IHSG Tertekan Jelang Rebalancing MSCI dan Sorotan Emiten

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 02 Juni 2026 03:57 WIB 3
IHSG Tertekan Jelang Rebalancing MSCI dan Sorotan Emiten

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali tertekan pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, setelah turun 1,23 persen ke level 6.130,19. Pelemahan terjadi di tengah derasnya arus keluar dana asing, serta kekhawatiran pasar menjelang penyesuaian indeks MSCI yang berlaku efektif pada awal Juni 2026.

Meski sejumlah saham seperti Telkom Indonesia, Barito Renewables Energy, dan Barito Pacific sempat menopang pergerakan indeks, tekanan dari Astra International, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Central Asia membuat IHSG berakhir di zona merah. Pelaku pasar juga masih mencermati pelemahan rupiah, serta potensi outflow lanjutan menjelang rebalancing MSCI pada 1 Juni 2026.

IHSG Tertekan Jelang MSCI

Tekanan terhadap IHSG datang dari aksi jual asing yang mencapai sekitar Rp1,89 triliun di pasar reguler. Secara keseluruhan, nilai jual bersih asing tercatat sekitar Rp1,60 triliun.

Dalam dua hari terakhir, foreign outflow di pasar reguler bahkan mendekati Rp3,98 triliun. Kondisi ini menunjukkan sentimen pasar masih sensitif terhadap perubahan komposisi indeks global.

Dari sisi sektoral, mayoritas sektor bergerak melemah dan sektor industrial mencatat penurunan paling dalam. Hanya sektor infrastruktur yang masih mampu bertahan dengan kenaikan tipis.

GOTO Disorot MSCI

Salah satu emiten yang menarik perhatian pasar adalah GoTo Gojek Tokopedia Tbk atau GOTO. MSCI disebut membekukan seluruh perubahan terkait jumlah saham beredar, Foreign Inclusion Factor, Domestic Inclusion Factor, serta perubahan komposisi indeks untuk saham GOTO dalam Tinjauan Indeks Mei 2026.

MSCI akan kembali mengevaluasi likuiditas GOTO pada periode review Agustus 2026 berdasarkan metodologi Global Investable Market Indexes. Sejak 13 Mei 2026, saham GOTO bergerak di level Rp50.

Hingga 26 Mei 2026, volume transaksi GOTO tercatat sekitar 333 juta saham dengan nilai transaksi Rp16,67 miliar. Angka itu masih jauh di bawah rata-rata perdagangan Januari hingga April 2026 yang mencapai 4,62 miliar saham dengan nilai transaksi Rp274,63 miliar.

HRUM dan TAPG

Harum Energy Tbk atau HRUM menetapkan target produksi batu bara sebesar 2 juta hingga 3 juta ton pada 2026. Perseroan juga membidik produksi dan penjualan nikel dalam bentuk NPI, HG Matte, dan MHP sebesar 107 ribu hingga 117 ribu ton metal pada tahun depan.

Untuk mendukung ekspansi, HRUM menyiapkan belanja modal sekitar US$310 juta. Sebagian besar dana dialokasikan untuk pengembangan unit usaha nikel, sedangkan sisanya digunakan untuk pemeliharaan bisnis batu bara.

Hingga kuartal I-2026, realisasi capex HRUM telah mencapai sekitar US$139 juta. Dana tersebut digunakan untuk pengembangan proyek nikel, serta mendukung operasional pertambangan dan logistik.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Triputra Agro Persada Tbk atau TAPG memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp180 per saham. Total nilai dividen itu setara sekitar Rp3,57 triliun, atau 96,43 persen dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Sepanjang 2025, TAPG membukukan pendapatan Rp11,40 triliun, naik 17,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih perseroan juga meningkat 18,59 persen menjadi Rp3,70 triliun, sementara laba per saham naik menjadi Rp186.

Dividen Rp180 per saham tersebut sudah termasuk dua dividen interim yang masing-masing sebesar Rp39 per saham dan Rp50 per saham. Dengan demikian, dividen final yang akan dibagikan sebesar Rp91 per saham atau sekitar Rp1,81 triliun, dengan cum date pada 3 Juni 2026 dan pembayaran pada 18 Juni 2026.

Sejumlah saham juga masuk dalam rekomendasi harian, yaitu MPMX, GPRA, ADMR, AADI, dan SOFA. Rekomendasi tersebut mencantumkan area beli, target harga, serta batas kerugian sebagai panduan teknis bagi investor.

Meski demikian, seluruh analisis dan rekomendasi saham tetap bersifat informatif, bukan ajakan untuk membeli atau menjual. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan investor, sesuai profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.

Dalam situasi pasar yang masih berfluktuasi, disiplin pada manajemen risiko menjadi kunci utama. Investor juga perlu mencermati arus dana asing, pergerakan rupiah, dan agenda rebalancing MSCI yang berpotensi memengaruhi arah pasar dalam waktu dekat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!