Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, dan ditutup turun 3,46 persen ke level 6.370,67. Tekanan pasar kian terasa setelah dalam lima hari terakhir indeks terkoreksi 8,59 persen, sejalan dengan aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp41,28 triliun secara year to date. Sejumlah saham konglomerat yang terkoreksi tajam hingga menyentuh auto reject bawah juga memperberat laju indeks. Di tengah tekanan tersebut, pelaku pasar menanti arah kebijakan Bank Indonesia dan pidato Presiden Prabowo Subianto yang dinilai dapat memengaruhi sentimen jangka pendek.
Pelemahan IHSG juga terjadi setelah sebelumnya indeks sudah turun 2,86 persen ke level 6.969,39 pada perdagangan Jumat, 8 Mei. Jika dihitung sejak awal tahun, koreksi IHSG telah mencapai 26,32 persen, mencerminkan tekanan yang belum mereda di pasar modal. Selain faktor eksternal, aksi jual pada saham berkapitalisasi besar turut menekan kepercayaan investor ritel. Kondisi ini membuat pasar bergerak hati-hati menjelang sejumlah agenda penting pada pekan ini.
IHSG Tekan Pasar Modal
Pada perdagangan terakhir, tekanan paling besar datang dari saham-saham milik grup besar yang bergerak di area merah dalam jumlah signifikan. PT Chandra Asri Pacific Tbk atau TPIA turun 14,75 persen ke harga Rp3.120 per saham, sedangkan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN melemah 13,33 persen ke Rp650 per saham. PT Petrosea Tbk atau PTRO juga terkoreksi 10,93 persen menjadi Rp4.320 per saham. Dari sisi lain, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA turun 14,77 persen ke Rp750 per saham, sementara PT Triputra Agro Persada Tbk atau TAPG melemah 14,97 persen ke Rp1.590 per saham.
Koreksi pada saham-saham tersebut menunjukkan tekanan yang masih kuat pada emiten terkait konglomerasi dan komoditas. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mengurangi risiko, terutama ketika likuiditas pasar berubah cepat dan arah sentimen belum jelas. Penurunan sejumlah saham besar ikut menyeret indeks karena bobotnya yang signifikan terhadap pergerakan IHSG. Akibatnya, pasar menutup perdagangan dengan nada negatif meski beberapa pelaku masih melihat peluang teknikal di harga rendah.
Aksi jual asing menjadi faktor lain yang menegaskan lemahnya minat beli di pasar domestik. Aliran dana keluar yang besar mencerminkan kehati-hatian investor global terhadap prospek pasar Indonesia dalam jangka pendek. Di saat bersamaan, investor lokal juga cenderung menahan diri karena volatilitas yang meningkat tajam. Kombinasi itu membuat IHSG kesulitan membentuk pembalikan arah yang meyakinkan.
Sidak DPR Jaga Kepercayaan
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad melakukan sidak ke Bursa Efek Indonesia pada Selasa, 19 Mei 2026, untuk memantau pertumbuhan investor sekaligus menenangkan pasar. Langkah tersebut dilakukan di tengah tekanan koreksi yang membuat pelaku pasar membutuhkan sinyal stabilitas. Dalam kegiatan itu, Dasco hadir bersama Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, CEO BPI Danantara Rosan Roeslani, dan COO BPI Danantara Dony Oskaria. Kehadiran para pejabat tersebut dinilai memberi pesan bahwa pemerintah memperhatikan kondisi pasar modal secara langsung.
Dasco menyebut diskusi yang dilakukan berfokus pada pertumbuhan investor ritel yang terus berkembang. Ia juga mendengarkan paparan terkait arah kebijakan dan regulasi yang diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor lokal. Menurut dia, fundamental pasar modal Indonesia tetap kuat dan berpeluang menopang penguatan bursa pada masa mendatang. Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa otoritas ingin menjaga optimisme di tengah koreksi yang masih berlangsung.
Meski demikian, pasar tetap menunggu bukti konkret dari kebijakan yang mendukung stabilitas dan kepastian. Investor biasanya merespons positif ketika ada kepastian aturan, terutama di tengah ketidakpastian global dan domestik yang masih tinggi. Karena itu, komunikasi yang konsisten antara regulator, pemerintah, dan pelaku pasar menjadi penting. Tanpa kejelasan arah, sentimen negatif berisiko bertahan lebih lama di bursa.
Sentimen Pasar Menjelang Kebijakan
Setidaknya ada dua sentimen utama yang membebani pergerakan IHSG, yakni pidato Presiden Prabowo Subianto dan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Investor menaruh perhatian pada pidato Prabowo dalam Rapat Paripurna DPR yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 20 Mei. Dalam kesempatan itu, Presiden akan menyampaikan pidato mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal untuk RAPBN Tahun Anggaran 2027. Agenda tersebut penting karena dapat memberi petunjuk mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah ke depan.
Di saat yang sama, pasar juga menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia yang akan diumumkan pada hari yang sama. Berdasarkan konsensus yang dicatat Phintraco Sekuritas, BI diperkirakan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Langkah itu dinilai menjadi salah satu opsi untuk meredam pelemahan rupiah yang masih menjadi perhatian pelaku pasar. Jika keputusan sesuai ekspektasi, pasar berpotensi merespons secara lebih tenang meski volatilitas masih mungkin berlanjut.
Analis Phintraco Sekuritas menilai investor tengah menunggu kepastian dari dua agenda besar tersebut sebelum mengambil posisi lebih agresif. Sikap hati-hati ini membuat perdagangan cenderung didominasi aksi jual dan pembatasan risiko. Dalam kondisi seperti ini, katalis positif dibutuhkan agar pasar memiliki alasan untuk kembali masuk ke saham. Tanpa dukungan sentimen yang kuat, IHSG berisiko bergerak fluktuatif dalam rentang yang sempit.
Wacana Ekspor Menambah Tekanan
Selain faktor kebijakan moneter dan fiskal, pasar juga tertekan oleh wacana pemerintah mengatur ekspor komoditas dalam satu badan khusus negara. Komoditas yang disebut meliputi batu bara, crude palm oil atau CPO, hingga mineral logam. Wacana ini memunculkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi intervensi harga jual. Kekhawatiran tersebut membuat sejumlah investor memilih bersikap defensif.
Phintraco Sekuritas mencatat bahwa investor khawatir pengaturan ekspor dapat menekan margin laba perusahaan pada sektor terkait. Jika harga jual tidak sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar, maka ruang profit emiten berisiko menyempit. Dalam jangka pendek, sentimen seperti ini biasanya memicu aksi ambil untung dan pengurangan eksposur pada saham-saham komoditas. Kondisi itu turut memperbesar tekanan pada indeks secara keseluruhan.
Di tengah berbagai sentimen tersebut, pelaku pasar kini menanti kombinasi kebijakan yang mampu menenangkan volatilitas. Kejelasan arah suku bunga, kepastian fiskal, dan penjelasan mengenai regulasi ekspor akan menjadi faktor penentu berikutnya. Jika ketiganya memberi sinyal positif, IHSG berpeluang mendapatkan ruang pemulihan bertahap. Namun, selama ketidakpastian masih dominan, tekanan pada pasar saham kemungkinan belum akan cepat mereda.
