Jada Shafira Diterima di UI Usai Dua Kali Ditolak Unpad

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 11:26 WIB 5
Jada Shafira Diterima di UI Usai Dua Kali Ditolak Unpad

Kebahagiaan tengah dirasakan keluarga Mario Irwinsyah dan Ratu Anandita setelah putri sulung mereka, Jada Shafira, diterima sebagai mahasiswa baru Universitas Indonesia. Jada lolos di jurusan Ilmu Komunikasi setelah sebelumnya dua kali gagal pada seleksi Universitas Padjadjaran. Kisah ini menjadi sorotan karena memperlihatkan keteguhan Jada dalam menghadapi penolakan. Dukungan orang tua juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.

Jada mengungkapkan bahwa sebelum diterima di UI, ia sempat mencoba peruntungan di Unpad melalui jalur SNBP dan International Undergraduate Program. Namun, kedua upaya itu tidak membuahkan hasil. Meski sempat kecewa, ia tidak berhenti mencari peluang lain. Pada akhirnya, hasil seleksi justru membawanya ke kampus yang lebih dekat dengan rumah keluarga mereka.

Jada Shafira dan Unpad

Jada Shafira menceritakan bahwa ia sempat mendaftar ke Universitas Padjadjaran melalui jalur SNBP. Jalur tersebut dikenal memberi peluang bagi siswa dengan prestasi akademik yang baik sejak kelas 10. Namun, hasil seleksi tidak berpihak kepadanya. Ia mengaku sempat menerima penolakan dari jalur itu.

Setelah gagal di SNBP, Jada kembali mencoba lewat jalur International Undergraduate Program di jurusan Ilmu Komunikasi yang sama. Harapan untuk masuk ke Unpad kembali kandas. Penolakan itu membuatnya harus menyiapkan rencana cadangan. Situasi tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan masuk kuliah yang ia jalani.

Menurut Jada, dua kali kegagalan di Unpad justru memberinya pelajaran berharga. Ia menilai proses itu membuatnya lebih siap menerima hasil yang berbeda dari harapan awal. Di tengah situasi tersebut, ia tetap berusaha tenang. Sikap itu membantunya melangkah ke tahap berikutnya tanpa larut dalam kekecewaan.

Jada Shafira di UI

Setelah dua kali ditolak di Unpad, Jada akhirnya diterima di Universitas Indonesia. Ia lolos ke jurusan Ilmu Komunikasi yang sejak awal menjadi pilihannya. Kabar itu disambut syukur oleh keluarga. Bagi Jada, diterima di UI menjadi jawaban dari penantian panjangnya.

Jada mengatakan bahwa kampus yang ia tuju kini sesuai dengan keinginan keluarga. Lokasi UI yang lebih dekat dengan rumah menjadi salah satu pertimbangan utama. Hal itu membuat keputusan akhir terasa lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Ia pun mengaku bersyukur atas hasil seleksi tersebut.

Pencapaian ini menjadi penutup dari rangkaian seleksi yang sempat tidak berjalan mulus. Meski gagal dua kali, Jada berhasil mendapatkan tempat di perguruan tinggi negeri bergengsi. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kegagalan bukan akhir dari proses. Sebaliknya, kegigihan justru membuka jalan baru.

Jada Shafira dan Dukungan Keluarga

Mario Irwinsyah menilai diterimanya sang putri tidak lepas dari doa sang istri, Ratu Anandita. Ia menyebut keluarganya lebih banyak menyerahkan hasil terbaik kepada doa seorang ibu. Menurutnya, ikhtiar dan keyakinan berjalan beriringan dalam proses ini. Pandangan itu mencerminkan kuatnya peran keluarga dalam keputusan pendidikan Jada.

Ratu Anandita sejak awal memang berharap Jada kuliah di lokasi yang tidak terlalu jauh dari rumah. Ia menilai jarak dekat akan memudahkan aktivitas harian putrinya. Karena itu, UI dinilai sebagai pilihan yang lebih ideal. Pertimbangan tersebut juga berkaitan dengan kenyamanan dan efisiensi waktu tempuh.

Ratu bahkan menyebut dirinya lebih memilih Jada pulang pergi setiap hari ketimbang tinggal di kos. Ia menilai akses tol membuat perjalanan ke kampus menjadi lebih cepat. Dengan begitu, Jada tetap bisa berkuliah tanpa harus jauh dari keluarga. Keputusan itu memperlihatkan fokus orang tua pada kenyamanan dan keamanan anak.

Jada Shafira dan Harapan Baru

Kisah Jada Shafira memberi gambaran bahwa proses masuk perguruan tinggi tidak selalu berjalan mulus. Penolakan dari dua jalur seleksi tidak membuatnya berhenti mencoba. Ia justru menemukan hasil yang lebih sesuai melalui pilihan lain. Pengalaman ini menjadi contoh ketekunan bagi banyak calon mahasiswa.

Di sisi lain, dukungan orang tua terlihat menjadi faktor penting dalam perjalanan akademiknya. Mario dan Ratu memilih untuk mendampingi tanpa banyak menekan pilihan anak. Mereka fokus pada hasil terbaik yang dianggap paling cocok untuk keluarga. Pendekatan itu membantu Jada tetap tenang menghadapi proses seleksi.

Dengan diterimanya Jada di Universitas Indonesia, keluarga ini menatap fase baru yang lebih cerah. Jurusan Ilmu Komunikasi menjadi langkah awal bagi perjalanan akademiknya di kampus. Sementara itu, pengalaman gagal di Unpad akan menjadi cerita yang melekat dalam proses tumbuhnya. Kisah ini menunjukkan bahwa hasil terbaik kerap datang setelah beberapa kali mencoba.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!