Industri Satelit Nasional Masuk Babak Baru di Era AI

Teknologi Moh. Royhan Nahado 31 Mei 2026 10:56 WIB 2
Industri Satelit Nasional Masuk Babak Baru di Era AI

Industri satelit nasional dinilai memasuki babak baru seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital, integrasi kecerdasan buatan, dan penguatan kedaulatan digital di tengah dinamika geopolitik global. Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem satelit di kawasan Asia Pasifik. Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia, Risdianto Yuli Hermansyah, menegaskan bahwa satelit kini bukan lagi pelengkap jaringan terestrial, melainkan bagian penting dari ketahanan infrastruktur digital nasional.

Menurut Risdianto, peran satelit terus berkembang seiring kebutuhan layanan digital yang semakin beragam dan menuntut jangkauan lebih luas. Ia menyampaikan pandangan itu di Jakarta, Selasa (12/5/2026), dalam rangkaian konferensi APSAT 2026 yang membahas masa depan ekosistem satelit di kawasan Asia Pasifik.

Industri Satelit dan Konektivitas

Risdianto menilai industri satelit kini memiliki fungsi strategis yang jauh lebih besar dibandingkan masa sebelumnya. Satelit tidak hanya melengkapi jaringan darat, tetapi juga menjaga keberlanjutan layanan digital nasional ketika konektivitas terestrial menghadapi keterbatasan.

Ia menyebut kebutuhan konektivitas yang semakin kompleks membuat satelit menjadi komponen penting dalam infrastruktur digital. Kondisi ini semakin relevan bagi negara kepulauan seperti Indonesia yang membutuhkan solusi komunikasi lintas wilayah secara stabil dan luas.

Dalam pandangannya, perkembangan industri satelit harus dibaca sebagai bagian dari transformasi ekonomi digital nasional. Karena itu, penguatan sektor ini perlu ditempatkan sebagai agenda strategis, bukan sekadar proyek teknologi jangka pendek.

Potensi Indonesia di Asia Pasifik

Indonesia dinilai memiliki modal geografis yang sangat kuat untuk mengembangkan industri satelit. Dengan lebih dari 17.000 pulau, kebutuhan konektivitas nasional menjadi pasar yang besar sekaligus laboratorium alami bagi inovasi berbasis satelit.

Selain itu, jumlah penduduk yang besar menciptakan permintaan tinggi terhadap layanan komunikasi yang andal dan merata. Menurut Risdianto, kombinasi pasar, pengalaman industri, dan kebutuhan nyata memberi Indonesia posisi tawar yang menarik di kawasan Asia Pasifik.

Ia juga menekankan bahwa potensi tersebut perlu dikelola secara serius agar tidak berhenti pada wacana. Tanpa strategi yang konsisten, peluang Indonesia untuk menjadi pemain penting di ekosistem satelit regional dapat terhambat oleh percepatan negara lain.

Integrasi Riset dan Kebijakan

Risdianto menilai pengembangan industri satelit nasional hanya akan berkelanjutan jika didukung kolaborasi lintas sektor. Industri, riset, talenta digital, dan kebijakan pemerintah harus berjalan dalam satu arah yang saling menguatkan.

Ia menegaskan pentingnya membangun ekosistem yang mampu mendorong inovasi sekaligus kepastian usaha. Dalam pandangannya, penguatan kapasitas nasional harus mencakup teknologi, regulasi, serta pengembangan sumber daya manusia.

Menurutnya, Indonesia sudah memiliki modal dasar yang cukup baik untuk berkembang di sektor ini. Tantangan utamanya kini adalah menyatukan seluruh elemen tersebut ke dalam strategi jangka panjang yang konsisten dan adaptif.

AI dan Masa Depan Satelit

Ke depan, Risdianto memprediksi teknologi kecerdasan buatan, cloud, Internet of Things, fixed broadband, jaringan seluler, dan satelit akan semakin terhubung dalam satu ekosistem digital terpadu. Integrasi tersebut membuka peluang baru bagi industri, tetapi juga menuntut kesiapan infrastruktur dan regulasi yang lebih responsif.

Ia menilai isu kedaulatan digital kini menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia. Karena itu, kapasitas nasional perlu diperkuat agar industri satelit domestik dapat tumbuh sehat di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Isu tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 yang digelar ASSI di Jakarta pada 12-13 Mei 2026. Konferensi internasional edisi ke-22 itu menghadirkan pemerintah, regulator, operator satelit, akademisi, dan mitra internasional dari kawasan Asia Pasifik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!