KDRT dan Klarifikasi Dede-Sunandar di Podcast

Lifestyle Anindya Kirana Putri 14 Mei 2026 00:53 WIB 12
KDRT dan Klarifikasi Dede-Sunandar di Podcast

Dalam wawancara di C8 Podcast pada Rabu, 13 Mei 2026, pasangan yang telah menikah 12 tahun itu membahas kondisi rumah tangga mereka secara terbuka. Karen Hertatum mengungkap dirinya menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan menuduh adanya perselingkuhan oleh Dede Sunandar. Kisah tersebut menarik perhatian publik karena melibatkan tiga anak dan menyentuh isu kekerasan rumah tangga di kalangan selebritas.

Klaim KDRT dan Permintaan Maaf

Karen Hertatum mengungkap dirinya menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan menuduh adanya perselingkuhan yang dilakukan oleh Dede Sunandar.

Ia menggambarkan kejadian kekerasan yang dialaminya dan menekankan bahwa hal itu berdampak pada anak-anak mereka.

Anak sulung mereka berusaha melindungi ibunya saat pertengkaran terjadi hingga bibirnya terluka.

Namun, Karen juga menekankan bahwa tidak semua pernyataan bisa dipastikan kebenarannya tanpa konteks, dan ia berharap ada penyelesaian yang adil bagi semua pihak.

Ia menegaskan bahwa kekerasan dalam rumah tangga tidak dapat diterima, dan ia menyerukan perlindungan bagi keluarganya.

Ia menyatakan harapan bahwa publik tetap fokus pada kesejahteraan anak-anak dan proses penyelesaian yang layak.

Keterangan Karen juga menyoroti dampak emosional bagi keluarga, terutama terkait tiga anak yang menjadi korban langsung maupun tidak langsung.

Keluarga menilai perlunya tindakan yang tepat untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan mereka di masa mendatang.

Digaris bahwa isu ini menuntut respon dari berbagai pihak demi mempelajari cara menghadapi kekerasan dalam rumah tangga secara bertanggung jawab.

Komentar Dede tentang Podcast

Dede menilai isi podcast tidak sepenuhnya akurat dan menyatakan perlunya introspeksi bagi kedua belah pihak.

Ia menegaskan bahwa tidak semua apa yang diungkap karen benar atau salah, sehingga diperlukan konteks yang lebih luas.

Ia mengaku telah meminta maaf kepada keluarga dan berupaya menjaga jalur komunikasi agar tidak menimbulkan gesekan lebih lanjut.

Dalam pernyataannya, Dede mengakui bahwa kekerasan pernah terjadi dan menyebutnya sebagai hal yang keliru, dengan penyesalan mendalam.

Ia menuturkan bahwa kejadian tersebut terjadi beberapa tahun lalu ketika arus emosi melonjak dan orang yang terlibat mencoba melerai situasi.

Ia menegaskan bahwa kekerasan tidak dibenarkan dan menantikan langkah konkret dari keluarga untuk penyelesaian yang damai.

Dede menyatakan keinginan bertemu langsung dengan Karen meskipun waktu pertemuan belum ditentukan, serta mengakui upaya menjaga komunikasi melalui telepon.

Ia menegaskan bahwa dialog terbuka penting untuk memperbaiki hubungan, sambil menunggu kesempatan yang tepat.

Menurutnya langkah-langkah ini perlu dilakukan secara bertahap demi menjaga stabilitas keluarga dan kesejahteraan anak-anak.

Proses dan Harapan Keluarga

Dede mengklaim telah bertemu dengan orang tua Karen dan memohon maaf atas keretakan rumah tangga yang terjadi.

Ia mengatakan penyelesaian masalah diserahkan pada keluarga inti dan berupaya menjaga jalur komunikasi agar tidak terjadi gesekan lebih lanjut.

Ia menegaskan bahwa langkah damai menjadi prioritas utama untuk mengembalikan keharmonisan rumah tangga mereka.

Ia mengatakan meski berkeinginan bertemu langsung dengan Karen, pertemuan tersebut masih perlu waktu dan persiapan matang.

Ia menyatakan bahwa percakapan yang jujur dan empatik menjadi bagian penting dari proses pemulihan hubungan, meski dilakukan dari jarak jauh terlebih dahulu.

Publik diimbau memahami bahwa pembelajaran dari kejadian ini membutuhkan waktu serta dukungan dari semua pihak.

Kedua pihak menekankan pentingnya introspeksi diri serta langkah nyata untuk melindungi kesejahteraan anak-anak mereka.

Pihak keluarga berharap proses penyelesaian tetap menghormati privasi sembari tetap memberi perhatian pada kebutuhan anak-anak.

Ringkasnya, laporan ini menyoroti bahwa tanggung jawab terhadap kekerasan dalam rumah tangga adalah hal utama bagi semua pihak terkait.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!