Jada Shafira Diterima di UI Setelah Dua Kali Ditolak Unpad

Lifestyle Clara Monica 02 Juni 2026 02:21 WIB 3
Jada Shafira Diterima di UI Setelah Dua Kali Ditolak Unpad

Kebahagiaan tengah dirasakan keluarga Mario Irwinsyah dan Ratu Anandita setelah putri sulung mereka, Jada Shafira, diterima sebagai mahasiswa baru Universitas Indonesia. Jada lolos di jurusan Ilmu Komunikasi setelah sebelumnya dua kali gagal saat mendaftar ke Universitas Padjadjaran. Pengalaman itu ia sampaikan saat ditemui di Studio Trans TV, Jakarta Selatan, pada Jumat, 29 Mei 2026. Perjalanan ini menjadi sorotan karena memperlihatkan upaya, penolakan, dan akhirnya hasil yang sesuai harapan keluarga.

Sebelum diterima di UI, Jada sempat mencoba jalur SNBP dan International Undergraduate Program di Unpad untuk program studi yang sama. Namun, kedua kesempatan tersebut belum membuahkan hasil yang diinginkan. Di tengah kegagalan itu, ia tetap menyiapkan pilihan lain agar rencana kuliah tidak terhenti. Pada akhirnya, kampus negeri di Depok itu menjadi jawaban dari penantian panjangnya.

Perjalanan Kuliah Jada Shafira

Jada mengaku sempat menaruh harapan besar pada Unpad karena jurusan Ilmu Komunikasi menjadi pilihannya. Ia mengikuti jalur SNBP lebih dulu, dengan mengandalkan nilai rapor selama sekolah. Jalur itu diharapkan menjadi pintu masuk awal menuju kampus impian. Namun, hasil seleksi menunjukkan bahwa dirinya belum berhasil lolos.

Setelah gagal di jalur SNBP, Jada tidak langsung berhenti mencoba. Ia kembali mendaftar melalui jalur internasional atau International Undergraduate Program. Pilihan jurusan yang diambil tetap sama, yakni Ilmu Komunikasi. Meski sudah berusaha maksimal, hasilnya kembali belum memihak.

Kegagalan berulang itu menjadi pelajaran penting bagi Jada untuk menyiapkan rencana cadangan. Ia menyadari bahwa proses masuk perguruan tinggi tidak selalu berjalan mulus. Karena itu, ia tetap membuka kemungkinan di kampus lain yang dinilai cocok. Sikap tersebut membuatnya lebih siap saat kesempatan baru datang.

Dua Kali Ditolak Unpad

Dalam penjelasannya, Jada membeberkan bahwa dua penolakan dari Unpad datang melalui jalur yang berbeda. Seleksi pertama adalah SNBP, sedangkan yang kedua melalui IUP. Keduanya sama-sama mengarah ke jurusan Ilmu Komunikasi. Meski kecewa, ia mencoba tetap tenang menghadapi hasil tersebut.

Jada menyampaikan pengalaman itu dengan nada yang santai, tetapi tetap jujur mengenai proses yang dijalani. Ia menilai penolakan tersebut bukan akhir dari segalanya. Justru, momen itu membuatnya lebih memahami pentingnya menyiapkan alternatif. Dari situ, keluarga ikut membantu mencari pilihan terbaik berikutnya.

Menurut pengakuannya, masa menunggu hasil seleksi sempat membuatnya berpikir lebih realistis. Ia tidak ingin terlalu lama terjebak dalam satu harapan. Karena itu, ia mulai mempertimbangkan kampus lain yang lebih sesuai kondisi keluarga. Keputusan itu kemudian membuka jalan menuju Universitas Indonesia.

Diterima di Universitas Indonesia

Setelah dua kali gagal di Unpad, Jada akhirnya diterima di Universitas Indonesia. Jurusan yang dipilih pun tetap sejalan dengan minatnya, yakni Ilmu Komunikasi. Baginya, hasil ini menjadi kabar yang sangat melegakan. Selain sesuai keinginan, kampus tersebut juga dinilai lebih dekat dari rumah.

Jada menuturkan bahwa diterima di UI merupakan anugerah yang disyukuri keluarganya. Lokasi kampus di Depok dianggap lebih memudahkan mobilitas sehari-hari. Hal itu menjadi pertimbangan penting bagi orang tua. Karena itu, hasil seleksi ini disambut dengan rasa lega dan bahagia.

Keberhasilan masuk UI menunjukkan bahwa kegagalan di satu tempat tidak selalu menutup kesempatan lain. Bagi Jada, proses itu menjadi bagian dari perjalanan menuju masa depan akademik. Ia kini bersiap menapaki kehidupan kampus dengan semangat baru. Dukungan keluarga menjadi salah satu modal penting dalam langkah tersebut.

Dukungan Orang Tua Jada

Mario Irwinsyah menilai keberhasilan putrinya tidak lepas dari doa sang istri, Ratu Anandita. Ia menyebut doa seorang ibu memiliki kekuatan besar dalam keluarga. Menurutnya, keputusan terbaik sering kali datang bersama ikhtiar dan keyakinan. Karena itu, ia memilih menyerahkan hasil kepada doa yang terus dipanjatkan.

Ratu Anandita sejak awal memang menginginkan Jada kuliah di tempat yang lebih terjangkau dari rumah. Ia menilai jarak yang lebih dekat akan memudahkan aktivitas harian anaknya. Meski kampus tetap jauh bagi sebagian orang, akses tol membuat perjalanan dinilai lebih praktis. Pilihan itu juga dianggap tidak memberatkan Jada.

Rencana agar Jada pulang pergi dari rumah ke kampus menjadi keputusan keluarga yang dipertahankan. Ratu menilai tinggal di kos bukan pilihan utama selama perjalanan masih bisa ditempuh dengan nyaman. Dukungan tersebut memperlihatkan perhatian orang tua pada kondisi anak. Dengan restu keluarga, Jada kini memulai babak baru sebagai mahasiswa Universitas Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!