Jessica Iskandar Ungkap Fase Terkelam dalam Hidupnya

Lifestyle Anindya Kirana Putri 30 Mei 2026 05:03 WIB 7
Jessica Iskandar Ungkap Fase Terkelam dalam Hidupnya

Jessica Iskandar akhirnya buka suara tentang fase paling kelam dalam hidupnya, saat ia kehilangan arah dan mengalami mental breakdown. Pengakuan itu disampaikan dalam acara SOS: Strength of Sensitivity bersama AVEENO di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Jumat, 17 April 2026. Dalam kesempatan tersebut, artis 38 tahun itu berbagi pengalaman pribadi yang selama ini tidak mudah ia ceritakan. Ia menilai, keterbukaan menjadi langkah penting untuk pulih dari masa-masa terberat.

Di balik citra ceria yang selama ini terlihat di depan publik, Jessica mengaku pernah berada di titik terendah dan kehilangan diri sendiri. Tekanan dari luar, komentar orang, hingga pengalaman hidup yang berat membuat kondisi mentalnya semakin terpuruk. Ia pun menceritakan bagaimana proses itu membekas dan memengaruhi caranya memandang diri sendiri. Pengalaman tersebut kini ia jadikan pelajaran untuk lebih jujur terhadap perasaan sendiri.

Kesehatan mental Jessica Iskandar

Jessica Iskandar mengakui bahwa masa paling gelap dalam hidupnya tidak datang secara tiba-tiba. Ia merasa kehilangan arah, kehilangan kendali, dan sulit memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya. Dalam situasi itu, ia bahkan merasa seperti tidak mengenal dirinya sendiri. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental sejak dini.

Menurut Jessica, momen itu menjadi ujian besar yang tidak mudah dijalani seorang diri. Ia mengaku sempat menahan banyak perasaan karena merasa harus tetap terlihat kuat. Padahal, tekanan yang datang dari luar justru membuat beban emosionalnya semakin berat. Kondisi itu akhirnya mendorongnya untuk mencari cara agar bisa bertahan.

Jessica juga menyoroti betapa besar pengaruh ucapan orang terhadap kondisi psikologis seseorang. Ia merasa dihakimi sebelum sempat memaafkan dirinya sendiri. Situasi tersebut membuat luka batin yang ia simpan menjadi semakin dalam. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa kesehatan mental perlu dijaga dengan perhatian yang serius.

Tekanan publik yang dirasakan

Selama ini, publik kerap melihat Jessica sebagai sosok yang ceria dan penuh kebahagiaan. Namun di balik penampilannya, ada pengalaman pribadi yang cukup berat untuk dijalani. Ia pernah menghadapi perceraian, kegagalan dalam hubungan, hingga kerugian besar akibat penipuan. Semua pengalaman itu meninggalkan bekas emosional yang tidak ringan.

Tekanan publik menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi mentalnya saat itu. Komentar, penilaian, dan bisikan orang lain membuatnya semakin sulit menenangkan diri. Jessica mengatakan bahwa luka tersebut tidak hanya berasal dari masalah pribadi, tetapi juga dari pandangan orang terhadap kehidupannya. Hal itu membuat proses pemulihannya menjadi lebih panjang.

Meski demikian, Jessica kini memilih untuk bersikap terbuka terhadap perasaannya sendiri. Ia tidak lagi menutup-nutupi masa lalu yang pernah membuatnya rapuh. Baginya, kejujuran adalah langkah awal untuk membangun kembali kekuatan diri. Dengan cara itu, ia berharap dapat melewati beban emosional dengan lebih sehat.

Cara Jessica mencari pulih

Dalam sesi berbagi tersebut, Jessica menjelaskan ada dua langkah yang ia lakukan untuk menghadapi masa sulitnya. Pertama, ia mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai sumber kekuatan utama. Kedua, ia mencari tempat aman untuk bercerita dan menumpahkan isi hati. Menurutnya, dua hal itu sangat membantu proses pemulihan mentalnya.

Jessica menilai berbagi beban dengan orang yang tepat dapat membuat hati terasa lebih ringan. Ia percaya bahwa masalah sebesar apa pun tidak selalu harus dipikul sendirian. Ketika seseorang berani membuka diri, perlahan beban emosional bisa berkurang. Dari pengalaman itu, ia menemukan kembali harapan untuk bangkit.

Ia juga menegaskan bahwa dukungan dari lingkungan yang aman sangat penting dalam proses pemulihan. Tanpa ruang aman, seseorang akan semakin sulit mengenali dan menerima perasaannya sendiri. Jessica berharap pengalamannya dapat menjadi pengingat bagi banyak orang. Bahwa meminta bantuan bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari keberanian.

Perspektif psikolog tentang sensitivitas

Psikolog Indah Sundari Jayanti, M.Psi, menilai cara Jessica merespons sisi sensitifnya sudah tepat. Menurutnya, perempuan tidak perlu merasa malu ketika memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi. Sensitif bukan berarti lemah, melainkan bisa menjadi pintu untuk memahami diri lebih dalam. Jika dikelola dengan baik, sensitivitas justru dapat menjadi kekuatan.

Indah menjelaskan bahwa perempuan yang mampu mengakui perasaannya akan lebih mudah mencari dukungan yang dibutuhkan. Ruang aman untuk berekspresi juga membantu seseorang mengenali emosi tanpa rasa takut dihakimi. Dari sana, proses pemulihan bisa berjalan lebih sehat dan terarah. Hal ini penting agar beban mental tidak terus dipendam sendirian.

Ia menambahkan bahwa sensitivitas dapat membantu seseorang tumbuh lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup. Ketika emosi diakui, dukungan diterima, dan diri sendiri dipahami, ketahanan mental akan terbentuk lebih baik. Pandangan ini sejalan dengan pengalaman Jessica yang kini lebih terbuka terhadap perasaannya. Kisah tersebut menunjukkan bahwa kekuatan sering kali lahir dari kerentanan yang dihadapi dengan jujur.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!