Kisah Aisah Bangun Bisnis Jajanan Betawi hingga Omzet Jutaan

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 31 Mei 2026 03:05 WIB 2
Kisah Aisah Bangun Bisnis Jajanan Betawi hingga Omzet Jutaan

Aisah, mantan karyawan pabrik, mengubah usaha sampingan yang semula hanya untuk menambah penghasilan menjadi bisnis jajanan khas Betawi bernama Betawi Punya Gaye. Dari keripik pedas yang ia titipkan ke teman dan warung, kini usahanya berkembang dan menghasilkan omzet jutaan rupiah setiap bulan.

Perjalanan usaha itu dimulai pada 2018 saat Aisah masih bekerja di pabrik spidol, lalu berkembang pada 2020 ketika ia serius menekuni usaha, mengikuti Jakpreneur, dan mengurus hak kekayaan intelektual. Keputusan berani meninggalkan pekerjaan lama membuatnya fokus memproduksi kembang goyang, biji ketapang, hingga kacang bawang sebagai produk unggulan.

Bisnis Jajanan Betawi

Aisah memulai usaha dari kebutuhan sederhana, yakni mencari pemasukan tambahan di luar gaji pabrik. Pilihan awalnya adalah menjual camilan kecil-kecilan yang mudah dipasarkan kepada rekan kerja.

Pada tahap awal, ia menjajakan keripik pedas dengan cara membawanya ke pabrik, menawarkan langsung kepada teman, dan menitipkannya di warung. Cara itu sempat membuahkan hasil, dengan pendapatan sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per bulan.

Namun, kondisi berubah ketika banyak warung tutup dan penjualan menurun di masa pandemi COVID-19. Situasi itu mendorong Aisah untuk mencari arah baru agar usaha tetap bertahan.

Paten Nama Usaha

Setelah memutuskan berpindah haluan, Aisah mulai fokus pada aneka jajanan khas Betawi yang ia anggap punya nilai budaya dan pasar yang lebih jelas. Dari sana, ia membangun identitas usaha yang lebih kuat dan mudah dikenali.

Pada awalnya, usaha itu memakai nama Camilan 19, tetapi nama tersebut dinilai terlalu umum. Ia kemudian diminta mencari identitas yang lebih khas dan akhirnya memilih Betawi Punya Gaye sebagai merek dagang.

Langkah itu semakin kuat setelah ia mengikuti pelatihan hak kekayaan intelektual dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dengan perlindungan merek, usaha Aisah memiliki posisi yang lebih aman untuk berkembang di pasar.

Dari Pabrik ke Dapur

Aisah memutuskan mengundurkan diri setelah hampir 20 tahun bekerja di pabrik. Ia menilai sudah saatnya mengalihkan tenaga dan waktu untuk membesarkan usaha sendiri.

Keputusan itu tidak diambil tanpa pertimbangan, karena ia melihat peluang usaha makanan tradisional masih terbuka lebar. Ia juga memiliki bekal dasar membuat kue sejak kecil karena sering membantu orang tuanya.

Dengan pengalaman tersebut, Aisah kemudian mengembangkan resep secara mandiri sampai menemukan rasa yang sesuai. Produk seperti kembang goyang dan biji ketapang menjadi hasil olahan yang kini identik dengan usahanya.

Dukungan Rumah BUMN

Untuk memperkuat usaha, Aisah juga mengikuti pembinaan di Rumah BUMN BRI. Pendampingan ini membantu pelaku usaha kecil memahami strategi pengembangan bisnis yang lebih terarah.

Dukungan pelatihan menjadi penting karena usaha kuliner tradisional tidak hanya bergantung pada rasa, tetapi juga pada pemasaran, pengemasan, dan legalitas. Melalui pembinaan, Aisah mendapat ruang untuk memperluas jejaring dan meningkatkan kapasitas produksi.

Kisah Aisah menunjukkan bahwa usaha kecil dapat tumbuh besar jika dikelola dengan konsisten dan berani beradaptasi. Dari pekerja pabrik, ia kini dikenal sebagai pelaku UMKM yang sukses menjaga warisan jajanan Betawi tetap hidup.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!