Kisah Aisah, Dari Karyawan Pabrik Jadi Juragan Jajanan Betawi

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 11:20 WIB 4
Kisah Aisah, Dari Karyawan Pabrik Jadi Juragan Jajanan Betawi

Aisah, mantan karyawan pabrik, memulai usaha sampingan pada 2018 demi menambah penghasilan keluarga. Dari jualan camilan kecil-kecilan di lingkungan kerja, usahanya perlahan tumbuh menjadi bisnis jajanan jadul khas Betawi yang kini dikenal dengan nama Betawi Punya Gaye. Perjalanan itu membawanya dari pekerja pabrik menjadi pelaku UMKM dengan omzet jutaan rupiah setiap bulan.

Perubahan arah usaha terjadi ketika penjualan keripik pedas yang semula dijajakan ke teman kerja dan titip di warung mulai tersendat saat pandemi COVID-19. Aisah kemudian berani meninggalkan pekerjaan pabrik setelah hampir 20 tahun, lalu fokus mengembangkan aneka kue tradisional Betawi dengan bantuan program pembinaan usaha dan pelatihan resmi.

Jajanan Betawi Jadi Pilihan

Aisah memilih jajanan Betawi karena produk itu memiliki identitas kuat dan dekat dengan ingatan banyak orang. Ia melihat kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang masih punya pasar yang loyal di tengah persaingan camilan modern. Pilihan tersebut menjadi titik balik yang mengubah usahanya dari sekadar sampingan menjadi brand yang lebih terarah.

Keputusan itu tidak diambil secara tiba-tiba, melainkan lahir dari pengalaman panjangnya di dunia kerja dan kebiasaan membantu keluarga membuat kue sejak kecil. Ia merasa memiliki bekal dasar untuk mengolah resep tradisional menjadi produk yang layak jual. Dari situ, Aisah mulai menyusun ulang konsep usahanya agar lebih kuat secara rasa dan tampilan.

Ia lalu mengembangkan produk dengan pendekatan yang lebih serius, termasuk menjaga kualitas bahan dan konsistensi rasa. Menurut Aisah, pelanggan cenderung kembali ketika cita rasa jajanan lama dipertahankan tanpa mengorbankan kebersihan produksi. Hal itu membuat produknya mulai dikenal dari mulut ke mulut.

Dalam perkembangannya, Aisah menyadari bahwa pasar untuk makanan tradisional masih terbuka lebar bila dikemas dengan baik. Ia pun menempatkan jajanan Betawi sebagai identitas utama usaha, bukan sekadar pilihan sementara. Strategi itu terbukti membantu bisnisnya bertahan ketika tren camilan terus berubah.

Berawal Dari Kerja Pabrik

Aisah mulai berjualan pada 2018 saat masih bekerja di pabrik spidol. Saat itu, ia membawa keripik pedas ke tempat kerja, lalu menawarkannya kepada rekan-rekan dan menitipkannya di warung sekitar. Cara sederhana itu menjadi pintu masuk pertama bagi usahanya untuk berputar.

Dari penjualan awal tersebut, Aisah sempat memperoleh pendapatan sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per bulan. Meski belum besar, hasil itu cukup memberi dorongan untuk terus mencoba. Ia melihat ada peluang yang bisa digarap lebih serius jika dikelola dengan konsisten.

Namun, keadaan berubah ketika banyak warung tutup dan penjualan menurun di masa pandemi. Produk keripik yang sebelumnya cukup diminati mulai sulit bergerak. Kondisi itu memaksanya meninjau ulang model usaha yang selama ini dijalankan.

Alih-alih berhenti, Aisah memilih beradaptasi dengan mengganti jenis produk. Ia memanfaatkan pengalaman dan kebiasaan membuat kue untuk masuk ke pasar jajanan tradisional Betawi. Keputusan tersebut menjadi langkah penting yang menyelamatkan usahanya dari kebuntuan.

Nama Baru Dan HAKI

Ketika mulai serius mengembangkan usaha, Aisah bergabung dengan Jakpreneur pada 2020. Ia juga memanfaatkan waktu luang untuk mengikuti bimbingan teknis pembuatan Hak Kekayaan Intelektual dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Langkah ini dilakukan agar usahanya tidak hanya berjalan, tetapi juga memiliki perlindungan merek.

Pada awalnya, ia memakai nama Camilan 19 untuk produknya. Namun, nama itu dinilai terlalu umum dan kurang memiliki ciri yang kuat. Karena itu, Aisah diarahkan untuk mencari identitas baru yang lebih khas.

Dari proses tersebut lahirlah nama Betawi Punya Gaye, yang kemudian dipakai sebagai merek dagang. Nama itu dianggap mencerminkan karakter produk yang lekat dengan budaya Betawi. Sejak saat itu, citra usaha Aisah menjadi lebih mudah dikenali.

Pengurusan HAKI juga memberi nilai tambah bagi usahanya dalam jangka panjang. Selain memperkuat identitas brand, langkah ini menunjukkan keseriusan Aisah membangun bisnis yang berkelanjutan. Perlindungan merek menjadi modal penting untuk masuk ke pasar yang lebih luas.

Omzet Jutaan Dari Tradisi

Dengan merek baru dan produk yang lebih fokus, usaha Aisah perlahan menunjukkan hasil yang lebih stabil. Jajanan jadul khas Betawi yang ia produksi memiliki pasar tersendiri, terutama di kalangan pembeli yang mencari rasa tradisional. Dari sini, omzet bulanan mulai bergerak ke angka jutaan rupiah.

Pertumbuhan itu tidak lepas dari kegigihan Aisah dalam menjaga kualitas dan membangun kepercayaan pelanggan. Ia terus belajar memperbaiki produksi, kemasan, dan pemasaran agar lebih relevan dengan kebutuhan pasar. Usahanya kemudian berkembang menjadi contoh bagaimana produk tradisional bisa naik kelas.

Aisah juga mendapat dorongan dari pelatihan dan pendampingan yang ia ikuti melalui Rumah BUMN BRI. Program tersebut membantunya memahami cara mengelola usaha dengan lebih rapi dan terukur. Dukungan seperti ini membuat pelaku UMKM memiliki ruang untuk bertumbuh lebih cepat.

Kisah Aisah memperlihatkan bahwa keberanian beradaptasi sering kali menjadi kunci utama dalam membangun usaha. Dari karyawan pabrik, ia berubah menjadi pelaku usaha kuliner yang menjual identitas budaya lewat jajanan Betawi. Perjalanannya menjadi bukti bahwa produk tradisional tetap bisa memberi peluang besar jika dikelola dengan tekun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!