Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru di Era AI

Teknologi Moh. Royhan Nahado 23 Mei 2026 05:42 WIB 6
Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru di Era AI

Industri satelit nasional dinilai memasuki babak baru seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital, integrasi kecerdasan buatan, dan menguatnya isu kedaulatan digital di tengah dinamika geopolitik global. Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai pemain penting di kawasan Asia Pasifik.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia periode 2026-2029, Risdianto Yuli Hermansyah, menegaskan bahwa peran satelit kini tidak lagi sekadar pelengkap jaringan terestrial. Menurut dia, satelit telah menjadi bagian penting dari ketahanan infrastruktur digital nasional.

Satelit dan konektivitas digital

Risdianto mengatakan industri satelit terus berkembang mengikuti kebutuhan konektivitas yang semakin beragam. Pernyataan itu ia sampaikan di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Ia menilai, fungsi satelit kini meluas dari sekadar penopang jaringan menjadi elemen penting dalam keberlanjutan layanan digital. Kondisi tersebut membuat satelit semakin relevan dalam ekosistem telekomunikasi modern.

Di tengah percepatan transformasi digital, satelit juga membantu menjaga kualitas layanan pada area yang belum terjangkau jaringan darat. Hal ini menjadi nilai tambah bagi wilayah yang membutuhkan akses komunikasi stabil.

Risdianto menekankan bahwa ketahanan jaringan nasional akan semakin kuat bila satelit ditempatkan sebagai bagian dari strategi infrastruktur digital. Dengan demikian, layanan publik dan aktivitas ekonomi dapat berjalan lebih andal.

Potensi Indonesia di Asia Pasifik

Indonesia dinilai memiliki modal strategis untuk mengembangkan teknologi dan layanan berbasis satelit. Posisi geografis sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau menjadi salah satu keunggulan utama.

Menurut Risdianto, kebutuhan konektivitas yang besar membuat Indonesia memiliki pasar sekaligus pengalaman industri yang cukup matang. Kombinasi itu membuka ruang pertumbuhan yang lebih luas bagi pelaku usaha satelit nasional.

Ia menambahkan bahwa potensi tersebut perlu diikuti dengan strategi yang terarah agar tidak tertinggal dari negara lain di kawasan. Indonesia, kata dia, berpeluang memperkuat peran dalam ekosistem satelit Asia Pasifik.

Untuk mencapai hal itu, dibutuhkan sinergi antara industri, riset, pemerintah, dan talenta digital. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pengembangan sektor satelit berjalan berkelanjutan.

Regulasi dan kapasitas nasional

Risdianto menilai pengembangan industri satelit tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Ia menyebut kebijakan pemerintah dan kepastian regulasi harus bergerak seiring dengan kebutuhan industri.

Menurut dia, kapasitas nasional juga perlu diperkuat dari sisi sumber daya manusia, teknologi, dan dukungan kelembagaan. Tanpa fondasi itu, pertumbuhan industri akan sulit bertahan dalam jangka panjang.

Ia menyebut Indonesia memiliki modal yang cukup baik, mulai dari kebutuhan pasar hingga pengalaman para pelaku industri. Namun, modal tersebut harus diikat dalam strategi nasional yang jelas dan terukur.

Tugas utama saat ini adalah mengintegrasikan industri, riset, talenta, dan kebijakan dalam satu arah pembangunan. Dengan cara itu, sektor satelit dapat tumbuh lebih sehat dan kompetitif.

AI dan ekosistem masa depan

Ke depan, Risdianto memprediksi teknologi AI, cloud, Internet of Things, fixed broadband, jaringan seluler, dan satelit akan semakin terhubung. Integrasi tersebut akan membentuk ekosistem digital yang lebih terpadu.

Ia menilai tren ini membuka peluang baru bagi industri, terutama pada layanan berbasis data dan konektivitas cerdas. Namun, peluang itu juga menuntut kesiapan infrastruktur yang lebih adaptif.

Selain infrastruktur, industri juga harus menyiapkan regulasi yang fleksibel, talenta yang relevan, dan investasi yang berkelanjutan. Tanpa dukungan tersebut, integrasi teknologi akan berjalan lebih lambat.

Isu-isu itu menjadi pembahasan utama dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 yang digelar ASSI di Fairmont Jakarta pada 12-13 Mei 2026. Konferensi internasional edisi ke-22 ini mengangkat tema tentang masa depan ekosistem satelit, kedaulatan, AI, inovasi, dan integrasi teknologi.

Acara tersebut dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, regulator, operator satelit, akademisi, hingga mitra internasional dari Asia Pasifik. Hadir pula Kepala BRIN, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Kepala BPKN.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!