IHSG Tertekan, GOTO, HRUM, dan TAPG Jadi Sorotan

Forex & Saham Gilang Nabaris 31 Mei 2026 23:51 WIB 2
IHSG Tertekan, GOTO, HRUM, dan TAPG Jadi Sorotan

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali tertekan pada perdagangan Selasa, 26 Mei, dan ditutup turun 1,23 persen ke level 6.130,19. Pelemahan ini terjadi di tengah arus keluar dana asing yang deras, serta sentimen penyesuaian indeks MSCI yang akan efektif pada awal Juni 2026.

Meski sempat ditopang penguatan saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Barito Renewables Energy Tbk, dan PT Barito Pacific Tbk, indeks tetap berakhir di zona merah. Tekanan juga datang dari saham PT Astra International Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Central Asia Tbk, sementara pasar mencermati potensi aksi jual lanjutan menjelang rebalancing MSCI.

Tekanan IHSG dan arus asing

Investor asing tercatat melakukan jual bersih sekitar Rp1,89 triliun di pasar reguler pada perdagangan Selasa. Secara keseluruhan, nilai jual bersih asing mencapai sekitar Rp1,60 triliun, menandakan tekanan masih kuat di pasar saham domestik.

Mayoritas sektor bergerak melemah, dengan sektor industrial mencatat penurunan paling dalam. Di sisi lain, sektor infrastruktur masih mampu bertahan dan mencatat kenaikan tipis di tengah koreksi pasar yang lebih luas.

Tekanan di bursa domestik terjadi meski pasar saham Amerika Serikat ditutup menguat. Dow Jones bergerak terbatas, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq sama-sama naik, namun sentimen global itu belum cukup menopang IHSG.

Pelaku pasar masih menimbang pergerakan rupiah yang belum stabil sebagai faktor tambahan. Dalam dua hari terakhir, foreign outflow di pasar reguler tercatat mencapai sekitar Rp3,98 triliun, sehingga kewaspadaan investor masih tinggi.

GOTO menanti evaluasi MSCI

GoTo Gojek Tokopedia Tbk menjadi salah satu emiten yang paling diperhatikan pasar di tengah tekanan indeks. MSCI disebut membekukan perubahan terkait jumlah saham beredar, Foreign Inclusion Factor, Domestic Inclusion Factor, hingga komposisi indeks untuk saham GOTO dalam Tinjauan Indeks Mei 2026.

MSCI akan kembali mengevaluasi likuiditas saham GOTO pada review Agustus 2026 berdasarkan metodologi Global Investable Market Indexes. Saham GOTO sendiri bertahan di level Rp50 sejak 13 Mei 2026, menunjukkan pergerakan yang masih sangat terbatas.

Hingga 26 Mei, volume transaksi GOTO tercatat sekitar 333 juta saham dengan nilai transaksi Rp16,67 miliar. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata perdagangan Januari-April 2026 yang mencapai sekitar 4,62 miliar saham dengan nilai transaksi Rp274,63 miliar.

Perdagangan yang sepi membuat saham GOTO tetap berada di bawah pengawasan pelaku pasar. Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa sentimen indeks global masih menjadi penentu utama arah pergerakan saham tersebut dalam waktu dekat.

HRUM siapkan ekspansi bisnis

Harum Energy Tbk menetapkan target produksi batu bara sebesar 2 juta ton hingga 3 juta ton pada 2026. Perseroan juga membidik produksi dan penjualan nikel dalam bentuk NPI, HG Matte, dan MHP sebesar 107 ribu ton hingga 117 ribu ton metal pada tahun depan.

Untuk mendukung ekspansi, HRUM menyiapkan belanja modal sekitar US$310 juta. Sebagian besar dana akan diarahkan ke pengembangan unit usaha nikel, sementara sisanya digunakan untuk menjaga keberlanjutan bisnis batu bara.

Hingga kuartal I-2026, realisasi capex HRUM telah mencapai sekitar US$139 juta. Dana itu dipakai untuk pengembangan proyek nikel serta mendukung operasional pertambangan dan logistik perusahaan.

Rencana investasi tersebut menunjukkan fokus HRUM pada diversifikasi bisnis yang lebih agresif. Di tengah volatilitas harga komoditas, strategi ini diharapkan dapat memperkuat pendapatan jangka menengah perseroan.

TAPG bagikan dividen besar

Triputra Agro Persada Tbk memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp180 per saham. Total nilai dividen tersebut setara sekitar Rp3,57 triliun dan merepresentasikan sekitar 96,43 persen laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Sepanjang 2025, TAPG membukukan pendapatan Rp11,40 triliun, naik 17,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Laba bersih perseroan juga tumbuh 18,59 persen menjadi Rp3,70 triliun, sementara laba per saham meningkat menjadi Rp186.

Dividen Rp180 per saham itu sudah mencakup dua dividen interim yang sebelumnya dibayarkan, masing-masing sebesar Rp39 per saham dan Rp50 per saham. Dengan demikian, dividen final yang akan dibagikan mencapai Rp91 per saham atau sekitar Rp1,81 triliun.

Perseroan menetapkan cum date dividen pada 3 Juni 2026 dan jadwal pembayaran dividen final pada 18 Juni 2026. Kebijakan ini menjadi salah satu katalis positif bagi investor yang mencari saham dengan imbal hasil menarik di tengah pasar yang bergejolak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!