Kebutuhan Energi BTS di Jawa Berbeda dengan Daerah Lain

Teknologi Moh. Royhan Nahado 23 Mei 2026 11:08 WIB 6
Kebutuhan Energi BTS di Jawa Berbeda dengan Daerah Lain

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menjelaskan kebutuhan energi Base Transceiver Station atau BTS di Pulau Jawa tidak bisa disamakan dengan wilayah lain. Menurut dia, perbedaan tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan cakupan jaringan, kontur wilayah, dan karakteristik pengguna di setiap daerah.

Pernyataan itu disampaikan dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, Rabu, 20 Mei 2026. Dalam pemaparannya, Dr Mardi menekankan bahwa tipe BTS yang dipasang operator tidak selalu sama, karena harus disesuaikan dengan kondisi lapangan dan target layanan.

Energi BTS di Jawa

Dr Mardi menyebut konsumsi energi BTS sangat tinggi karena perangkat ini harus menjaga cakupan layanan di wilayah yang luas. Ia mencontohkan, kebutuhan energi operasional Telkomsel pada 2023 hampir mencapai 90 persen dari total konsumsi tahunan perusahaan.

Menurut dia, kebutuhan tersebut masih berpotensi meningkat seiring tren implementasi jaringan seluler di Indonesia. Jaringan 4G masih terus berkembang, sementara penerapan 5G hingga kini masih terbatas.

Karena itu, operator telekomunikasi perlu menyesuaikan konfigurasi BTS dengan kebutuhan pasar. Penyesuaian ini juga harus mempertimbangkan kondisi geografis wilayah agar penggunaan energi lebih efisien.

Jika penempatan BTS tidak sesuai dengan karakter wilayah, konsumsi energi dapat menjadi jauh lebih tinggi. Hal itu terjadi karena jaringan dipaksa bekerja lebih keras untuk menjangkau seluruh area layanan.

Jenis BTS dan Cakupan

Dalam penelitiannya, Dr Mardi memperoleh data dari salah satu operator telekomunikasi di Indonesia. Data tersebut mencakup sekitar 8.500 site BTS yang tersebar di 20 kabupaten dan kota di tiga provinsi, yakni Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Setiap point site sampel memiliki informasi mengenai tipe site, mulai dari Pico, Mikro, Indoor Base Station atau IBS, Makro, hingga Makro Hub. Dari seluruh sampel, hampir 78 persen di antaranya merupakan site makro.

Perbedaan tipe BTS ini penting dalam perhitungan kebutuhan energi jaringan. Semakin besar cakupan yang harus dilayani, semakin besar pula tantangan efisiensi energi yang harus dihadapi operator.

Dr Mardi menegaskan bahwa pemilihan tipe site tidak dapat dilakukan secara seragam. Kondisi kepadatan penduduk, kebutuhan layanan, dan karakter kontur wilayah menjadi faktor utama yang menentukan komposisi jaringan.

Faktor Sosial Ekonomi

Penyesuaian proporsi BTS juga berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat di masing-masing daerah. Dr Mardi menilai profil kebutuhan jaringan di Kalimantan dan Papua berbeda dengan Jakarta, sehingga pendekatan teknisnya pun tidak bisa disamakan.

Ia menilai pemodelan energi akan meleset bila faktor sosial ekonomi diabaikan. Akibatnya, hasil analisis tidak akan benar-benar menggambarkan kondisi nyata di Indonesia.

Dalam risetnya, Dr Mardi menggunakan tiga indikator sosial ekonomi untuk memvalidasi model. Ketiganya adalah population density, development index, dan digital society index.

Ketiga indikator tersebut dipakai untuk melihat keterkaitan antara karakter masyarakat dan kebutuhan jaringan telekomunikasi. Dengan pendekatan itu, analisis kebutuhan energi BTS diharapkan menjadi lebih akurat dan relevan.

Implikasi Bagi Operator

Temuan BRIN menunjukkan bahwa kebutuhan BTS di setiap daerah harus dihitung secara spesifik. Pulau Jawa yang padat penduduk memiliki kebutuhan berbeda dengan wilayah lain yang sebaran penduduknya lebih longgar.

Implikasi dari temuan ini cukup penting bagi operator telekomunikasi. Perencanaan jaringan yang tepat dapat membantu menekan konsumsi energi sekaligus menjaga kualitas layanan.

Operator juga dituntut lebih cermat membaca karakter wilayah sebelum menambah infrastruktur baru. Tanpa perencanaan yang menyesuaikan kondisi lokal, investasi jaringan berisiko tidak efisien.

Di tengah pertumbuhan trafik data dan kebutuhan konektivitas yang terus naik, efisiensi energi menjadi isu yang semakin strategis. Hasil riset semacam ini dapat menjadi acuan untuk membangun jaringan telekomunikasi yang lebih adaptif, hemat energi, dan berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!