Transformasi digital yang berlangsung cepat di Indonesia dinilai ikut memperbesar risiko keamanan siber bagi perusahaan. Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business menyebut ancaman kini semakin kompleks, mulai dari AI fraud, deepfake, hingga ransomware yang menyasar sektor strategis nasional.
Temuan itu diungkap dalam whitepaper berjudul A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience. Indosat Business menilai masih banyak perusahaan menghadapi resilience gap, yakni kondisi ketika digitalisasi melaju lebih cepat daripada kesiapan organisasi membangun ketahanan siber.
Ketahanan Siber Jadi Fondasi Bisnis
Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Danny Buldansyah, menegaskan ketahanan siber kini menjadi unsur penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis. Ia menyampaikan hal itu di kantor Indosat Ooredoo Hutchison, Jakarta, pada Senin (11/5/2026).
Menurut dia, cyber resilience bukan lagi persoalan teknologi semata, melainkan fondasi kepercayaan bagi pelanggan dan mitra usaha. Kebutuhan perusahaan saat ini juga tidak berhenti pada konektivitas, tetapi mencakup kemampuan membangun sistem keamanan yang adaptif dan terintegrasi.
Ia menambahkan, tekanan digital membuat perusahaan harus melihat keamanan siber sebagai bagian dari strategi utama. Tanpa kesiapan tersebut, transformasi digital berisiko menimbulkan kerugian operasional dan reputasi yang lebih besar.
Ancaman Makin Sulit Dideteksi
Whitepaper itu disusun bersama pakar keamanan siber Charles Lim untuk membaca arah ancaman digital yang berkembang lebih cepat. Menurut Charles, kemunculan AI-enabled fraud dan teknologi deepfake membuat serangan semakin sulit dikenali.
Ia menilai organisasi perlu bergeser dari pendekatan reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Strategi tersebut dibutuhkan agar perusahaan tidak hanya merespons serangan, tetapi juga mampu bertahan dan pulih dengan cepat.
Dalam laporan itu, ancaman berbasis identitas disebut semakin marak seiring pemanfaatan AI voice impersonation. Kondisi ini memperkuat kebutuhan perusahaan untuk memperketat verifikasi dan pengawasan internal.
Lonjakan Risiko di Sektor Fintech
Indosat Business mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia. Modus yang digunakan antara lain deepfake dan AI voice impersonation untuk menipu korban berbasis identitas.
Laporan tersebut menunjukkan ancaman siber tidak lagi terbatas pada pencurian data, tetapi juga menyasar kepercayaan pengguna. Bagi sektor keuangan digital, serangan semacam ini dapat berdampak langsung pada operasional dan stabilitas bisnis.
Selain fintech, sektor lain juga berisiko mengalami gangguan serupa seiring meningkatnya ketergantungan pada sistem digital. Karena itu, perusahaan dinilai perlu memperkuat mekanisme deteksi dini agar serangan bisa diidentifikasi sebelum menimbulkan kerugian lebih besar.
Regulasi Dorong Respons Cepat
Indosat Business juga menyoroti implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi yang mendorong perusahaan memperkuat sistem monitoring dan respons keamanan siber secara real-time. Aturan itu juga mewajibkan pelaporan insiden dalam waktu 72 jam.
Di sisi lain, Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 menunjukkan hanya 11 persen organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman keamanan siber modern. Angka itu menggambarkan masih lebarnya jarak antara kebutuhan perlindungan dan kesiapan implementasi di lapangan.
Indosat Business mencatat rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia diperkirakan mencapai Rp15 miliar. Kondisi tersebut menegaskan bahwa investasi keamanan siber bukan lagi biaya tambahan, melainkan kebutuhan bisnis yang mendesak.
Strategi Baru untuk Perusahaan
Whitepaper itu membahas sejumlah pendekatan penguatan keamanan siber seperti Zero Trust Architecture dan Human Firewall. Kedua strategi tersebut dipandang penting untuk membangun perlindungan yang tidak hanya bergantung pada sistem, tetapi juga pada kesadaran pengguna.
Indosat Business menyebut tantangan cyber resilience berbeda di tiap sektor, mulai dari finansial, manufaktur, pemerintahan, hingga pendidikan. Karena itu, solusi keamanan dinilai harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing organisasi.
Melalui inisiatif ini, Indosat Business ingin mendorong perusahaan melihat ketahanan siber sebagai bagian integral dari transformasi digital. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing bisnis jangka panjang di tengah percepatan teknologi AI dan ekonomi digital.
