Jeroan saat Idul Adha Bisa Picu Kolesterol

Lifestyle Anindya Kirana Putri 30 Mei 2026 18:43 WIB 2
Jeroan saat Idul Adha Bisa Picu Kolesterol

Jeroan seperti sate hati, gulai babat, dan paru goreng kerap menjadi sajian favorit saat Idul Adha karena rasanya yang khas dan mudah diolah. Namun, konsumsi berlebihan dapat memicu peningkatan kolesterol dan asam urat, terutama pada orang yang memiliki riwayat gangguan metabolik. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa jeroan memang termasuk bagian hewan yang paling berisiko.

Menurut dr Aru, daging biasa tidak otomatis berbahaya selama dikonsumsi dalam jumlah wajar. Risiko justru meningkat ketika masyarakat makan tanpa kendali pada momen Idul Adha, saat menu daging dan jeroan hadir dalam porsi besar. Kondisi ini diperkuat oleh riset yang menunjukkan makanan tinggi purin dari sumber hewani dapat meningkatkan risiko serangan gout berulang secara signifikan.

Jeroan dan Risiko Asam Urat

Jeroan dikenal memiliki kandungan purin yang lebih tinggi dibanding daging biasa. Saat purin dipecah tubuh, zat itu dapat berubah menjadi asam urat. Jika kadarnya terlalu tinggi, risiko nyeri sendi dan serangan gout ikut meningkat.

dr Aru menjelaskan bahwa bagian hewan yang paling berisiko meningkatkan kolesterol dan asam urat adalah jeroan. Karena itu, konsumsi hati, babat, limpa, atau paru perlu dibatasi. Risiko akan semakin besar bila porsi yang dimakan terlalu banyak dalam satu waktu.

Temuan itu sejalan dengan studi yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of the Rheumatic Diseases. Penelitian tersebut menyebut konsumsi makanan tinggi purin dari sumber hewani dapat meningkatkan risiko serangan gout berulang hingga hampir lima kali lipat. Dalam analisisnya, organ meats atau jeroan termasuk kelompok makanan yang diperhatikan secara khusus.

Daging Biasa Tetap Wajar

Berbeda dengan jeroan, daging biasa dinilai tidak terlalu berisiko bila dikonsumsi secara wajar. Meski tetap mengandung lemak dan purin, dampaknya tidak setinggi organ dalam hewan. Karena itu, pilihan menu tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.

dr Aru menegaskan bahwa daging tidak selalu menjadi masalah utama. Yang sering memicu keluhan adalah kebiasaan makan berlebihan, terutama saat perayaan besar. Dalam situasi seperti itu, tubuh menerima asupan yang jauh lebih besar dari kebutuhan harian.

Ia menekankan pentingnya menjaga pola makan seperti biasa meski suasana Idul Adha identik dengan olahan daging. Porsi yang seimbang akan membantu tubuh tetap nyaman dan metabolisme tidak bekerja terlalu berat. Langkah sederhana ini dapat menekan risiko peningkatan kolesterol dan asam urat.

Cara Aman Menyantap Jeroan

Masyarakat disarankan untuk mengatur porsi jeroan agar tidak dikonsumsi terlalu sering. Cara ini penting terutama bagi penderita kolesterol tinggi, asam urat, atau gangguan jantung. Bila ingin menikmati, sebaiknya jeroan tidak menjadi menu utama dalam jumlah besar.

Pengolahan makanan juga perlu diperhatikan agar tidak menambah beban lemak. Metode memasak yang lebih ringan dapat membantu menekan risiko kesehatan. Sebaliknya, olahan bersantan pekat atau digoreng berulang sebaiknya dibatasi.

Selain itu, konsumsi air putih dan sayur dapat membantu menyeimbangkan pola makan saat Idul Adha. Aktivitas fisik ringan juga bermanfaat untuk menjaga metabolisme tubuh tetap stabil. Dengan kebiasaan yang tepat, hidangan khas perayaan tetap bisa dinikmati tanpa berlebihan.

Perhatikan Batas Konsumsi

Risiko kesehatan dari jeroan tidak hanya bergantung pada jenis makanannya, tetapi juga frekuensi konsumsi. Semakin sering dikonsumsi dalam porsi besar, semakin tinggi peluang gangguan metabolik muncul. Karena itu, pengendalian diri menjadi kunci utama saat menghadapi limpahan hidangan Idul Adha.

Bagi masyarakat yang sudah memiliki riwayat asam urat, kolesterol tinggi, atau hipertensi, kehati-hatian perlu ditingkatkan. Mereka disarankan lebih memilih potongan daging tanpa lemak dan membatasi jeroan seminimal mungkin. Jika keluhan muncul setelah makan, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.

Perayaan Idul Adha tetap dapat dinikmati dengan bijak tanpa mengorbankan kesehatan. Prinsip utamanya adalah makan secukupnya, memilih olahan yang lebih aman, dan tidak menjadikan jeroan sebagai konsumsi utama. Dengan cara itu, tradisi kuliner tetap berjalan, sementara tubuh tetap terlindungi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!