Jejouw Ikut Lelang Barang Rampasan Harvey Moeis di BPA Fair

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 26 Mei 2026 13:33 WIB 3
Jejouw Ikut Lelang Barang Rampasan Harvey Moeis di BPA Fair

Badan Pemulihan Aset Kejaksaan RI menggelar lelang barang rampasan perkara korupsi dalam ajang BPA Fair 2026 di Gedung BPA Kejaksaan RI, Kebagusan, Jakarta Selatan, Kamis (21/5/2026). Sejumlah barang mewah milik Harvey Moeis dan istrinya, Sandra Dewi, turut dilelang dan menyedot perhatian publik. Selebgram sekaligus pengusaha fesyen Jeffry Jouw, yang akrab disapa Jejouw, hadir langsung untuk melihat proses pelelangan tersebut. Kehadirannya menambah sorotan terhadap tingginya minat masyarakat pada barang sitaan yang dinilai masih terawat.

Jejouw mengaku datang karena penasaran dengan barang-barang rampasan yang selama ini ramai diperbincangkan publik. Ia menilai koleksi yang dilelang, terutama mobil dan motor, terlihat menarik dan berada dalam kondisi baik. Menurut dia, pengalaman melihat langsung barang hasil sitaan itu memberikan gambaran berbeda dibandingkan sekadar mendengar kabar di media sosial. Ia juga menyebut antusiasme peserta lelang cukup tinggi sejak proses dimulai.

Lelang Barang Rampasan Diminati

Jejouw mengatakan dirinya tertarik mengikuti lelang karena ingin mencari barang berkualitas dengan harga yang lebih rendah. Namun, ia justru mendapati bahwa beberapa barang incaran melesat jauh di atas perkiraan awal. Salah satu yang paling menarik perhatiannya adalah motor Harley Davidson yang akhirnya terjual dengan nilai mendekati Rp900 juta. Ia mengaku sempat menyiapkan patokan harga di kisaran Rp700 jutaan, tetapi pasar bergerak jauh lebih agresif.

Menurut Jejouw, proses lelang berjalan cukup dinamis karena banyak peserta bersaing pada barang yang dianggap bernilai tinggi. Ia menyebut kenaikan harga berlangsung cepat dan membuatnya gagal mendapatkan unit yang diincar. Meski kalah dalam bidding, ia menilai hal itu wajar karena minat peserta memang sangat besar. Dari pengamatannya, barang rampasan dengan merek premium tetap memiliki daya tarik kuat di pasar lelang.

Jejouw juga menjelaskan bahwa peserta lelang dapat mengikuti proses secara resmi setelah membuat akun dan registrasi melalui bank yang ditunjuk. Skema tersebut, menurut dia, cukup mudah dipahami dan memberi kesempatan yang sama bagi masyarakat yang ingin ikut serta. Ia menilai mekanisme itu penting agar proses pelelangan berlangsung transparan dan tertib. Dengan prosedur yang jelas, publik dapat melihat bahwa aset rampasan dijual melalui jalur yang sah.

Selain Harley Davidson, Jejouw sempat melirik mobil McLaren yang juga dilelang dalam acara tersebut. Namun, kendaraan itu pun tidak berhasil ia bawa pulang karena harganya melonjak tinggi seiring tingginya minat peserta. Ia mengatakan barang-barang premium seperti itu memang cepat memancing persaingan. Situasi tersebut membuatnya harus puas hanya sebagai pengamat dalam lelang kali ini.

Barang Mewah Sandra Dewi Disorot

Di lokasi lelang, Jejouw juga sempat melihat koleksi barang mewah yang dikaitkan dengan Sandra Dewi. Ia mengaku datang dengan rasa penasaran karena nama Harvey Moeis dan Sandra Dewi sebelumnya ramai diperbincangkan publik. Namun, saat tiba di lokasi, sebagian barang yang ingin dilihat disebut sudah terjual habis. Kondisi itu membuatnya tidak sempat menilai seluruh koleksi secara langsung.

Meski begitu, Jejouw mengaku masih sempat menyaksikan beberapa barang yang dipajang dalam kondisi baik. Ia menilai barang-barang tersebut tampak terawat dan layak dilelang kepada masyarakat. Menurut dia, kesan visual yang ditampilkan justru memperlihatkan bahwa aset itu memiliki nilai jual tinggi. Hal itu sekaligus menjawab rasa penasarannya terhadap barang-barang yang selama ini banyak dibicarakan.

Jejouw sempat melontarkan candaan saat menanggapi pertanyaan soal barang milik Sandra Dewi yang dilelang. Ia menyebut situasi tersebut sebagai bagian dari pengalaman unik ketika menyaksikan pelelangan aset rampasan negara. Candaan itu mencairkan suasana di tengah perhatian besar publik terhadap isi lelang. Namun, ia tetap menegaskan bahwa ketertarikannya murni karena ingin melihat barang yang ramai diberitakan.

Menurut Jejouw, barang-barang yang tampil dalam lelang memang memiliki kualitas yang baik dan terlihat dirawat dengan serius. Ia menilai hal itu menjadi salah satu alasan mengapa banyak peserta bersedia menawar tinggi. Di sisi lain, keberadaan barang-barang tersebut juga menunjukkan besarnya nilai aset yang berhasil disita dari perkara korupsi. Publik pun mendapat gambaran bahwa aset rampasan negara dapat memiliki pasar yang sangat aktif.

Harga Tinggi Jadi Kendala

Jejouw mengaku semula berharap bisa mendapatkan barang incaran dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar. Ia menilai barang lelang identik dengan peluang berburu nilai ekonomis, terutama bagi pembeli yang sabar membaca situasi. Namun, dalam pelelangan kali ini, ekspektasinya tidak sepenuhnya terpenuhi. Lonjakan harga membuat sejumlah aset premium justru semakin sulit dijangkau.

Ia menyebut harga Harley Davidson yang awalnya dipatok di kisaran Rp700 juta kemudian melesat hingga hampir Rp900 juta. Menurut dia, kenaikan tersebut menunjukkan antusiasme masyarakat yang sangat tinggi terhadap barang lelang. Ia pun tidak menampik bahwa persaingan harga membuat proses bidding berlangsung ketat. Pada akhirnya, ia harus mengalah dari peserta lain yang berani menawar lebih tinggi.

Keinginan Jejouw untuk membawa pulang McLaren juga berakhir sama. Mobil sport tersebut disebut ikut menjadi komoditas panas dalam lelang dan cepat menaikkan harga. Ia menilai hal itu menandakan barang mewah tetap memiliki daya tarik besar, meski berasal dari aset rampasan. Dalam situasi seperti itu, pembeli harus benar-benar siap dengan strategi dan dana yang memadai.

Meski gagal membeli, Jejouw mengaku pengalaman mengikuti lelang tetap berkesan. Baginya, melihat langsung dinamika penawaran jauh lebih menarik daripada hanya membaca daftar barang yang dilelang. Ia menilai acara seperti BPA Fair memberi ruang bagi masyarakat untuk memahami proses pemulihan aset negara. Pada saat yang sama, ajang ini memperlihatkan bahwa pasar lelang bisa bergerak sangat kompetitif.

Jadi Pelajaran Soal Bisnis Bersih

Jejouw menilai barang rampasan dari kasus korupsi seharusnya menjadi pengingat bagi publik agar tidak menempuh jalan yang salah. Ia mengatakan siapa pun yang bekerja dan berbisnis semestinya mencari uang dengan cara yang bersih dan halal. Menurut dia, kasus seperti ini memang menyedihkan, tetapi bisa menjadi pelajaran yang bernilai. Pesan itu ia sampaikan sambil menegaskan bahwa hasil rampasan negara bukan sesuatu yang patut ditiru.

Ia juga menyinggung bahwa pelelangan aset sitaan seharusnya dibaca sebagai konsekuensi dari perbuatan melawan hukum. Karena itu, publik diharapkan tidak hanya melihat sisi mewah dari barang yang dilelang. Lebih dari itu, ada pesan moral tentang risiko besar dari tindakan korupsi yang merugikan banyak pihak. Jejouw menilai pesan tersebut penting, terutama bagi pelaku usaha dan generasi muda.

Di tengah pengalamannya, Jejouw tetap menyimpan harapan bisa menemukan barang vintage dengan harga lebih bersahabat di kesempatan lain. Ia mengaku memang menyukai barang-barang lawas yang memiliki karakter dan nilai koleksi. Namun, pengalaman di BPA Fair membuatnya sadar bahwa barang premium bisa sangat kompetitif saat diminati banyak orang. Hal itu membuatnya lebih berhati-hati dalam menilai peluang di lelang berikutnya.

Jejouw pun menutup pengalamannya dengan nada santai, meski gagal mendapatkan barang incarannya. Ia menilai pelelangan barang rampasan tetap menarik untuk diikuti karena menghadirkan kombinasi antara nilai sejarah, ekonomi, dan pelajaran moral. Dari peristiwa itu, ia melihat bahwa harga, minat, dan reputasi barang dapat saling memengaruhi dalam satu ruang lelang. Bagi dirinya, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa aset sitaan negara tetap punya daya tarik besar di mata publik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!