Kisah Aisah, Eks Karyawan Pabrik Sukses Jajanan Betawi

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 30 Mei 2026 02:38 WIB 6
Kisah Aisah, Eks Karyawan Pabrik Sukses Jajanan Betawi

Aisah, mantan karyawan pabrik, memulai usaha sampingan pada 2018 demi menambah penghasilan. Dari jualan keripik pedas yang dititipkan ke teman dan warung, ia perlahan membangun bisnis yang kemudian berkembang pesat. Usaha itu kini dikenal dengan nama Betawi Punya Gaye dan fokus pada jajanan tradisional khas Betawi. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa ketekunan dapat mengubah pekerjaan sampingan menjadi sumber penghasilan utama.

Di tengah tantangan pandemi COVID-19 dan banyaknya warung yang tutup, Aisah tidak menyerah. Ia justru mengubah arah usaha, mengundurkan diri dari pabrik setelah hampir 20 tahun bekerja, lalu serius menekuni bisnis camilan tradisional. Langkah itu membawanya bergabung dengan Jakpreneur dan mengikuti berbagai pelatihan, termasuk urusan Hak Kekayaan Intelektual. Dari situ, usaha yang semula sederhana mulai memiliki identitas yang lebih kuat dan peluang pasar yang lebih luas.

Awal Usaha Jajanan Betawi

Aisah mulai berjualan pada 2018 saat masih bekerja di pabrik spidol. Saat itu, ia menjajakan keripik pedas dengan cara menawarkan kepada rekan kerja dan menitipkannya di warung sekitar tempat tinggalnya. Modal awalnya terbatas, tetapi ia melihat peluang dari kebiasaan masyarakat yang gemar membeli camilan praktis. Dari usaha kecil itu, ia mampu meraih omzet sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan.

Usaha tersebut sempat berjalan cukup baik sebelum akhirnya terdampak kondisi pandemi. Banyak warung yang menjadi tempat titip jual tutup, sehingga penjualan ikut menurun. Situasi itu membuat perputaran produk tidak lagi lancar seperti sebelumnya. Dalam kondisi tersebut, Aisah mulai memikirkan langkah baru agar usahanya tetap bertahan.

Alih-alih berhenti, ia memilih beralih ke produk yang lebih dekat dengan identitas budaya daerah. Ia kemudian fokus membuat aneka jajanan jadul khas Betawi, seperti kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang. Peralihan ini membuka jalan bagi usaha yang lebih khas dan mudah dikenali pasar. Dari titik itu, bisnisnya mulai menemukan arah yang lebih jelas.

Berubah Jadi Betawi Punya Gaye

Pada 2020, Aisah memutuskan untuk menekuni usahanya secara serius. Ia bergabung dengan Jakpreneur untuk memperkuat kapasitas usaha dan memperluas jejaring pemasaran. Dalam proses itu, ia juga mengikuti bimbingan teknis pembuatan Hak Kekayaan Intelektual dari Pemprov DKI Jakarta. Langkah tersebut menjadi awal penguatan legalitas dan identitas merek dagangnya.

Awalnya, ia memakai nama usaha Camilan 19. Namun, nama itu dinilai terlalu umum dan kurang menonjol di pasar. Ia kemudian diarahkan untuk mencari identitas baru yang lebih khas. Dari proses tersebut lahirlah nama Betawi Punya Gaye, yang kini menjadi merek dagang usahanya.

Nama baru itu bukan hanya label, tetapi juga cerminan konsep produk yang diusung. Aisah ingin menghadirkan camilan yang lekat dengan budaya Betawi dan tetap relevan dengan selera konsumen masa kini. Ia mengembangkan resep secara mandiri hingga menemukan rasa yang sesuai. Dengan cara itu, produknya memiliki karakter yang kuat dan berbeda dari camilan sejenis.

Resep Tradisional Jadi Andalan

Aisah mengaku memiliki dasar membuat kue sejak kecil karena sering membantu orang tuanya. Pengalaman itu membantunya memahami teknik dasar pengolahan camilan tradisional. Meski begitu, ia tetap harus melakukan banyak penyesuaian agar rasa, tekstur, dan daya simpan produk sesuai kebutuhan pasar. Proses uji coba menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha.

Produk yang ia buat antara lain kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang. Ketiga jajanan itu dipilih karena memiliki pasar yang stabil dan lekat dengan nostalgia masyarakat. Selain itu, produk tradisional cenderung mudah dipasarkan sebagai oleh-oleh maupun camilan harian. Kombinasi rasa lama dan tampilan yang lebih rapi membuat produknya semakin diminati.

Keputusan mengangkat jajanan Betawi juga memberi nilai pembeda bagi usahanya. Di tengah persaingan camilan modern, produk berbasis tradisi memiliki cerita yang lebih kuat untuk dipromosikan. Cerita itu menjadi bagian dari strategi pemasaran yang membuat konsumen tertarik mencoba. Dengan demikian, budaya lokal ikut menjadi kekuatan bisnis.

Naik Kelas Lewat Pelatihan

Pelatihan yang diikuti Aisah melalui Rumah BUMN BRI menjadi salah satu penopang perkembangan usahanya. Ia mendapatkan pembekalan mengenai pengelolaan usaha, pemasaran, dan penguatan merek. Dukungan semacam ini penting bagi pelaku UMKM yang ingin naik kelas. Dengan pengetahuan yang lebih baik, ia dapat mengelola bisnis secara lebih terarah.

Pendampingan dari program pembinaan juga membantu Aisah memahami pentingnya legalitas dan pengemasan produk. Ia tidak lagi hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada identitas usaha dan keberlanjutan pasar. Dalam dunia usaha kecil, aspek tersebut sering menentukan kepercayaan pembeli. Karena itu, pelatihan menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan.

Kisah Aisah memperlihatkan bahwa usaha rumahan dapat tumbuh besar jika dikelola dengan konsisten. Dari seorang karyawan pabrik, ia bertransformasi menjadi pelaku usaha yang memiliki merek sendiri. Perjalanan itu dipenuhi tantangan, tetapi juga menunjukkan keberanian untuk berubah. Kini, Betawi Punya Gaye menjadi bukti bahwa jajanan tradisional masih punya tempat di pasar modern.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!