Indosat Soroti Lonjakan Risiko Keamanan Siber

Teknologi BRH 22 Mei 2026 22:15 WIB 7
Indosat Soroti Lonjakan Risiko Keamanan Siber

Transformasi digital yang kian masif di Indonesia membuat risiko keamanan siber bagi perusahaan ikut meningkat. Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business menilai ancaman kini berkembang lebih kompleks, mulai dari AI fraud, deepfake, hingga ransomware yang menyasar sektor strategis nasional. Kondisi ini menunjukkan banyak organisasi masih menghadapi kesenjangan kesiapan dalam membangun pertahanan digital yang kuat.

Temuan tersebut dipaparkan dalam whitepaper berjudul A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience, yang disusun bersama pakar keamanan siber Charles Lim. Indosat Business menegaskan bahwa ketahanan siber kini menjadi fondasi penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis di era ekonomi digital. Perusahaan pun didorong beralih dari pendekatan reaktif menuju sistem keamanan yang adaptif dan terintegrasi.

Keamanan Siber Jadi Fondasi Bisnis

Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison Muhammad Danny Buldansyah mengatakan, ketahanan siber bukan lagi isu teknologi semata. Menurut dia, keamanan siber telah menjadi fondasi kepercayaan sekaligus penopang keberlangsungan usaha. Karena itu, perusahaan perlu menempatkannya sebagai bagian inti dari strategi bisnis.

Ia menilai kebutuhan enterprise saat ini tidak cukup hanya pada konektivitas dan teknologi. Dunia usaha juga memerlukan kemampuan membangun sistem keamanan yang adaptif, terintegrasi, dan siap menghadapi ancaman modern. Tanpa kesiapan itu, transformasi digital justru dapat membuka celah risiko baru.

Indosat Business melihat banyak perusahaan masih belum memiliki ketahanan yang sejalan dengan laju digitalisasi. Kesenjangan ini membuat organisasi rentan saat menghadapi serangan siber yang semakin canggih. Dalam konteks tersebut, cyber resilience menjadi kebutuhan mendesak, bukan pilihan tambahan.

Ancaman AI Fraud Meningkat

Charles Lim menjelaskan bahwa ancaman siber berkembang jauh lebih cepat dan semakin sulit dideteksi. Kemunculan AI-enabled fraud dan teknologi deepfake membuat modus penipuan menjadi lebih meyakinkan. Situasi ini menuntut perusahaan memperbarui cara mereka membaca risiko digital.

Dalam laporan Indosat Business, AI-related fraud di sektor fintech Indonesia tercatat meningkat hingga 1.550 persen. Modus yang digunakan antara lain deepfake dan AI voice impersonation untuk meniru identitas korban. Praktik ini memperlihatkan bagaimana kecerdasan buatan juga dapat dimanfaatkan untuk kejahatan siber.

Charles menegaskan organisasi perlu berpindah dari pendekatan reaktif ke model cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan merespons insiden dengan lebih cepat dan terukur. Dengan begitu, dampak serangan terhadap operasi bisnis dapat ditekan.

Ransomware dan Kebocoran Data

Selain penipuan berbasis AI, ancaman ransomware juga terus meningkat di Indonesia. Salah satu kasus yang disorot adalah serangan terhadap pusat data nasional pada 2024, yang sempat mengganggu lebih dari 200 layanan publik. Peristiwa itu memperlihatkan bahwa serangan digital dapat berdampak luas pada layanan strategis.

Indosat Business juga mencatat Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 menunjukkan hanya 11 persen organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman modern. Sementara itu, rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia diperkirakan mencapai Rp15 miliar. Angka tersebut menegaskan bahwa risiko siber memiliki konsekuensi finansial yang besar.

Di sisi lain, sektor strategis seperti keuangan, manufaktur, pemerintahan, dan pendidikan juga menghadapi tekanan serupa. Semakin luas digitalisasi layanan, semakin tinggi pula kebutuhan perlindungan terhadap data dan sistem operasional. Tanpa kesiapan yang memadai, serangan dapat mengganggu layanan sekaligus merusak reputasi perusahaan.

UU PDP Dorong Respons Cepat

Indosat Business menyoroti implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi sebagai pendorong penguatan keamanan siber. Aturan ini mewajibkan perusahaan memperkuat sistem monitoring dan respons keamanan secara real-time. Selain itu, pelaporan insiden juga harus dilakukan dalam waktu 72 jam.

Kewajiban tersebut membuat perusahaan perlu menata ulang prosedur penanganan insiden secara lebih disiplin. Monitoring yang cepat dan terintegrasi menjadi syarat untuk mendeteksi ancaman sebelum meluas. Di tengah ancaman digital yang semakin dinamis, respons lambat berpotensi memperbesar kerugian.

Whitepaper itu juga membahas strategi seperti Zero Trust Architecture dan Human Firewall untuk memperkuat lapisan pertahanan. Kedua pendekatan ini menekankan pentingnya verifikasi berkelanjutan serta peran sumber daya manusia dalam menjaga keamanan. Indosat Business menilai ketahanan siber harus menjadi bagian integral dari transformasi digital dan daya saing jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!