Jessica Iskandar Ungkap Masa Gelap dan Cara Pulih

Lifestyle Anindya Kirana Putri 23 Mei 2026 22:56 WIB 6
Jessica Iskandar Ungkap Masa Gelap dan Cara Pulih

Jessica Iskandar akhirnya buka suara mengenai fase hidup yang paling kelam, ketika ia merasa kehilangan arah dan mengalami mental breakdown. Pengakuan itu ia sampaikan dalam acara SOS: Strength of Sensitivity bersama AVEENO di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Jumat, 17 April 2026.

Di hadapan publik, artis berusia 38 tahun itu mengungkap bahwa masa tersebut menjadi titik terendah dalam hidupnya. Ia menuturkan, tekanan dari luar membuat kondisi mentalnya semakin berat, hingga ia harus berjuang untuk menemukan kembali dirinya sendiri.

Jessica Iskandar dan masa gelap

Jessica Iskandar mengaku tidak mudah menceritakan pengalaman paling sensitif dalam hidupnya. Ia sempat berada di titik terendah, kehilangan arah, dan merasa kehilangan diri sendiri. Kondisi itu membuatnya harus menghadapi banyak emosi sekaligus dalam waktu yang sama.

Menurutnya, fase tersebut menjadi bagian hidup yang paling sulit untuk dipahami orang lain. Di balik tampilan ceria yang selama ini terlihat di publik, ia menyimpan luka yang tidak langsung tampak. Pengalaman itu membuatnya belajar bahwa tidak semua beban bisa ditanggung sendirian.

Jessica juga menegaskan bahwa tekanan dari luar ikut memperburuk keadaan mentalnya saat itu. Bisikan, komentar, dan penilaian orang lain membuat dirinya merasa dihakimi sebelum sempat memaafkan diri sendiri. Situasi itu menjadi salah satu beban terbesar yang harus ia hadapi.

Tekanan publik yang berat

Selama ini, publik kerap melihat Jessica sebagai sosok yang ceria dan penuh warna. Namun, di balik citra itu, ia pernah menghadapi masa sulit yang jarang diketahui banyak orang. Pengalaman perceraian, kegagalan menikah, dan kasus penipuan hingga miliaran rupiah menjadi bagian dari luka yang pernah ia lalui.

Rangkaian peristiwa tersebut memberi dampak besar pada kondisi emosionalnya. Ia merasakan bahwa hidup yang tampak baik di luar belum tentu mencerminkan keadaan di dalam. Karena itu, ia memilih untuk lebih jujur terhadap perasaannya sendiri.

Keputusan untuk berbicara terbuka disebutnya sebagai langkah penting dalam proses pemulihan. Dengan mengakui rasa sakit, ia merasa lebih dekat dengan dirinya sendiri. Sikap itu juga menjadi awal untuk keluar dari tekanan yang selama ini membebaninya.

Langkah Jessica Iskandar pulih

Dalam kesempatan tersebut, Jessica membagikan dua cara utama yang membantunya bertahan. Pertama, ia mendekatkan diri kepada Tuhan dan penciptanya. Menurutnya, cara itu memberi ketenangan saat pikirannya terasa kacau.

Kedua, ia mencari tempat aman untuk bercerita kepada orang yang dipercaya. Baginya, berbagi beban membuat hati terasa lebih ringan. Ia percaya bahwa masalah yang dipendam terlalu lama justru bisa semakin menekan perasaan.

Jessica menilai, membagikan masalah bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian. Saat beban dibicarakan, perlahan rasa sesak dapat berkurang. Ia berharap pengalaman pribadinya bisa menjadi pengingat bahwa setiap orang berhak mencari pertolongan.

Makna sensitif bagi perempuan

Psikolog Indah Sundari Jayanti, M.Psi, menilai respons Jessica terhadap sisi sensitifnya sudah tepat. Menurutnya, perempuan tidak perlu merasa malu saat menunjukkan kerentanan. Justru dari situ, kekuatan diri dapat tumbuh dengan lebih sehat dan utuh.

Ia menjelaskan bahwa sensitivitas bukan kelemahan yang harus disembunyikan. Ketika perempuan mampu mengakui perasaan, mencari dukungan, dan memiliki ruang aman untuk berekspresi, proses pemulihan bisa berjalan lebih baik. Sikap itu juga membantu seseorang memahami dirinya dengan lebih jernih.

Dalam pandangan psikolog, keterbukaan seperti yang ditunjukkan Jessica dapat memberi contoh positif bagi banyak perempuan. Pengalaman pahit tetap bisa diubah menjadi pelajaran berharga jika dihadapi dengan kesadaran. Dari sana, sensitivitas dapat menjadi kekuatan yang menguatkan langkah ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!