Jessica Iskandar Buka Suara soal Mental Breakdown

Lifestyle Nadia Safira Putri 23 Mei 2026 04:21 WIB 7
Jessica Iskandar Buka Suara soal Mental Breakdown

Jessica Iskandar akhirnya membuka kisah paling kelam dalam hidupnya, saat ia merasa kehilangan arah dan mengalami mental breakdown. Pengakuan itu ia sampaikan di acara SOS: Strength of Sensitivity bersama AVEENO di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (17/4/2026). Dalam kesempatan tersebut, artis 38 tahun itu menuturkan bahwa masa itu menjadi titik terendah yang membuatnya merasa kehilangan diri sendiri. Kisah ini menyoroti pentingnya kesehatan mental, terutama ketika seseorang berada di bawah tekanan publik.

Di balik citra ceria yang selama ini terlihat di hadapan publik, Jessica mengakui bahwa ia pernah memendam luka yang cukup dalam. Pengalaman perceraian, kegagalan hubungan, hingga persoalan pribadi membuat beban yang ia tanggung semakin berat. Ia menyebut tekanan dari luar ikut memperburuk kondisinya pada saat itu. Dalam momen paling sensitif, ia merasa dihakimi sebelum sempat memaafkan dirinya sendiri.

Mental Breakdown Jessica Terbuka

Jessica menyebut fase itu sebagai periode ketika ia benar-benar kehilangan arah. Ia tidak hanya berhadapan dengan masalah pribadi, tetapi juga dengan penilaian orang lain. Situasi tersebut membuat pikirannya semakin penuh dan emosinya sulit terkendali. Karena itu, ia kini memilih untuk lebih jujur tentang apa yang pernah dialaminya.

Menurut pengakuannya, membuka cerita bukan perkara mudah. Ia membutuhkan keberanian besar untuk mengakui bahwa dirinya pernah berada di titik paling gelap. Namun, keputusan itu ia ambil agar tidak terus memendam beban sendirian. Bagi Jessica, kejujuran menjadi langkah awal untuk memulihkan diri.

Pengalaman tersebut juga membuatnya lebih memahami pentingnya menerima kondisi diri. Ia menilai setiap orang bisa jatuh pada fase rapuh, termasuk mereka yang terlihat kuat dari luar. Karena itu, ia tidak ingin menutupi perasaannya hanya demi terlihat baik-baik saja. Sikap terbuka disebutnya sebagai bagian dari proses penyembuhan.

Dukungan Iman dan Ruang Aman

Jessica menegaskan bahwa langkah pertama untuk bangkit adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Baginya, hubungan spiritual memberi ketenangan saat pikiran terasa penuh. Ia merasa doa menjadi penopang penting ketika hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dari situ, ia perlahan belajar menerima keadaan yang pernah membuatnya jatuh.

Selain itu, ia menekankan pentingnya memiliki tempat aman untuk bercerita. Menurutnya, berbagi masalah kepada orang yang tepat dapat meringankan beban batin. Ia percaya, ketika masalah yang besar dibagikan, perasaan sesak akan berangsur berkurang. Ruang aman juga membuat seseorang lebih leluasa menata ulang pikirannya.

Ia menganggap dukungan emosional sama pentingnya dengan keteguhan diri. Tanpa tempat yang aman, seseorang cenderung memendam luka lebih lama. Jessica menilai banyak orang sebenarnya membutuhkan pendengar, bukan penilaian. Karena itu, ia ingin pengalaman pribadinya menjadi pengingat agar orang lain tidak ragu mencari bantuan.

Pandangan Psikolog tentang Sensitivitas

Psikolog Indah Sundari Jayanti, M.Psi, menilai cara Jessica merespons sisi sensitifnya sudah tepat. Ia menjelaskan bahwa perempuan tidak perlu merasa malu ketika menunjukkan sensitivitas. Menurutnya, kemampuan merasakan emosi justru bisa menjadi kekuatan. Dari sana, seseorang dapat lebih mengenali kebutuhan dan batas dirinya.

Indah menilai, pengakuan terhadap perasaan adalah langkah penting dalam menjaga kesehatan mental. Saat seseorang berani mengakui rasa sakit, proses pemulihan dapat berjalan lebih sehat. Dukungan dari lingkungan juga memegang peran besar dalam tahap ini. Karena itu, ruang aman perlu hadir bagi siapa pun yang sedang rapuh.

Ia menambahkan bahwa sensitivitas bukan kelemahan yang harus disembunyikan. Justru melalui sensitivitas, seseorang dapat belajar memahami diri sendiri dengan lebih dalam. Ketika emosi diterima, kekuatan untuk bangkit biasanya ikut tumbuh. Pandangan ini sejalan dengan pesan Jessica tentang pentingnya jujur terhadap perasaan.

Pelajaran untuk Publik

Kisah Jessica Iskandar memberi gambaran bahwa tekanan hidup dapat dialami siapa saja. Kehidupan yang tampak bahagia di luar belum tentu mencerminkan kondisi batin yang sebenarnya. Karena itu, publik perlu lebih berhati-hati dalam menilai seseorang. Empati menjadi hal penting agar orang yang sedang rapuh tidak semakin terbebani.

Pengakuan terbuka tentang kesehatan mental juga membantu mengurangi stigma di masyarakat. Ketika figur publik berbicara jujur, pesan yang disampaikan sering lebih mudah diterima. Hal ini dapat mendorong orang lain untuk lebih berani mencari pertolongan. Dengan begitu, kesadaran tentang kesehatan mental bisa tumbuh lebih luas.

Bagi Jessica, perjalanan pulih tidak datang dalam waktu singkat. Ia masih terus belajar menerima masa lalu dan menata kehidupannya dengan lebih tenang. Namun, keberaniannya berbagi cerita menunjukkan bahwa proses bangkit selalu mungkin dilakukan. Dari pengalaman itu, ia ingin banyak orang sadar bahwa meminta bantuan bukanlah kelemahan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!