun sumber pendapatan baru.

Transformasi dari MUA ke pelaku usaha kuliner juga menunjukkan pentingnya membaca kebutuhan pasar. Produk yang sederhana dapat berkembang bila disesuaikan dengan tren gaya hidup sehat dan dikemas secara profesional.

Keberhasilan Salad Umma menegaskan bahwa usaha mikro memerlukan dukungan ekosistem yang kuat. Akses pembiayaan, sertifikasi, dan jejaring pemasaran menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan bisnis.

Di tengah tantangan ekonomi, kisah ini menjadi contoh bahwa peluang selalu ada bagi pelaku usaha yang mau belajar. Dari dapur rumah, Hikma membuktikan bisnis kecil pun dapat tumbuh menjadi usaha yang lebih mapan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!