Momen Idul Adha kerap dimanfaatkan banyak orang untuk menyantap olahan daging dan jeroan, mulai dari sate hati, gulai kikil, paru goreng, usus, hingga babat. Namun, di balik cita rasa gurih yang menggoda, konsumsi jeroan secara berlebihan dapat memberi beban pada tubuh, terutama pada fungsi hati dan ginjal.
Jeroan memang mengandung nutrisi penting seperti zat besi, vitamin B12, dan protein. Meski demikian, organ dalam hewan juga memiliki kadar kolesterol, purin, dan lemak yang cukup tinggi, sehingga perlu dibatasi agar tidak memicu gangguan kesehatan.
Jeroan dan risiko asam urat
Menurut dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, konsumsi jeroan yang berlebihan dapat menyebabkan peningkatan asam urat dalam tubuh. Kondisi ini terjadi karena kandungan purin pada jeroan dapat diubah menjadi asam urat oleh tubuh.
Ketika kadar asam urat menumpuk di dalam darah, risiko gangguan sendi ikut meningkat. Keluhan yang muncul dapat berupa nyeri, bengkak, dan peradangan pada persendian.
Dalam jangka panjang, penumpukan asam urat tidak hanya berdampak pada sendi, tetapi juga dapat mengganggu organ lain seperti ginjal. Karena itu, konsumsi jeroan sebaiknya tidak dilakukan tanpa kendali.
Jeroan dan kesehatan ginjal
Ginjal berperan penting dalam menyaring zat sisa dari darah, termasuk asam urat. Jika asupan jeroan terlalu tinggi, beban kerja ginjal dapat meningkat.
Salah satu risiko yang dapat muncul adalah batu asam urat, yakni kristal keras yang terbentuk saat urine terlalu asam dan mengandung kadar asam urat tinggi. Kondisi ini dapat menimbulkan nyeri hebat di pinggang, mual, dan gangguan buang air kecil.
Selain batu ginjal, gangguan lain juga bisa terjadi jika pola makan tidak dijaga dengan baik. Karena itu, penderita gangguan ginjal atau riwayat batu ginjal perlu lebih berhati-hati saat mengonsumsi jeroan.
Nutrisi jeroan yang perlu dibatasi
Jeroan memang bukan makanan yang sepenuhnya buruk, sebab di dalamnya terkandung sejumlah nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Zat besi membantu pembentukan sel darah merah, sementara vitamin B12 berperan dalam fungsi saraf dan produksi energi.
Meski begitu, kandungan kolesterol, lemak, dan purin pada jeroan membuat porsinya harus dikontrol. Jika dikonsumsi terlalu sering, manfaat nutrisinya tidak sebanding dengan risiko yang dapat muncul.
Karena itu, jeroan sebaiknya diposisikan sebagai makanan selingan, bukan hidangan utama yang dikonsumsi berulang. Pola makan seimbang tetap menjadi kunci agar tubuh tidak terbebani oleh asupan berlebih.
Cara aman makan jeroan
Masyarakat disarankan mengonsumsi jeroan dalam jumlah terbatas, terutama saat perayaan Idul Adha yang identik dengan hidangan berlemak. Memperbanyak sayur, buah, dan air putih dapat membantu menyeimbangkan asupan harian.
Pengolahan jeroan juga sebaiknya dilakukan dengan cara yang lebih sehat, misalnya tidak terlalu banyak menggunakan santan atau minyak. Cara memasak yang tepat dapat membantu menekan tambahan lemak berlebih pada makanan.
Orang dengan riwayat asam urat, batu ginjal, atau gangguan metabolik dianjurkan berkonsultasi sebelum mengonsumsi jeroan. Dengan pola makan yang bijak, momen Idul Adha tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan.
