Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali tertekan pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, setelah pasar merespons pengumuman badan usaha milik negara khusus ekspor yang baru. Chief Investment Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, Pandu Sjahrir, menyebut pelemahan itu terjadi karena investor masih mencari kepastian atas implementasi kebijakan tersebut.
Menurut data RTI, IHSG sempat turun lebih dari 2 persen pada sesi awal perdagangan dan bergerak di level 6.144, melemah 174 poin atau 2,76 persen. Di tengah tekanan itu, pemerintah menegaskan bahwa pembentukan BUMN ekspor ditujukan untuk memperkuat tata kelola komoditas sumber daya alam dan menutup celah praktik kurang bayar pajak.
IHSG dan Kepastian Pasar
Pandu menilai pasar saham pada dasarnya membutuhkan kepastian sebelum memberi respons positif. Ia menyebut investor ingin mengetahui hasil akhir dari kebijakan BUMN ekspor yang baru diumumkan pemerintah.
Dalam penjelasannya di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Pandu mengatakan investor perlu melihat arah implementasi kebijakan tersebut. Ia menambahkan bahwa reaksi pasar yang melemah merupakan hal yang wajar saat informasi baru belum sepenuhnya dipahami.
Menurutnya, pasar akan lebih tenang jika manfaat kebijakan dapat dijelaskan secara konkret. Dengan begitu, pelaku pasar bisa menilai dampak kebijakan terhadap perdagangan komoditas dan kinerja emiten terkait.
Pandangan itu sejalan dengan kondisi perdagangan yang menunjukkan tekanan pada saham-saham sensitif terhadap kebijakan pemerintah. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung menahan diri sambil menunggu kejelasan lebih lanjut.
IHSG Tertekan Usai Kebijakan
Penurunan IHSG terjadi setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa seluruh ekspor sumber daya alam akan dikelola satu pintu. Mekanisme itu dilakukan melalui BUMN yang telah ditunjuk pemerintah sebagai pengekspor tunggal.
Komoditas yang masuk dalam skema tersebut antara lain kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi atau ferro alloy. Kebijakan itu disampaikan dalam rapat paripurna di Gedung DPR RI, Jakarta, pada Rabu, 20 Mei 2026.
Pemerintah menyatakan langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat pengawasan atas penjualan hasil sumber daya alam. Selain itu, kebijakan ini juga dimaksudkan agar penerimaan negara lebih optimal.
Namun, pasar masih menimbang dampak kebijakan tersebut terhadap alur ekspor dan kepastian operasional pelaku usaha. Ketidakpastian inilah yang kemudian memicu volatilitas pada perdagangan saham domestik.
Danantara Jaga Optimisme Pasar
Pandu meminta investor untuk tetap optimistis terhadap arah kebijakan yang sedang disiapkan pemerintah. Ia meyakini pasar akan memahami manfaat dari pembentukan BUMN ekspor setelah penjelasan yang lebih lengkap tersedia.
Menurut dia, optimisme perlu dijaga karena pasar pada akhirnya akan menilai kebijakan dari hasil yang ditunjukkan. Ia menegaskan bahwa penyesuaian awal di bursa bukan berarti prospek jangka menengah menjadi negatif.
Ia juga menyampaikan bahwa pasar akan melihat berbagai aspek, termasuk tata kelola, transparansi, dan efektivitas implementasi. Bila semua unsur itu berjalan baik, ia menilai sentimen pasar dapat membaik dalam waktu dekat.
Pandangan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah dan pengelola investasi masih berupaya membangun keyakinan investor. Di sisi lain, pelaku pasar kini menunggu kejelasan teknis dari kebijakan satu pintu tersebut.
IHSG Menunggu Arah Baru
Pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini menjadi cerminan bahwa pasar masih sensitif terhadap kebijakan ekonomi strategis. Saham cenderung bergerak lebih hati-hati ketika ada perubahan besar dalam pengelolaan ekspor komoditas.
Dalam konteks ini, kejelasan regulasi menjadi faktor penting agar investor dapat menghitung risiko secara lebih akurat. Kepastian tersebut juga diperlukan agar pelaku usaha tidak menunda keputusan bisnis.
Apabila implementasi kebijakan berlangsung mulus, pasar berpotensi membaca sentimen positif dari upaya pemerintah memperkuat tata kelola ekspor. Kondisi itu dapat menjadi penopang bagi pemulihan IHSG setelah tekanan awal.
Untuk sementara, pasar masih berada dalam fase menunggu dan mengamati. Arah berikutnya sangat bergantung pada penjelasan pemerintah serta respons pelaku usaha terhadap skema BUMN ekspor yang baru.
