Indosat Soroti Risiko Siber di Era Digital

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 01 Juni 2026 22:18 WIB 5
Indosat Soroti Risiko Siber di Era Digital

Transformasi digital yang kian masif di Indonesia dinilai ikut memperbesar risiko keamanan siber bagi perusahaan. Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business menyebut ancaman kini berkembang lebih kompleks, mulai dari AI fraud, deepfake, hingga ransomware yang menyasar sektor strategis nasional.

Temuan tersebut disampaikan dalam whitepaper A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience. Dalam pemaparannya di Jakarta, Senin (11/5/2026), Indosat menekankan bahwa ketahanan siber kini menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan bisnis di era ekonomi digital.

Ketahanan Siber Jadi Prioritas

Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Danny Buldansyah, menegaskan bahwa ketahanan siber tidak lagi bisa dipandang sebagai isu teknis semata. Menurut dia, keamanan digital telah menjadi bagian dari kepercayaan pelanggan dan keberlanjutan usaha.

Ia menjelaskan bahwa kebutuhan perusahaan saat ini tidak cukup hanya pada konektivitas dan teknologi. Organisasi juga harus memiliki sistem keamanan yang adaptif, terintegrasi, dan mampu merespons ancaman modern secara cepat.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena pola serangan terus berubah mengikuti perkembangan teknologi. Tanpa kesiapan yang memadai, perusahaan berisiko mengalami gangguan operasional, kerugian finansial, dan turunnya reputasi.

Indosat Business menilai banyak perusahaan di Indonesia masih menghadapi resilience gap. Kondisi ini terjadi ketika laju digitalisasi bergerak lebih cepat dibanding kemampuan organisasi membangun ketahanan siber.

Ancaman Siber Semakin Kompleks

Whitepaper tersebut disusun bersama pakar keamanan siber Charles Lim. Ia menilai ancaman siber kini berkembang jauh lebih cepat dan semakin sulit dideteksi.

Menurut Charles, kemunculan AI-enabled fraud dan teknologi deepfake membuat penipuan digital menjadi lebih meyakinkan. Situasi ini menuntut perusahaan untuk mengubah cara pandang dari sekadar pencegahan menjadi ketahanan yang berkelanjutan.

Indosat Business mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia. Modus yang banyak digunakan antara lain deepfake dan AI voice impersonation untuk penipuan berbasis identitas.

Ancaman ransomware juga terus meningkat, termasuk serangan terhadap pusat data nasional pada 2024 yang sempat mengganggu lebih dari 200 layanan publik. Kasus ini menunjukkan bahwa serangan digital dapat berdampak luas hingga ke layanan masyarakat.

UU PDP Dorong Kesiapan

Indosat Business menyoroti penerapan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi atau UU PDP sebagai dorongan bagi perusahaan untuk memperkuat sistem keamanan. Aturan tersebut menuntut pemantauan dan respons insiden secara real-time.

Dalam ketentuan itu, perusahaan juga berkewajiban melaporkan insiden keamanan dalam waktu 72 jam. Kewajiban ini membuat organisasi perlu memiliki mekanisme deteksi dan respons yang lebih cepat dan terukur.

Selain kepatuhan regulasi, kesiapan teknologi menjadi faktor penentu untuk mengurangi dampak insiden. Sistem yang lambat merespons berpotensi memperbesar kerugian dan menghambat pemulihan layanan.

Data Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 menunjukkan hanya 11 persen organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman keamanan siber modern. Sementara itu, rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia diperkirakan mencapai Rp15 miliar.

Zero Trust Untuk Bisnis

Whitepaper tersebut juga membahas strategi penguatan keamanan siber yang relevan bagi perusahaan. Dua pendekatan yang disorot adalah Zero Trust Architecture dan Human Firewall.

Zero Trust Architecture menekankan verifikasi berlapis sebelum akses diberikan kepada pengguna atau perangkat. Sementara itu, Human Firewall menempatkan kesadaran karyawan sebagai pertahanan utama dari serangan sosial dan rekayasa digital.

Indosat Business menilai strategi tersebut penting diterapkan di berbagai sektor strategis, mulai dari finansial, manufaktur, pemerintahan, hingga pendidikan. Setiap sektor memiliki karakter risiko yang berbeda, sehingga membutuhkan pendekatan perlindungan yang sesuai.

Melalui inisiatif ini, Indosat Business ingin mendorong perusahaan melihat ketahanan siber sebagai bagian integral dari transformasi digital. Menurut perusahaan, daya saing bisnis jangka panjang akan sangat ditentukan oleh kemampuan menghadapi ancaman di era AI dan ekonomi digital.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!