IHSG Tertekan Hampir 4 Persen ke Level 6.300-an

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 25 Mei 2026 10:23 WIB 4
IHSG Tertekan Hampir 4 Persen ke Level 6.300-an

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali melemah tajam pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, dan nyaris terkoreksi 4 persen ke area 6.300-an. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan jual yang masih dominan, serta kekhawatiran investor terhadap sejumlah sentimen domestik dan global.

Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG ditutup turun 3,46 persen ke level 6.370,67, setelah sebelumnya juga bergerak melemah sejak Jumat, 8 Mei. Sepanjang tahun berjalan, indeks telah terkoreksi 26,32 persen, sementara aksi jual bersih investor asing mencapai Rp41,28 triliun secara year to date per Senin, 18 Mei.

IHSG Masih Dalam Tekanan

Pelemahan IHSG pada perdagangan terakhir memperpanjang tren negatif yang sudah berlangsung dalam beberapa sesi. Dalam lima hari perdagangan terakhir, indeks terkoreksi 8,59 persen dan menunjukkan tekanan yang belum mereda. Kondisi ini menandakan pelaku pasar masih berhati-hati dalam mengambil posisi. Sentimen jual yang kuat membuat indeks sulit bertahan di zona penguatan.

Penurunan tersebut juga menghapus sebagian reli yang sempat terjadi pada awal periode perdagangan sebelumnya. Saat Jumat, 8 Mei, IHSG masih berada di level 6.969,39 meski sudah melemah 2,86 persen pada hari itu. Sejak saat itu, arah pergerakan indeks cenderung menurun tanpa katalis kuat untuk pemulihan. Pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi dalam negeri.

Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung memilih sikap defensif. Mereka lebih selektif terhadap saham dengan volatilitas tinggi dan valuasi yang sudah tertekan. Tekanan jual yang berlanjut membuat beberapa sektor kehilangan daya tahan. Akibatnya, penurunan indeks berlangsung lebih dalam dibandingkan sesi sebelumnya.

Secara tahunan, pelemahan IHSG yang mencapai 26,32 persen menegaskan bahwa pasar modal sedang menghadapi fase koreksi besar. Kinerja tersebut juga menjadi sinyal bahwa minat beli belum cukup kuat untuk menahan tekanan. Jika sentimen positif tidak segera muncul, volatilitas berpotensi tetap tinggi. Investor pun diminta mencermati pergerakan indeks dengan lebih disiplin.

Aksi Jual Asing Membesar

Salah satu faktor utama yang membebani IHSG adalah aksi jual bersih investor asing yang terus berlanjut. Data terbaru menunjukkan net foreign sell mencapai Rp41,28 triliun secara year to date. Besarnya arus keluar dana asing itu memberi tekanan tambahan pada likuiditas pasar. Kondisi ini membuat saham-saham unggulan lebih mudah tertekan.

Arus jual asing biasanya memengaruhi sentimen pelaku pasar ritel. Ketika investor asing cenderung mengurangi eksposur, banyak investor lokal ikut menahan diri. Pola ini mempercepat pelemahan indeks dalam jangka pendek. Tekanan pun semakin terasa pada saham berkapitalisasi besar.

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga ikut menambah kewaspadaan pasar. Ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter membuat investor menilai ulang risiko di pasar saham. Dalam situasi seperti ini, preferensi terhadap aset aman cenderung meningkat. Hal itu berdampak pada berkurangnya minat terhadap saham-saham berisiko tinggi.

Pelaku pasar kini menunggu apakah arus keluar dana asing akan mereda dalam beberapa hari ke depan. Jika tekanan jual masih berlanjut, IHSG berpotensi bergerak dalam rentang yang lebih sempit. Namun, bila ada sinyal kebijakan yang meyakinkan, minat beli dapat kembali muncul. Arah pasar dalam jangka pendek masih sangat ditentukan oleh persepsi risiko.

Saham Konglomerat Terpukul

Selain aksi jual asing, IHSG juga terbebani oleh koreksi tajam pada sejumlah saham konglomerat. Beberapa emiten bahkan ditutup hingga menyentuh auto reject bawah pada perdagangan terakhir. Kondisi ini memperparah pelemahan indeks secara keseluruhan. Tekanan paling besar datang dari saham-saham berkapitalisasi besar di kelompok tersebut.

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) milik Prajogo Pangestu melemah 14,75 persen ke harga Rp3.120 per saham. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga terkoreksi 13,33 persen ke level Rp650 per saham. Sementara itu, PT Petrosea Tbk (PTRO) turun 10,93 persen ke harga Rp4.320 per saham. Ketiga saham tersebut menjadi pemberat utama pergerakan indeks.

Dari kelompok lain, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) milik Grup Sinar Mas turun 14,77 persen ke harga Rp750 per saham. Adapun PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) milik Theodore Permadi Rachmat melemah 14,97 persen ke level Rp1.590 per saham. Koreksi serentak pada saham-saham ini menunjukkan tekanan yang meluas. Pasar menilai valuasi dan prospek emiten-emiten tersebut masih perlu disesuaikan.

Pelemahan saham konglomerat yang terjadi bersamaan menambah beban psikologis investor. Ketika saham-saham besar turun dalam waktu berdekatan, kepercayaan pasar ikut terganggu. Hal ini membuat sentimen negatif cepat menyebar ke sektor lainnya. Pada akhirnya, IHSG ikut terseret lebih dalam ke zona pelemahan.

Investor Menanti Arah Kebijakan

Pasar kini menaruh perhatian pada dua agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah IHSG. Pertama adalah pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR, yang akan memuat Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027. Kedua adalah hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan mengumumkan keputusan suku bunga. Keduanya menjadi penentu utama sentimen pasar dalam waktu dekat.

Menurut analisis Phintraco Sekuritas, investor menunggu kepastian dari kedua agenda tersebut sebelum menambah posisi di pasar saham. Konsensus memperkirakan Bank Indonesia berpeluang menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Langkah itu dipandang sebagai upaya meredam pelemahan rupiah. Namun, kebijakan tersebut juga berpotensi menahan laju minat pada aset berisiko.

Selain itu, pasar mencermati wacana pemerintah yang akan mengatur ekspor komoditas dalam satu badan khusus negara. Kebijakan tersebut dikaitkan dengan komoditas utama seperti batu bara, CPO, dan mineral logam. Investor khawatir pengaturan itu dapat memengaruhi mekanisme harga jual. Bila margin laba perusahaan tertekan, valuasi saham di sektor terkait bisa ikut turun.

Di tengah berbagai sentimen tersebut, pelaku pasar menilai kehati-hatian menjadi pilihan paling rasional. Pemulihan IHSG membutuhkan katalis yang mampu mengembalikan kepercayaan investor, terutama dari sisi kebijakan ekonomi. Sampai ada kepastian yang lebih jelas, volatilitas diperkirakan masih tinggi. Pasar pun tetap menunggu sinyal kuat untuk kembali bergerak naik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!