Industri Satelit RI Didorong Perkuat Kedaulatan Digital

Teknologi BRH 24 Mei 2026 11:21 WIB 6
Industri Satelit RI Didorong Perkuat Kedaulatan Digital

Industri satelit Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tumbuh, seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas di wilayah kepulauan dan pasar Asia Pasifik yang terus berkembang. Namun, peluang itu juga datang bersama tantangan besar dari pemain global yang masuk dengan teknologi lebih maju dan agresif.

Kehadiran layanan satelit orbit rendah atau LEO mengubah peta persaingan karena menawarkan konektivitas cepat, latensi rendah, dan instalasi yang lebih mudah. Di tengah perubahan tersebut, Asosiasi Satelit Indonesia menilai isu kedaulatan data, frekuensi, dan infrastruktur menjadi semakin penting untuk dijaga.

Kedaulatan Satelit Jadi Sorotan

Masuknya operator global seperti Starlink dinilai membuka akses konektivitas yang lebih luas bagi masyarakat. Meski begitu, model bisnis itu juga menggeser ekspektasi pasar terhadap layanan satelit. Pemain domestik yang selama ini bertumpu pada satelit orbit geostasioner atau GEO kini menghadapi tekanan persaingan yang lebih berat.

Ketua Umum ASSI Rusdianto Yuli Hermansyah menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar dalam perkembangan industri satelit. Menurut dia, kontrol atas data dan infrastruktur yang beroperasi di wilayah nasional harus tetap berada di tangan Indonesia. Pandangan itu disampaikan di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Isu kedaulatan langit Nusantara menjadi relevan karena satelit lintas negara dapat membawa lalu lintas data tanpa bergantung pada infrastruktur domestik. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran soal kendali atas data strategis yang seharusnya terlindungi. Karena itu, pengaturan yang ketat dinilai diperlukan agar kepentingan nasional tetap terjaga.

Risiko Data Dan Frekuensi

Salah satu perhatian utama industri adalah aliran data yang berpotensi keluar dari yurisdiksi nasional. Jika tidak diatur dengan jelas, layanan satelit global dapat memindahkan kendali data ke luar negeri. Hal ini dinilai berisiko bagi keamanan informasi dan kepentingan strategis Indonesia.

Selain data, perebutan spektrum frekuensi dan slot orbit juga menjadi tantangan besar. Negara atau operator yang lebih dulu mengamankan sumber daya itu akan memiliki keunggulan kompetitif yang sulit dikejar. Situasi tersebut membuat Indonesia perlu bergerak lebih cepat dalam menyiapkan strategi nasional.

ASSI mendorong agar seluruh data dari layanan satelit, termasuk yang terhubung dengan jaringan seluler, tetap landing di Indonesia. Langkah itu dianggap penting untuk menjaga kedaulatan digital sekaligus memperkuat pengawasan negara. Dengan begitu, manfaat layanan satelit bisa dirasakan tanpa mengorbankan kepentingan nasional.

Penguatan Kapasitas Nasional

Di sisi lain, penguatan kapasitas nasional menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemain global. Indonesia sebenarnya sudah memiliki fondasi awal melalui riset yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional. Operasional satelit oleh operator domestik juga menjadi modal penting bagi pengembangan industri ke depan.

Namun, kemampuan end-to-end dari pembangunan hingga peluncuran satelit masih perlu ditingkatkan. Salah satu kebutuhan yang disorot adalah fasilitas peluncuran di dalam negeri agar ekosistem industri lebih mandiri. Tanpa infrastruktur tersebut, ketergantungan terhadap negara lain akan tetap tinggi.

ASSI juga menilai penting adanya orkestrasi nasional dalam pengembangan konstelasi satelit. Koordinasi yang lemah berpotensi memicu benturan frekuensi dan orbit antaroperator. Jika itu terjadi, industri domestik justru bisa dirugikan oleh lemahnya tata kelola.

Menuju Era Enam G

Tren integrasi jaringan terestrial dan non-terestrial atau NTN menuju era 6G membuat satelit semakin strategis. Teknologi ini diperkirakan menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem telekomunikasi nasional. Karena itu, peran satelit tidak lagi dipandang sebagai layanan pelengkap semata.

ASSI berharap pemerintah menyiapkan kebijakan yang adil atau level playing field antara operator lokal dan global. Keseimbangan itu mencakup biaya spektrum, kewajiban operasional, serta ruang tumbuh bagi industri nasional. Tanpa kebijakan yang setara, pemain domestik akan makin sulit bersaing.

Rusdianto menilai momentum saat ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem nasional. Jika tidak, Indonesia berisiko tertinggal di rumah sendiri meski pasar domestik terus tumbuh. Ia menegaskan, kedaulatan satelit bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan strategis yang harus segera dijawab.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!