Kisah Aisah Bangun Bisnis Jajanan Betawi Beromzet Jutaan

Lifestyle Nadia Safira Putri 26 Mei 2026 17:20 WIB 2
Kisah Aisah Bangun Bisnis Jajanan Betawi Beromzet Jutaan

Aisah, mantan karyawan pabrik spidol, memulai usaha dari keinginan sederhana untuk menambah penghasilan pada 2018. Dari jualan camilan kecil-kecilan, bisnis itu berkembang menjadi penjual jajanan jadul khas Betawi dengan omzet jutaan rupiah per bulan. Usaha tersebut kemudian dipatenkan dengan nama Betawi Punya Gaye pada 2020. Perjalanan Aisah menunjukkan bahwa keberanian mengubah arah usaha dapat membuka peluang yang jauh lebih besar.

Di tengah tantangan pandemi dan menurunnya penjualan keripik pedas, Aisah memilih beralih ke produk yang lebih dekat dengan identitas daerah. Ia kemudian fokus memproduksi kembang goyang, biji ketapang, hingga kacang bawang. Langkah itu diambil setelah ia mengundurkan diri dari pabrik yang telah digelutinya hampir 20 tahun. Keputusan tersebut menjadi titik balik penting dalam perjalanan usahanya.

Awal Usaha Jajanan Betawi

Aisah mulai berjualan pada 2018 saat masih bekerja di pabrik. Saat itu, ia memilih menjual keripik pedas karena dianggap mudah dipasarkan kepada rekan kerja. Produk tersebut juga dititipkan ke warung sekitar tempat tinggalnya. Dari usaha kecil itu, ia memperoleh tambahan penghasilan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan.

Model penjualan awalnya masih sangat sederhana dan mengandalkan jaringan terdekat. Ia membawa produk ke lingkungan kerja, lalu menawarkan langsung kepada teman-temannya. Sebagian barang juga dititipkan agar bisa bergerak tanpa modal besar. Cara itu membantu Aisah memahami selera pasar sebelum mengembangkan usaha lebih jauh.

Namun, kondisi usaha tidak selalu berjalan mulus. Banyak warung tutup ketika pandemi COVID-19 melanda. Penjualan keripik pedas ikut melemah dan membuat pendapatannya menurun. Situasi tersebut mendorong Aisah untuk mencari arah baru bagi bisnisnya.

Alih-alih berhenti, Aisah justru melihat peluang dari kuliner tradisional Betawi. Ia menilai jajanan jadul memiliki ciri khas yang kuat dan masih diminati pasar. Pilihan itu kemudian menjadi fondasi baru bagi usahanya. Dari sini, ia mulai membangun identitas merek yang lebih jelas dan berkelanjutan.

Keputusan Tinggalkan Pabrik

Setelah hampir 20 tahun bekerja di pabrik, Aisah memutuskan untuk fokus pada usaha sendiri. Ia menilai waktu dan tenaganya lebih bermanfaat jika diarahkan penuh ke bisnis. Keputusan itu tidak diambil secara tergesa-gesa, melainkan setelah mempertimbangkan kondisi usaha dan peluang yang ada. Baginya, beralih ke wirausaha adalah langkah yang lebih masuk akal.

Aisah menyebut dirinya telah bekerja sejak era sebelum Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memimpin. Pengalaman panjang itu membuatnya memahami kerasnya ritme kerja pabrik. Namun, ia merasa sudah saatnya berhenti dan memberi ruang bagi usaha yang ia bangun sendiri. Ia pun memilih menjadikan bisnis camilan sebagai fokus utama.

Langkah mundur dari pekerjaan tetap tentu membawa risiko, tetapi Aisah melihatnya sebagai investasi masa depan. Dengan fokus penuh, ia bisa lebih leluasa mengatur produksi, pemasaran, dan pengembangan produk. Ia juga tidak lagi terbagi antara pekerjaan pabrik dan usaha sampingan. Konsistensi inilah yang kemudian memperkuat fondasi bisnisnya.

Keputusan itu menjadi bukti bahwa pengalaman panjang di sektor formal dapat menjadi modal berharga untuk membangun usaha mandiri. Aisah menggunakan kedisiplinan kerja pabrik untuk mengelola bisnisnya secara lebih tertata. Ia juga belajar menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang berubah cepat. Dari sana, usahanya mulai menanjak secara lebih stabil.

Proses Patenkan Merek

Pada 2020, Aisah mulai menekuni usahanya dengan lebih serius melalui program Jakpreneur. Ia juga memanfaatkan waktu luang untuk mengikuti bimbingan teknis pembuatan Hak Kekayaan Intelektual dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Langkah ini penting untuk melindungi nama dan identitas usahanya. Dengan begitu, bisnis yang dibangun tidak mudah ditiru pihak lain.

Awalnya, ia memakai nama usaha Camilan 19. Namun, nama tersebut dinilai terlalu umum dan kurang kuat sebagai identitas dagang. Aisah kemudian diarahkan untuk mencari nama baru yang lebih khas. Dari proses itu lahirlah nama Betawi Punya Gaye yang kini melekat pada produknya.

Nama baru tersebut menjadi representasi yang lebih tepat bagi produk yang ia jual. Selain mudah diingat, nama itu juga menonjolkan kedekatan dengan budaya Betawi. Aisah menilai identitas lokal dapat menjadi nilai tambah dalam pemasaran. Strategi ini membantu produknya tampil berbeda di tengah banyaknya camilan sejenis.

Langkah mendaftarkan HAKI juga menunjukkan keseriusan Aisah dalam membangun merek jangka panjang. Ia tidak hanya fokus menjual produk, tetapi juga menjaga aset intelektual bisnisnya. Pendekatan itu memperkuat posisi usahanya di pasar. Dalam dunia UMKM, perlindungan merek menjadi salah satu fondasi penting untuk tumbuh lebih aman.

Rasa Betawi Jadi Andalan

Setelah merek terbentuk, Aisah mulai memusatkan produksi pada jajanan khas Betawi. Produk yang dibuat antara lain kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang. Ia mengembangkan resep secara autodidak hingga menemukan cita rasa yang sesuai. Proses itu membuat produknya memiliki karakter yang konsisten.

Aisah mengaku memiliki dasar membuat kue sejak kecil karena sering membantu orang tuanya. Pengalaman masa kecil itu menjadi modal awal saat ia masuk ke bisnis kuliner. Ia kemudian menyesuaikan teknik lama dengan kebutuhan pasar saat ini. Hasilnya, produk yang dihasilkan terasa tradisional tetapi tetap relevan.

Fokus pada jajanan khas Betawi memberi keunggulan tersendiri bagi usahanya. Produk tersebut tidak hanya dijual sebagai camilan, tetapi juga sebagai bagian dari warisan kuliner daerah. Nilai budaya itu membuat konsumen memiliki alasan tambahan untuk membeli. Dengan demikian, produk Aisah punya daya tarik emosional sekaligus rasa yang kuat.

Pelatihan di Rumah BUMN BRI turut membantu Aisah memperkuat kapasitas usahanya. Ia mendapatkan pengetahuan baru terkait pengelolaan bisnis, pengemasan, dan pengembangan pasar. Dukungan semacam ini penting bagi pelaku UMKM yang ingin naik kelas. Dari perjalanan tersebut, Aisah membuktikan bahwa usaha kecil bisa tumbuh besar dengan ketekunan dan arah yang tepat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!