Jasa titip atau jastip masih menjadi peluang usaha yang menarik di tengah perubahan tren belanja. Fristo Linanggeng bersama istrinya membuktikan hal itu lewat jastip jajanan Puncak, Bogor yang kini diminati banyak pelanggan.
Usaha tersebut bermula dari komentar iseng di media sosial, lalu berkembang menjadi layanan yang serius dijalankan selama enam bulan terakhir. Dari sate maranggi hingga jajanan khas Puncak, permintaan terus berdatangan karena banyak orang ingin menikmati makanan otentik tanpa harus datang langsung.
Awal Mula Usaha
Fristo mengaku ide jastip muncul saat dirinya membuat konten di media sosial ketika sedang berada di Puncak. Dari sekian banyak komentar, ada tiga orang yang menitipkan pesanan sate maranggi.
Pada awalnya, ia hanya menanggapi komentar itu sebagai bentuk interaksi biasa. Namun, karena semua permintaan itu langsung diiyakan, pesanan pun benar-benar diproses dan dikirimkan.
Respon tersebut kemudian mendorong Fristo untuk mencoba lagi membuat konten jastip di TikTok dan Instagram. Hasilnya, video yang diunggah ternyata mendapat perhatian besar dan memunculkan lebih banyak peminat.
Dari pengalaman itu, Fristo melihat adanya peluang usaha yang nyata. Ia lalu memutuskan untuk menjalankan jastip jajanan Puncak secara lebih serius.
Minat Konsumen Tinggi
Menurut Fristo, jajanan dari Puncak, Bogor memiliki daya tarik tersendiri karena dianggap khas dan otentik. Kondisi itu membuat banyak orang tertarik memesan meski tidak sedang berada di kawasan tersebut.
Ia menilai jastip makanan tidak hanya berlaku untuk produk luar daerah atau luar negeri. Justru, produk lokal yang punya ciri khas kuat juga mampu menarik pembeli.
Permintaan yang masuk pun terus bertambah seiring konten jastipnya menyebar di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa tren jastip masih relevan dan memiliki pasar yang jelas.
Dalam praktiknya, jastip makanan seperti ini memberi kemudahan bagi konsumen yang ingin menikmati produk populer tanpa repot datang langsung. Bagi pelaku usaha, model ini juga membuka jalan untuk memperoleh pemasukan tambahan.
Tekun Jalankan Dua Peran
Fristo saat ini tinggal sementara di Puncak, Bogor karena harus menemani orang tuanya. Meski begitu, ia sebenarnya berdomisili di Depok.
Ia tidak meninggalkan pekerjaan tetapnya di Jakarta. Karena itu, ia harus membagi waktu antara bekerja, mengurus pesanan, dan mengantar jastip kepada pelanggan.
Pola kegiatan tersebut membuat rutinitasnya cukup padat setiap hari. Namun, ia tetap menjalankan keduanya agar sumber penghasilannya tetap seimbang.
Bagi Fristo, kondisi itu memang menuntut tenaga ekstra. Meski demikian, ia melihat usaha jastip sebagai peluang yang layak dijaga selama masih ada permintaan.
Perjalanan Jadi Tantangan
Proses pengiriman jastip dari Puncak ke Jakarta tidak selalu mudah. Fristo kerap menempuh perjalanan jauh dengan motor, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api.
Ia menyebut waktu tempuh perjalanan bisa mencapai sekitar tiga jam. Jarak tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama saat harus menyesuaikan jam kerja dan waktu pengantaran.
Meski melelahkan, ia tetap menjalankan proses itu karena sudah menjadi bagian dari tanggung jawab kepada pelanggan. Ketepatan waktu dan kualitas pesanan menjadi hal yang dijaganya.
Pengalaman Fristo menunjukkan bahwa usaha kecil bisa berkembang jika dijalankan dengan konsisten. Jastip jajanan Puncak pun kini bukan lagi sekadar iseng, melainkan sumber cuan yang terus bertumbuh.
