Jessica Iskandar Ungkap Masa Kelam dan Mental Breakdown

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 07:02 WIB 2
Jessica Iskandar Ungkap Masa Kelam dan Mental Breakdown

Jessica Iskandar akhirnya membuka suara mengenai fase hidup paling kelam yang pernah ia alami, saat kehilangan arah hingga mengalami mental breakdown. Pengakuan itu ia sampaikan dalam acara SOS: Strength of Sensitivity bersama AVEENO di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Jumat, 17 April 2026. Kisah tersebut menyoroti sisi rapuh yang selama ini jarang terlihat dari sosok publik yang kerap tampak ceria.

Artis berusia 38 tahun itu mengakui, masa tersebut bukan hanya berat untuk dihadapi, tetapi juga sulit untuk diucapkan. Tekanan dari luar, ditambah komentar dan penilaian publik, membuat kondisi mentalnya semakin terpuruk. Dalam kesempatan itu, ia memilih jujur agar pengalaman pahitnya bisa menjadi pelajaran bagi banyak orang.

Jessica Iskandar dan masa kelam

Jessica Iskandar mengaku pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia merasa kehilangan arah, kehilangan diri sendiri, dan sulit menerima keadaan yang tengah dihadapi. Pengakuan itu menunjukkan bahwa kehidupan seorang figur publik tidak selalu seindah yang terlihat.

Di balik penampilan yang tampak kuat, Jessica menyimpan luka yang cukup dalam. Ia menyebut ada masa ketika dirinya merasa paling gelap dan sangat sensitif terhadap tekanan sekitar. Kondisi itu membuatnya harus berjuang lebih keras untuk kembali stabil.

Publik selama ini mengenal Jessica sebagai sosok yang ceria dan penuh warna. Namun, pengalaman pribadi seperti perceraian, kegagalan dalam hubungan, hingga kasus penipuan yang merugikan dirinya menjadi beban emosional yang berat. Semua pengalaman itu ikut membentuk fase terkelam dalam hidupnya.

Tekanan publik memperburuk kondisi

Jessica menuturkan bahwa ucapan dan bisikan orang-orang membuat proses pemulihannya semakin sulit. Ia merasa dihakimi bahkan sebelum sempat memaafkan dirinya sendiri. Situasi tersebut memperlihatkan betapa besar dampak tekanan sosial terhadap kesehatan mental seseorang.

Dalam keadaan rentan, penilaian dari luar sering kali terasa lebih menyakitkan dibanding persoalan utama yang dihadapi. Jessica menegaskan bahwa beban itu tidak mudah ditanggung sendirian. Karena itu, ia memilih untuk lebih terbuka terhadap pengalaman yang pernah membuatnya jatuh.

Pengakuan jujur ini menjadi pengingat bahwa dukungan lingkungan sangat penting bagi mereka yang sedang berjuang. Seseorang yang terlihat baik-baik saja belum tentu sedang benar-benar baik di dalam dirinya. Kesadaran ini relevan, terutama saat media sosial membuat tekanan emosional terasa semakin besar.

Cara Jessica bangkit kembali

Jessica kini memilih untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai langkah awal pemulihan. Menurutnya, kedekatan spiritual memberi kekuatan saat dirinya berada dalam masa paling sulit. Cara itu membantu dirinya menemukan kembali pegangan hidup yang sempat hilang.

Ia juga menekankan pentingnya memiliki tempat aman untuk bercerita. Bagi Jessica, membagikan beban kepada orang yang dipercaya dapat membuat hati terasa lebih ringan. Ia percaya, masalah yang disimpan sendiri justru dapat semakin menumpuk.

Jessica menilai, keberanian untuk berbagi bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, keterbukaan dapat menjadi bagian dari proses penyembuhan yang sehat. Langkah ini juga menjadi contoh bahwa meminta bantuan adalah hal yang wajar.

Pandangan psikolog soal sensitivitas

Psikolog Indah Sundari Jayanti, M.Psi, menilai respons Jessica terhadap sisi sensitifnya sebagai langkah yang tepat. Menurutnya, perempuan tidak perlu merasa malu saat menunjukkan perasaan. Sensitivitas justru bisa menjadi pintu untuk memahami diri dengan lebih baik.

Ia menjelaskan bahwa ketika perempuan mampu mengakui emosi, mencari dukungan, dan memiliki ruang aman untuk berekspresi, mereka akan lebih kuat. Dalam pandangan psikolog, kekuatan bukan berarti menutup rasa sakit. Kekuatan justru muncul saat seseorang berani menghadapi perasaannya dengan jujur.

Penjelasan itu menegaskan bahwa kesehatan mental perlu dipahami sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Dukungan keluarga, lingkungan, dan ruang aman dapat membantu proses pemulihan berjalan lebih baik. Kisah Jessica menjadi pengingat bahwa keberanian berbicara sering kali menjadi awal dari kesembuhan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!