Pemerintah memastikan pelaku usaha dan investor akan memperoleh penjelasan lengkap mengenai kebijakan ekspor baru sebelum transisi ke PT DSI dimulai pada 1 Juni 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan masa penyesuaian akan dibuat semulus mungkin agar aktivitas ekspor tetap berjalan tanpa gangguan.
Di saat yang sama, pasar saham merespons negatif pengumuman tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam, dengan IHSG ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Indeks sempat menguat di awal sesi, namun akhirnya terkoreksi lebih dari 0,8 persen setelah sentimen kebijakan baru masuk ke radar investor.
Transisi Ekspor Dimulai
Airlangga menyampaikan pemerintah akan memberikan penjelasan kepada para investor dan pelaku usaha sebelum transisi ekspor ke PT DSI berlaku penuh. Ia menekankan bahwa informasi yang disampaikan akan bersifat lengkap, sehingga dunia usaha tidak berada dalam posisi menebak arah kebijakan.
Menurut dia, tahap awal kebijakan ini menitikberatkan pada keterbukaan laporan atau reporting kepada pihak terkait. Pendekatan tersebut dipilih agar seluruh pemangku kepentingan memahami mekanisme baru sejak awal pelaksanaan.
Ia menambahkan, masa transisi akan dimanfaatkan untuk memastikan seluruh proses berjalan tertib dan sesuai rancangan. Pemerintah, kata dia, ingin menghindari kepanikan di tengah pelaku usaha yang selama ini sudah beroperasi dalam sistem lama.
Pelaku Usaha Diberi Kepastian
Airlangga menegaskan tidak ada alasan bagi pelaku usaha untuk khawatir terhadap perubahan kebijakan ekspor ini. Ia menyebut pemerintah telah menyiapkan masa penyesuaian agar perubahan struktur pengelolaan tidak menekan kegiatan usaha yang sedang berjalan.
Selama tiga bulan pertama masa transisi, ekspor masih dapat dilakukan oleh perusahaan masing-masing. Skema ini berlaku untuk sektor yang selama ini menjadi andalan, termasuk batu bara, crude palm oil, dan feronikel.
Dalam periode tersebut, ekspor tetap berjalan seperti biasa, namun disertai kewajiban pelaporan langsung kepada Danantara. Pemerintah berharap fase ini menjadi ruang penyempurnaan sistem sebelum pengaturan baru diterapkan sepenuhnya.
Keterbukaan Jadi Fokus
Pemerintah menempatkan keterbukaan informasi sebagai fondasi utama dalam penerapan kebijakan ekspor baru. Menurut Airlangga, para investor perlu mengetahui arah kebijakan sejak dini agar dapat menyesuaikan strategi bisnis secara tepat.
Ia menyebut penjelasan yang diberikan sebelum 1 Juni menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan pasar. Dengan demikian, dunia usaha diharapkan tidak terkejut oleh perubahan administratif maupun teknis yang menyertai transisi.
Airlangga juga mengisyaratkan bahwa pemerintah masih akan melakukan penyempurnaan sistem selama masa transisi berlangsung. Evaluasi itu dilakukan untuk memastikan alur pelaporan dan koordinasi berjalan efektif di lapangan.
IHSG Tertekan Pasar
Di pasar saham, kebijakan baru tersebut ikut menjadi perhatian pelaku transaksi. Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG bergerak di zona merah sepanjang perdagangan setelah pengumuman tata kelola ekspor komoditas SDA.
Meski sempat menguat lebih dari 1 persen ke level 6.459,55, indeks tidak mampu mempertahankan momentum tersebut. IHSG kemudian berbalik arah dan menutup sesi di level 6.318,50, atau turun 52,179 poin setara 0,82 persen.
Tekanan pada indeks menunjukkan investor masih mencermati implikasi kebijakan baru terhadap emiten dan pelaku usaha komoditas. Respons pasar ini sekaligus memperlihatkan bahwa kepastian regulasi masih menjadi faktor penting bagi sentimen bursa.
Sentimen Masih Dicermati
Pengumuman kebijakan ekspor baru menjadi pengingat bahwa pasar sangat sensitif terhadap perubahan tata kelola sektor strategis. Dalam kondisi seperti ini, komunikasi pemerintah dinilai memegang peran penting untuk meredam ketidakpastian.
Jika transisi berjalan sesuai jadwal dan penjelasan kepada pelaku usaha dilakukan secara menyeluruh, tekanan sentimen berpotensi mereda. Namun, investor tetap akan mencermati detail teknis implementasi sebelum menilai dampaknya secara jangka panjang.
Dengan masa transisi yang masih berlangsung, perhatian pasar kemungkinan tertuju pada efektivitas sistem baru dan respons pelaku industri. Ke depan, konsistensi kebijakan akan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus stabilitas perdagangan.
