Kisah Aisah Bangun Bisnis Jajanan Betawi Punya Gaye

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 00:02 WIB 2
Kisah Aisah Bangun Bisnis Jajanan Betawi Punya Gaye

Aisah, mantan karyawan pabrik, semula hanya mencari pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan. Dari langkah sederhana itu, ia justru membangun usaha jajanan jadul khas Betawi yang kini dikenal dengan nama Betawi Punya Gaye. Bisnis yang lahir pada 2020 tersebut berkembang pesat dan menghasilkan omzet jutaan rupiah setiap bulan. Perjalanannya menunjukkan bahwa ketekunan, keberanian, dan kemampuan beradaptasi dapat mengubah usaha kecil menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.

Produk yang dijual Aisah adalah aneka camilan tradisional seperti kembang goyang, biji ketapang, hingga kacang bawang. Ia memulai usaha dari bawah saat masih bekerja di pabrik spidol pada 2018, lalu perlahan memperluas pasar lewat teman kerja dan warung sekitar. Saat pandemi COVID-19 membuat penjualan keripik pedasnya merosot, ia memilih beralih ke jajanan khas Betawi yang lebih sesuai dengan identitas usahanya. Keputusan itu menjadi titik balik yang mengantar Aisah dari pekerja pabrik menjadi pelaku UMKM yang diperhitungkan.

Awal Usaha Jajanan Betawi

Aisah memulai usaha kecil-kecilan ketika masih bekerja di pabrik spidol pada 2018. Saat itu, ia memilih menjual keripik pedas sebagai tambahan pemasukan. Produk tersebut ia bawa ke tempat kerja, lalu ditawarkan kepada teman-temannya. Sebagian barang juga dititipkan ke warung sekitar agar penjualan bisa berputar.

Dalam masa awal, penjualan sempat memberi hasil yang cukup baik. Aisah mengaku dapat memperoleh omzet sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. Namun, keadaan berubah ketika banyak warung tutup dan permintaan menurun. Kondisi itu membuat usaha keripiknya tidak lagi stabil di tengah pandemi.

Situasi sulit tersebut tidak membuat Aisah berhenti berjualan. Ia justru mulai memikirkan produk yang lebih kuat secara karakter dan lebih dekat dengan budaya asalnya. Dari sana, ia memutuskan beralih ke aneka jajanan khas Betawi. Langkah ini menjadi awal lahirnya identitas bisnis yang lebih jelas dan mudah dikenali.

Pilihan itu juga dipengaruhi pengalaman Aisah dalam keluarga. Sejak kecil, ia terbiasa membantu orang tua membuat kue. Bekal itu memberinya dasar untuk mengembangkan produk secara mandiri. Dengan modal kebiasaan lama dan kemauan belajar, ia mulai merintis arah usaha baru yang lebih matang.

Berubah Haluan Saat Pandemi

Pandemi COVID-19 menjadi masa yang berat bagi banyak pelaku usaha kecil, termasuk Aisah. Penjualan keripik pedas yang sempat menjadi andalan tidak lagi berjalan baik. Banyak kanal penjualan yang ia andalkan ikut terdampak. Dari situ, ia mulai melihat perlunya perubahan arah usaha.

Aisah kemudian memutuskan beralih ke jajanan tradisional yang memiliki daya tarik budaya. Ia memilih kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang sebagai produk utama. Jenis camilan itu dinilai lebih khas dan punya pasar yang jelas. Selain itu, produk tersebut lebih mudah dikembangkan sebagai identitas merek.

Keputusan itu diambil bersamaan dengan keberaniannya keluar dari pekerjaan pabrik setelah hampir dua dekade bekerja. Ia menilai sudah waktunya fokus mengurus usaha sendiri. Menurut Aisah, pengalaman panjang di pabrik sudah cukup membantunya memahami disiplin kerja. Setelah itu, seluruh energi ia arahkan untuk membesarkan bisnis kuliner rumahan.

Langkah berani tersebut membuktikan bahwa perubahan arah bisnis tidak selalu berarti kegagalan. Dalam kasus Aisah, perubahan justru membuka peluang baru yang lebih besar. Usaha yang semula kecil kemudian tumbuh menjadi merek yang dikenal. Transformasi ini memperlihatkan pentingnya membaca pasar dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen.

Nama Betawi Punya Gaye

Pada 2020, Aisah mulai serius menekuni usahanya dengan bergabung ke Jakpreneur. Ia juga memanfaatkan waktu luang untuk mengikuti bimbingan teknis pembuatan Hak Kekayaan Intelektual dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kegiatan itu membantunya memahami pentingnya perlindungan merek. Dari sini, usaha yang dijalankan secara informal mulai diarahkan menjadi bisnis yang lebih profesional.

Awalnya, Aisah memakai nama Camilan 19 untuk usahanya. Namun, nama tersebut dinilai terlalu umum dan kurang menonjol. Ia kemudian diminta mencari identitas baru yang lebih kuat dan mudah diingat. Dari proses itu lahirlah nama Betawi Punya Gaye sebagai merek dagang resmi.

Nama baru tersebut tidak hanya berfungsi sebagai label usaha, tetapi juga menjadi konsep produk. Aisah ingin camilannya lekat dengan budaya Betawi, baik dari cita rasa maupun kesan visualnya. Karena itu, ia memilih jajanan tradisional yang memang akrab di masyarakat. Strategi ini membuat produknya memiliki diferensiasi yang jelas di tengah persaingan kuliner.

Pembentukan merek juga menandai perubahan pola pikir dalam menjalankan bisnis. Aisah tidak lagi sekadar berjualan untuk tambahan penghasilan. Ia mulai membangun usaha dengan identitas, legalitas, dan arah pengembangan yang lebih terukur. Langkah tersebut menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan usahanya di kemudian hari.

Resep Autodidak dan Produksi

Untuk menjaga kualitas, Aisah mengembangkan resep secara autodidak. Ia mengolah pengalaman masa kecil saat membantu orang tua membuat kue sebagai acuan awal. Dari sana, ia terus mencoba hingga menemukan rasa yang sesuai. Proses ini membutuhkan ketelatenan agar cita rasa setiap produk tetap konsisten.

Produk yang dibuatnya tidak hanya mengandalkan tampilan tradisional, tetapi juga rasa yang diterima pasar. Kembang goyang menjadi salah satu andalan karena bentuknya khas dan mudah dikenali. Biji ketapang serta kacang bawang melengkapi pilihan camilan yang ia tawarkan. Kombinasi ini membuat produknya cocok untuk berbagai kalangan.

Dalam proses produksi, Aisah menjaga agar setiap bahan yang dipakai tetap berkualitas. Ia memahami bahwa konsumen akan kembali jika rasa dan kebersihan terjaga. Karena itu, ia lebih berhati-hati dalam menakar bahan dan mengolahnya. Pendekatan tersebut membantu menjaga kepercayaan pelanggan.

Konsistensi itu membuat Betawi Punya Gaye tidak hanya menjadi usaha rumahan biasa. Usaha ini berkembang sebagai contoh bahwa produk tradisional tetap relevan jika dikemas dengan baik. Aisah membuktikan bahwa camilan jadul masih punya ruang besar di pasar modern. Dengan strategi yang tepat, warisan kuliner daerah bisa menjadi sumber ekonomi yang menjanjikan.

Dukungan dan Prospek Usaha

Perjalanan Aisah mendapat dorongan dari berbagai pelatihan dan pendampingan usaha. Program seperti Jakpreneur dan Rumah BUMN BRI membantu memperluas pengetahuan pelaku UMKM. Akses terhadap pembinaan membuat pengelolaan usaha menjadi lebih terarah. Dukungan ini juga memperkuat kesiapan Aisah dalam menghadapi pasar yang semakin kompetitif.

Keberhasilan Aisah menunjukkan bahwa pelaku usaha kecil dapat naik kelas jika berani beradaptasi. Ia tidak terpaku pada produk awal yang menurun penjualannya. Sebaliknya, ia membaca peluang baru dari kekayaan kuliner daerah. Langkah tersebut membawanya pada pertumbuhan omzet yang lebih baik.

Dari sisi bisnis, kekuatan utama Betawi Punya Gaye terletak pada identitas dan cerita di balik produknya. Konsumen tidak hanya membeli camilan, tetapi juga nilai budaya yang menyertainya. Hal ini memberi keunggulan emosional yang sulit ditiru produk lain. Dengan begitu, mereknya memiliki peluang untuk terus berkembang di pasar lokal maupun luar daerah.

Kisah Aisah menjadi pengingat bahwa usaha kecil dapat tumbuh besar ketika dijalankan dengan konsisten. Modal utama bukan hanya uang, melainkan keberanian untuk berubah dan belajar. Dari mantan karyawan pabrik, ia kini menjadi penggerak usaha kuliner tradisional yang menjanjikan. Perjalanannya menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin memulai bisnis dari langkah sederhana.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!