Intervensi Obligasi Rp 2 Triliun per Hari Baru Terserap Rp 600 Miliar

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 23 Mei 2026 14:21 WIB 6
Intervensi Obligasi Rp 2 Triliun per Hari Baru Terserap Rp 600 Miliar

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menyiapkan anggaran hingga Rp 2 triliun per hari untuk membeli obligasi negara dalam rangka menahan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Namun, dari target tersebut, dana yang terserap baru sekitar Rp 600 miliar, sehingga intervensi dinilai belum berjalan maksimal.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan serapan yang belum besar itu menunjukkan tekanan jual di pasar obligasi masih terbatas. Pada saat yang sama, dolar Amerika Serikat tetap menguat dan sempat menembus level Rp 17.705 per dolar AS pada perdagangan Selasa sore.

Intervensi pasar obligasi

Purbaya menyebut pemerintah mulai masuk ke pasar obligasi sejak Kamis pekan lalu. Langkah itu dilakukan untuk menjaga harga bond tetap terkendali di tengah tekanan pada rupiah.

Menurut dia, target pembelian sebesar Rp 2 triliun per hari sudah disiapkan sejak awal. Namun, realisasi pembelian pada hari terakhir hanya mencapai Rp 600 miliar.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan pelaku pasar yang melepas obligasi belum terlalu banyak. Karena itu, pemerintah belum melihat adanya tekanan yang cukup besar untuk melakukan langkah yang lebih agresif.

Pemerintah tetap memantau perkembangan pasar dari hari ke hari sebelum menentukan langkah lanjutan. Purbaya menegaskan kebijakan yang ditempuh saat ini masih bersifat penyesuaian bertahap.

Tekanan jual belum besar

Purbaya menilai rendahnya serapan dana menandakan minat jual di pasar obligasi relatif kecil. Dalam pandangannya, kondisi itu menjadi sinyal bahwa stabilitas pasar masih bisa dijaga.

Ia menegaskan pemerintah ingin memastikan harga obligasi negara tetap terkendali. Dengan begitu, gejolak di pasar keuangan tidak menambah tekanan pada nilai tukar rupiah.

Meski demikian, hasil intervensi tersebut belum terlihat signifikan pada pergerakan mata uang. Dolar AS masih menunjukkan penguatan dan membuat rupiah bergerak di kisaran Rp 17.700-an.

Purbaya mengatakan pemerintah akan melihat perkembangan lebih lanjut sebelum mengambil keputusan tambahan. Sikap itu diambil agar intervensi tetap efisien dan sesuai kebutuhan pasar.

Dolar AS masih kuat

Penguatan dolar AS terjadi di tengah upaya pemerintah menahan pelemahan rupiah melalui pasar obligasi. Kondisi tersebut membuat nilai tukar rupiah belum memperoleh dorongan yang kuat.

Pada perdagangan Selasa sore, dolar AS sempat bergerak menembus level Rp 17.705. Pergerakan itu menunjukkan tekanan eksternal terhadap rupiah masih cukup terasa.

Purbaya menyebut kebijakan stabilisasi ini dilakukan untuk meredam dampak penguatan dolar terhadap perekonomian domestik. Pemerintah, menurut dia, ingin menjaga volatilitas agar tidak semakin lebar.

Ia juga menegaskan bahwa pasar obligasi menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga keseimbangan nilai tukar. Karena itu, pengawasan terhadap pergerakan bond market akan terus dilakukan secara ketat.

Langkah lanjutan pemerintah

Purbaya menjelaskan langkah saat ini masih berada dalam kerangka cash management pemerintah. Skema ini berbeda dari bond stabilization framework yang melibatkan lembaga lain, seperti PT Sarana Multi Infrastruktur.

Menurut dia, pemerintah belum perlu mengaktifkan skema yang lebih luas karena situasi pasar masih relatif terkendali. Ia menilai kondisi sekarang belum sampai pada tahap yang membutuhkan koordinasi tambahan dengan lembaga lain.

Meski demikian, pemerintah tetap membuka opsi penguatan intervensi apabila kondisi pasar berubah. Purbaya menyebut dirinya akan terus memantau apakah perlu meningkatkan langkah stabilisasi di kemudian hari.

Ia sebelumnya juga menyampaikan bahwa intervensi pada pasar obligasi dilakukan secara bertahap. Dengan strategi itu, pemerintah berharap rupiah dapat kembali stabil dalam beberapa waktu ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!