Produk UMKM Indonesia kembali menunjukkan daya saingnya di pasar internasional, kali ini melalui Kainnesia atau Kain Tenun Indonesia. Perusahaan binaan Pertapreneur Aggregator itu menerima pesanan sarung tenun dari Malaysia senilai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta. Keberhasilan tersebut menegaskan bahwa tenun nusantara memiliki peluang besar untuk menembus pasar global jika dikelola secara terarah. Pencapaian itu juga berdampak langsung pada ratusan penenun dan UMKM mitra di berbagai daerah.
Kainnesia menjadi salah satu contoh pengembangan usaha yang tidak hanya mengejar penjualan, tetapi juga memperluas dampak ekonomi. Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, mengatakan pertumbuhan yang diraih tidak berhenti pada perusahaan, melainkan merata ke UMKM binaan. Saat ini, 37 UMKM mitra Kainnesia menyerap lebih dari 400 tenaga kerja. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa model pendampingan dan perluasan akses pasar dapat menggerakkan ekonomi lokal secara nyata.
Kainnesia dan peluang ekspor
Pesanan dari Malaysia menjadi bukti bahwa produk tenun Indonesia memiliki nilai jual tinggi di luar negeri. Kainnesia mampu menangkap peluang itu dengan menghubungkan penenun lokal dan pasar yang lebih luas. Menurut Nur Salam, capaian tersebut lahir dari penguatan kapasitas usaha yang dilakukan secara konsisten. Hasilnya, produk yang semula fokus pada pasar domestik kini mulai dikenal di tingkat internasional.
Kehadiran buyer dari luar negeri membuka jalan bagi peningkatan volume produksi dan kualitas produk. Kainnesia juga mendapatkan eksposur dari berbagai ajang internasional yang diikutinya. Di antaranya adalah Osaka World Expo Japan 2025, Korea Import Fair di Seoul, Jogja Fashion Week 2025, dan Inacraft 2025. Dari rangkaian kegiatan itu, perusahaan memperoleh kesempatan bertemu dengan calon pembeli dari Jepang, Australia, hingga Malaysia.
Ekspansi tersebut memperlihatkan bahwa produk kriya tradisional tetap relevan di tengah pasar modern. Tenun tidak hanya dipandang sebagai barang fesyen, tetapi juga sebagai identitas budaya Indonesia. Dengan pendekatan yang tepat, warisan budaya dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Strategi ini membuat tenun memiliki posisi yang lebih kuat di pasar premium.
Kainnesia menempatkan kualitas dan cerita budaya sebagai kekuatan utama dalam penjualan. Pendekatan itu membuat produk lebih mudah diterima oleh konsumen mancanegara yang mencari keunikan. Di saat yang sama, para penenun lokal mendapat kepastian permintaan yang lebih stabil. Situasi ini mendorong rantai pasok yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Dampak bagi UMKM binaan
Pertumbuhan Kainnesia tidak dapat dilepaskan dari keberadaan UMKM mitra yang tersebar di berbagai daerah. Melalui pembinaan yang terstruktur, usaha kecil tersebut ikut naik kelas bersama Kainnesia. Nur Salam menegaskan bahwa manfaat program tidak hanya dirasakan perusahaan inti. Dampaknya juga mengalir kepada pelaku usaha yang menjadi bagian dari ekosistem produksi.
Saat ini, total tenaga kerja dari 37 UMKM mitra mencapai lebih dari 400 orang. Angka itu mencerminkan potensi serapan kerja yang besar dari sektor berbasis kreativitas dan budaya. Setiap pesanan yang masuk memberikan ruang produksi yang lebih luas bagi para pengrajin. Pada akhirnya, hal itu ikut meningkatkan pendapatan keluarga pekerja di daerah.
Model kemitraan yang diterapkan Kainnesia mendorong UMKM untuk memperbaiki standar produksi. Pelaku usaha tidak hanya dibantu dalam proses penjualan, tetapi juga dalam pengelolaan usaha. Pendampingan seperti ini penting agar UMKM mampu memenuhi tuntutan pasar yang semakin kompetitif. Dengan demikian, pertumbuhan usaha berlangsung lebih stabil dan terukur.
Nur Salam menilai keberhasilan tersebut sebagai bukti bahwa program aggregator dapat menghasilkan dampak yang menyeluruh. Ia menyebut pertumbuhan yang terjadi bukan hanya untuk Kainnesia, tetapi juga bagi seluruh UMKM binaan. Pola kerja ini memperlihatkan bahwa kolaborasi dapat menjadi mesin penggerak ekonomi daerah. Semakin kuat jaringan mitra, semakin besar pula peluang usaha untuk berkembang.
Pertamina dorong naik kelas
Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menyebut Kainnesia sebagai contoh nyata tujuan Pertapreneur Aggregator. Menurut dia, program ini dirancang agar UMKM memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar. Kehadiran aggregator membuat pelaku usaha kecil tidak berjalan sendiri. Mereka mendapatkan dukungan yang membantu proses peningkatan kapasitas secara bertahap.
Rudi menekankan bahwa semakin banyak UMKM aggregator, semakin luas pula efek penggandaan manfaat yang dihasilkan. UMKM binaan dapat memperoleh akses yang lebih baik terhadap pasar, pengetahuan, dan jejaring usaha. Dengan dorongan tersebut, pelaku usaha berpeluang membuka lapangan kerja baru. Efek akhirnya adalah penguatan ekonomi lokal yang lebih inklusif.
Pertapreneur Aggregator sendiri telah melibatkan ratusan UMKM sejak diluncurkan pada 2022. Program ini memberikan dukungan teknis, manajerial, dan akses pasar yang lebih luas kepada peserta. Pendekatan tersebut dirancang agar pelaku usaha naik kelas secara berkelanjutan. Dalam praktiknya, dukungan itu menjadi jembatan antara potensi lokal dan kebutuhan pasar.
Kehadiran program seperti ini menunjukkan bahwa pengembangan UMKM membutuhkan ekosistem yang lengkap. Bukan hanya modal, tetapi juga pendampingan, promosi, dan akses kemitraan. Ketika seluruh unsur itu berjalan bersama, produk lokal memiliki kesempatan lebih besar untuk mendunia. Kainnesia menjadi salah satu contoh konkret dari hasil proses tersebut.
Tenun sebagai warisan ekonomi
Bagi Kainnesia, tenun bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang perlu terus dijaga. Nur Salam mengatakan generasi muda perlu melihat tenun sebagai bagian dari masa depan, bukan hanya peninggalan masa lalu. Pandangan itu penting agar tradisi tetap relevan dengan perkembangan zaman. Dengan cara tersebut, budaya lokal dapat terus hidup di tengah industri yang berubah cepat.
Upaya menjaga tenun juga berarti menjaga keberlangsungan pekerjaan para perajin. Ketika permintaan meningkat, para penenun memiliki insentif untuk mempertahankan keahlian mereka. Ini membantu mencegah hilangnya pengetahuan tradisional yang diwariskan lintas generasi. Selain itu, produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi di pasar.
Keberhasilan Kainnesia memperlihatkan bahwa ekonomi kreatif dan pelestarian budaya dapat berjalan berdampingan. Produk yang kuat secara identitas memiliki peluang besar untuk menarik pasar internasional. Selama kualitas dijaga dan distribusi diperluas, daya saing akan terus meningkat. Hal ini memberi harapan baru bagi UMKM berbasis budaya di Indonesia.
Di tengah persaingan global, model usaha berbasis komunitas seperti Kainnesia menjadi semakin relevan. Sistem tersebut memungkinkan manfaat ekonomi dirasakan lebih merata oleh para pelaku di tingkat akar rumput. Jika pola serupa diperluas, lebih banyak UMKM berpotensi menembus pasar ekspor. Pada akhirnya, tenun Indonesia dapat menjadi simbol pertumbuhan ekonomi yang berakar pada budaya.
