Jastip Jajanan Puncak Jadi Peluang Cuan dari Konten Iseng

Lifestyle Nadia Safira Putri 26 Mei 2026 10:49 WIB 2
Jastip Jajanan Puncak Jadi Peluang Cuan dari Konten Iseng

Jasa titip atau jastip masih menjadi peluang bisnis yang menjanjikan, termasuk di sektor kuliner lokal. Di Puncak, Bogor, Fristo Linanggeng bersama istrinya memanfaatkan permintaan warganet untuk membuka jastip jajanan khas daerah tersebut.

Usaha yang berawal dari komentar iseng di media sosial itu kini telah berjalan selama enam bulan dan terus mendapat peminat. Selain menawarkan makanan otentik Puncak, model bisnis ini juga menunjukkan bahwa peluang cuan bisa lahir dari konten sederhana yang dikelola dengan konsisten.

Jastip Jajanan Puncak

Jastip jajanan Puncak menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin menikmati kuliner khas Bogor tanpa harus datang langsung. Produk yang ditawarkan tidak hanya sate maranggi, tetapi juga makanan lain yang identik dengan kawasan tersebut.

Fristo Linanggeng memulai layanan ini dari komentar tiga orang di konten media sosialnya saat berada di Puncak. Permintaan yang awalnya sederhana itu kemudian ia penuhi, lalu berkembang menjadi layanan yang lebih teratur.

Ia mengaku biasanya membaca satu per satu komentar yang masuk pada unggahan pribadi maupun kontennya. Dari situ, muncul permintaan titipan sate maranggi yang menjadi titik awal lahirnya usaha jastip ini.

Melihat antusiasme yang datang, Fristo kemudian menjadikan jastip tersebut sebagai layanan yang serius. Langkah itu membuktikan bahwa peluang bisnis bisa muncul dari interaksi kecil di media sosial.

Berawal Dari Komentar Warganet

Permintaan awal datang dari tiga orang yang menulis komentar dan ingin menitip sate maranggi. Fristo saat itu langsung menyetujui permintaan tersebut karena menganggapnya sekadar titipan biasa.

Setelah pesanan pertama berjalan, ia mencoba membuat konten jastip di TikTok dan Instagram. Respons yang diterima justru di luar dugaan, karena video tersebut ditonton banyak orang dan menarik minat calon pelanggan baru.

Menurut Fristo, semakin sering ia membahas jastip dalam konten, semakin besar pula jumlah permintaan yang masuk. Kondisi itu membuatnya melihat ada pasar yang nyata untuk produk kuliner khas Puncak.

Dari yang semula hanya iseng, usaha ini akhirnya berkembang menjadi kegiatan yang berkelanjutan. Ia pun mulai mengatur pola layanan agar pesanan dapat dipenuhi dengan lebih rapi.

Konsisten Meski Jarak Jauh

Fristo diketahui tinggal di Depok, sementara orang tuanya menetap di Puncak, Bogor. Karena harus menemani orang tuanya, ia kini sementara tinggal di kawasan tersebut.

Meski begitu, ia tetap tidak meninggalkan pekerjaan tetapnya di Jakarta. Setiap hari ia harus menempuh perjalanan pulang pergi untuk bekerja sekaligus mengirim pesanan jastip kepada pelanggan.

Perjalanan dari Puncak ke Jakarta ditempuh dengan kombinasi motor dan kereta. Total waktu yang dibutuhkan bisa mencapai sekitar tiga jam sekali jalan.

Kondisi itu membuatnya harus pandai membagi waktu antara pekerjaan utama dan usaha jastip. Namun, ia tetap menjalankannya karena permintaan pelanggan terus berdatangan.

Peluang Cuan Dari Kuliner

Fenomena jastip menunjukkan bahwa kuliner lokal juga memiliki daya jual yang kuat. Produk yang otentik dan sulit ditemukan di luar daerah asal cenderung lebih mudah menarik minat pembeli.

Dalam kasus Puncak, Bogor, makanan khas daerah menjadi nilai tambah yang membuat layanan titip semakin relevan. Pelanggan tidak hanya membeli makanan, tetapi juga pengalaman menikmati kuliner yang khas.

Model usaha seperti ini juga didorong oleh kekuatan media sosial sebagai etalase promosi. Konten yang sederhana, jika tepat sasaran, dapat berubah menjadi peluang bisnis yang menguntungkan.

Bagi Fristo, jastip bukan lagi sekadar kegiatan sambilan, melainkan usaha yang layak dijalankan dengan serius. Selama ada permintaan dan pengelolaan yang baik, peluang cuan dari jastip masih terbuka lebar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!