Jeroan Saat Idul Adha Bisa Picu Kolesterol dan Asam Urat

Lifestyle Clara Monica 02 Juni 2026 16:17 WIB 2
Jeroan Saat Idul Adha Bisa Picu Kolesterol dan Asam Urat

Saat Idul Adha, olahan jeroan seperti sate hati, gulai babat, hingga paru goreng kerap menjadi hidangan favorit di banyak rumah. Namun, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko kolesterol dan asam urat, terutama jika porsi makan tidak dikendalikan.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menjelaskan bahwa bagian hewan yang paling berisiko memang berasal dari jeroan. Meski demikian, daging biasa tidak otomatis berbahaya bila dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diolah dengan tepat.

Jeroan dan risiko kesehatan

Menurut dr Aru, jeroan merupakan bagian yang paling berpotensi meningkatkan kolesterol dan asam urat dibandingkan daging biasa. Hal ini berkaitan dengan kandungan purin yang lebih tinggi pada organ dalam hewan. Karena itu, jeroan perlu dibatasi, terutama oleh orang yang memiliki riwayat gangguan metabolik.

Ia menegaskan bahwa konsumsi daging biasa tidak selalu memicu masalah kesehatan jika porsinya terkontrol. Meski begitu, daging tetap dapat meningkatkan kolesterol dan asam urat bila dikonsumsi secara berlebihan. Situasi ini sering terjadi ketika masyarakat makan lebih banyak selama perayaan Idul Adha.

Dr Aru mengingatkan bahwa risiko muncul bukan hanya dari jenis makanan, tetapi juga dari kebiasaan makan yang tidak seimbang. Ketika jeroan dan daging disantap dalam porsi besar, tubuh akan menerima beban yang lebih berat. Kondisi tersebut dapat memperburuk kadar kolesterol maupun asam urat pada sebagian orang.

Purin pada makanan hewani

Temuan itu sejalan dengan riset yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of the Rheumatic Diseases. Penelitian tersebut menyebut makanan tinggi purin dari sumber hewani dapat meningkatkan risiko serangan gout berulang hingga hampir lima kali lipat. Jeroan termasuk dalam kelompok makanan yang dianalisis karena kandungan purinnya yang tinggi.

Purin merupakan senyawa yang ketika dipecah tubuh dapat menghasilkan asam urat. Jika asupan purin terlalu besar, kadar asam urat dalam darah dapat meningkat dan memicu keluhan pada sendi. Pada orang yang sensitif, kondisi ini dapat memunculkan nyeri dan pembengkakan yang mengganggu aktivitas.

Karena itu, pemilihan bahan makanan menjadi penting saat menikmati hidangan Idul Adha. Jeroan sebaiknya tidak dijadikan konsumsi harian, apalagi dalam jumlah besar. Mengatur frekuensi makan dapat membantu menekan risiko gangguan kesehatan yang muncul kemudian hari.

Cara makan saat Idul Adha

Dr Aru menekankan bahwa konsep makan saat Lebaran Haji tetap harus seperti biasa, yakni tidak berlebihan. Pola makan yang moderat akan membantu tubuh memproses makanan dengan lebih baik. Dengan begitu, kenikmatan hidangan tetap bisa dirasakan tanpa memicu masalah kesehatan.

Masyarakat juga disarankan menyeimbangkan konsumsi daging dengan sayur dan sumber serat lain. Cara ini dapat membantu menjaga pencernaan sekaligus menekan beban metabolik tubuh. Selain itu, pilihan cara masak juga berpengaruh pada kadar lemak dalam makanan.

Olahan yang terlalu banyak santan atau minyak sebaiknya dibatasi jika ingin menjaga kesehatan. Memasak dengan cara direbus, dipanggang, atau ditumis ringan dapat menjadi alternatif yang lebih aman. Langkah sederhana ini membantu masyarakat tetap menikmati hidangan Idul Adha secara lebih bijak.

Kelompok yang perlu waspada

Orang dengan riwayat kolesterol tinggi, asam urat, atau gangguan metabolik lain perlu lebih berhati-hati saat mengonsumsi jeroan. Mereka sebaiknya memperhatikan porsi, frekuensi, dan cara pengolahan makanan yang dipilih. Bila perlu, konsumsi jeroan dibatasi hanya sesekali dalam jumlah kecil.

Kewaspadaan juga penting bagi mereka yang pernah mengalami nyeri sendi berulang. Pada kelompok ini, makanan tinggi purin dapat memperbesar peluang kekambuhan gejala. Pemeriksaan ke dokter diperlukan bila muncul keluhan setelah mengonsumsi makanan tertentu.

Perayaan Idul Adha tetap dapat dinikmati tanpa mengabaikan kesehatan tubuh. Kuncinya adalah mengenali batas konsumsi dan tidak menjadikan jeroan sebagai makanan utama. Dengan pola makan yang wajar, masyarakat tetap bisa menikmati momen kebersamaan secara aman dan nyaman.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!