Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru

Teknologi BRH 01 Juni 2026 08:08 WIB 2
Industri Satelit Nasional Masuki Babak Baru

Industri satelit nasional dinilai memasuki babak baru seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital, integrasi kecerdasan buatan, dan isu kedaulatan digital di tengah dinamika geopolitik global. Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem satelit di kawasan Asia Pasifik. Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia periode 2026-2029, Risdianto Yuli Hermansyah, menyampaikan bahwa satelit kini telah menjadi bagian penting dari ketahanan infrastruktur digital nasional.

Di Jakarta, Selasa (12/5/2026), Risdianto menegaskan bahwa peran satelit tidak lagi sekadar pelengkap jaringan terestrial. Menurut dia, industri satelit terus berkembang seiring kebutuhan konektivitas yang semakin beragam, sekaligus mendukung keberlanjutan layanan digital nasional.

Industri Satelit Nasional

Risdianto menyebut posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi modal strategis bagi pengembangan layanan berbasis satelit. Dengan lebih dari 17.000 pulau, kebutuhan konektivitas di Indonesia tidak dapat sepenuhnya mengandalkan jaringan darat.

Selain faktor geografis, jumlah penduduk yang besar juga membuat pasar layanan satelit di Indonesia dinilai menjanjikan. Kondisi ini memberi ruang bagi industri nasional untuk tumbuh lebih matang dan kompetitif.

Ia menilai pengembangan industri satelit perlu didukung oleh integrasi antara industri, riset, talenta digital, dan kebijakan pemerintah. Menurut dia, tanpa strategi yang berkelanjutan, potensi besar tersebut sulit dimanfaatkan secara optimal.

Risdianto menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal awal yang cukup baik untuk memperkuat sektor ini. Modal itu mencakup kebutuhan pasar, sumber daya manusia, dan pengalaman para pelaku industri.

Satelit Dukung Konektivitas

Peran satelit semakin penting dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045. Teknologi ini diyakini mampu memperluas konektivitas di wilayah 3T, yaitu terdepan, terluar, dan tertinggal.

Selain itu, satelit juga dinilai berperan dalam memperkuat ketahanan nasional melalui dukungan komunikasi di berbagai sektor. Manfaatnya turut terasa pada konektivitas maritim yang menjadi kebutuhan penting negara kepulauan.

Dalam situasi darurat, satelit juga dapat membantu mitigasi bencana dengan menyediakan jalur komunikasi yang lebih andal. Fungsi ini membuat satelit semakin relevan dalam mendukung layanan publik di wilayah yang sulit dijangkau.

Menurut Risdianto, penguatan konektivitas melalui satelit harus dilihat sebagai bagian dari pembangunan nasional. Karena itu, pemerintah dan pelaku industri perlu menyusun langkah yang saling mendukung.

Tantangan Baru Industri

Meski prospeknya besar, industri satelit global juga menghadapi tantangan baru yang tidak ringan. Perkembangan konstelasi satelit, integrasi jaringan satelit dan seluler, serta ancaman keamanan siber menjadi perhatian utama.

Isu keberlanjutan pemanfaatan ruang angkasa juga mulai mendapat sorotan lebih luas. Situasi tersebut menuntut pelaku industri untuk lebih adaptif dalam menyusun strategi bisnis dan teknologi.

Risdianto menilai kedaulatan digital kini menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia. Karena itu, penguatan kapasitas nasional dianggap penting agar industri domestik dapat tumbuh sehat di tengah persaingan global.

Ia menekankan perlunya kesiapan dari sisi teknologi, regulasi, dan sumber daya manusia. Tanpa tiga unsur itu, Indonesia akan kesulitan mengejar perubahan yang terjadi begitu cepat di sektor satelit.

Ekosistem Digital Terpadu

Ke depan, Risdianto memprediksi teknologi AI, cloud, Internet of Things, fixed broadband, jaringan seluler, dan satelit akan semakin terhubung dalam satu ekosistem digital terpadu. Perkembangan itu membuka peluang baru bagi industri, sekaligus menuntut kesiapan infrastruktur yang lebih kuat.

Ia menilai investasi menjadi faktor penting agar ekosistem tersebut dapat tumbuh secara berkelanjutan. Tanpa dukungan modal yang adaptif, integrasi teknologi berisiko berjalan lambat.

Isu-isu tersebut menjadi bahasan utama dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 atau APSAT 2026 di Fairmont Jakarta pada 12-13 Mei 2026. Konferensi internasional edisi ke-22 itu mengangkat tema tentang masa depan ekosistem satelit, kedaulatan, AI, inovasi, dan integrasi teknologi.

Acara tersebut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, regulator, operator satelit, akademisi, hingga mitra internasional dari kawasan Asia Pasifik. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pengembangan industri satelit tidak lagi menjadi isu sektoral, melainkan agenda strategis nasional dan regional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!