IHSG Terkoreksi Tipis, Saham BREN hingga MERK Jadi Sorotan

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 02 Juni 2026 09:10 WIB 3
IHSG Terkoreksi Tipis, Saham BREN hingga MERK Jadi Sorotan

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah tipis 0,05 persen ke level 6.127,38 pada perdagangan Jumat, 29 Mei, di tengah derasnya aksi jual investor asing dan penyesuaian portofolio menjelang serta setelah rebalancing MSCI. Pergerakan pasar domestik masih tertahan, meski sejumlah saham berkapitalisasi besar sempat menjadi penopang indeks.

Di sisi emiten, perhatian pelaku pasar tertuju pada kinerja BUMA Internasional Grup Tbk, rencana rights issue Bakrie & Brothers Tbk, serta pembagian dividen Merck Tbk. Sentimen global yang cenderung membaik belum cukup mengangkat IHSG, karena pasar masih mencermati potensi arus keluar dana dan dampak kebijakan likuiditas domestik.

IHSG Masih Tertekan

IHSG bergerak terbatas sepanjang perdagangan dan akhirnya ditutup di zona merah tipis. Tekanan utama datang dari aksi jual investor asing yang masih berlanjut di pasar reguler maupun seluruh pasar. Kondisi ini membuat penguatan sejumlah saham unggulan belum mampu mengangkat indeks lebih tinggi. Pelaku pasar juga menyesuaikan posisi menjelang perubahan komposisi indeks global.

Data perdagangan menunjukkan investor asing mencatat jual bersih sekitar Rp8,36 triliun di pasar reguler. Di seluruh pasar, nilai jual bersih asing mencapai Rp8,52 triliun. Arus keluar dana tersebut menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan indeks. Selain itu, rebalancing MSCI ikut memicu penyesuaian portofolio pada sejumlah saham tertentu.

Meski demikian, beberapa saham mampu menjadi penggerak utama IHSG. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk, PT Barito Pacific Tbk, dan PT Petrosea Tbk masing-masing menguat 25,00 persen, 24,76 persen, dan 24,87 persen. Kenaikan tajam itu menahan pelemahan indeks agar tidak lebih dalam. Namun, kontribusinya belum cukup untuk menutup tekanan dari saham-saham besar yang terkoreksi.

Di sisi lain, saham PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menjadi pemberat utama. Dari sebelas indeks sektoral, lima sektor berakhir melemah. Sektor kesehatan mencatat koreksi terdalam sebesar 1,49 persen, sedangkan sektor industri dasar memimpin penguatan sebesar 2,65 persen.

Sentimen Pasar Global

Pasar saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones naik 0,09 persen, S&P 500 bertambah 0,26 persen, dan Nasdaq menguat 0,42 persen. Penguatan itu memberi sinyal bahwa sentimen global masih relatif positif. Namun, dampaknya ke pasar domestik belum terlihat kuat pada penutupan IHSG.

Pelaku pasar di Indonesia tetap berhati-hati karena mencermati lanjutan arus dana keluar. Efektifnya rebalancing MSCI membuat sejumlah investor menunggu arah baru portofolio asing. Kondisi ini mendorong perdagangan berlangsung selektif. Saham-saham dengan likuiditas tinggi masih menjadi fokus utama transaksi.

Indeks MSCI Indonesia tercatat turun 1,26 persen. Sebaliknya, ETF Indonesia atau EIDO justru naik 1,02 persen. Perbedaan arah ini menunjukkan pasar masih bereaksi beragam terhadap sentimen terbaru. Investor global tampaknya masih menakar kembali prospek saham Indonesia dalam jangka pendek.

Selain faktor pasar, kebijakan sentralisasi ekspor dan kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor juga turut menjadi perhatian. Aturan tersebut berpotensi memengaruhi kondisi likuiditas di pasar keuangan. Karena itu, investor masih menimbang dampaknya terhadap pergerakan dana di dalam negeri. Dalam situasi seperti ini, volatilitas pasar dinilai masih berpeluang berlanjut.

Kinerja Emiten Menarik

BUMA Internasional Grup Tbk membukukan pendapatan sebesar US$318,18 juta pada kuartal I-2026. Angka tersebut turun 9,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski pendapatan melemah, perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan secara signifikan. Efisiensi itu menjadi penopang utama perbaikan kinerja operasional.

Beban pokok pendapatan DOID turun 15,45 persen menjadi US$317,88 juta. Rugi bersih perseroan menyusut menjadi US$24,28 juta dari sebelumnya US$70,40 juta pada kuartal I-2025. EBITDA juga melonjak 98 persen menjadi US$28 juta. Margin EBITDA naik ke level 11 persen dari 5 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Bakrie & Brothers Tbk berencana melakukan rights issue sebanyak 89,92 miliar saham baru. Harga pelaksanaan ditetapkan Rp53 per saham dengan target perolehan dana sekitar Rp4,76 triliun. Sebagian besar dana akan dialokasikan untuk anak usaha PT Bakrie Toll Indonesia. Dana itu terutama digunakan untuk menyelesaikan kewajiban kepada Hartman International Pte Ltd dan Bank Nobu.

Sisanya akan dipakai untuk modal kerja PT Bakrie Construction, penyertaan modal ke PT Cimanggis Cibitung Tollways, serta kebutuhan operasional perusahaan. Rights issue tersebut memiliki rasio 14 HMETD untuk setiap 27 saham lama. Perdagangan HMETD dijadwalkan pada 30 Juni hingga 13 Juli 2026. Dua pemegang saham utama juga tidak mengambil bagian dan mengalihkan haknya kepada PT Bakrie Capital Indonesia.

Dividen Dan Rekomendasi

Merck Tbk menetapkan dividen tunai sebesar Rp275 per saham untuk tahun buku 2025. Total dana yang dialokasikan mencapai Rp123,20 miliar atau setara 51,51 persen dari laba bersih tahun berjalan. Kebijakan ini menunjukkan tingkat distribusi laba yang cukup besar kepada pemegang saham. Keputusan tersebut didukung oleh pertumbuhan kinerja perseroan sepanjang 2025.

MERK membukukan pendapatan Rp1,20 triliun, naik 15,82 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih juga meningkat 58,95 persen menjadi Rp243,90 miliar. Laba per saham naik menjadi Rp544 dari Rp343 pada tahun sebelumnya. Dengan harga penutupan Rp3.900 pada 29 Mei 2026, imbal hasil dividen tercatat sekitar 7,05 persen.

Jadwal cum dividen MERK ditetapkan pada 5 Juni 2026. Pembayaran dividen akan dilakukan pada 24 Juni 2026. Jadwal ini menjadi perhatian investor yang memburu saham berbasis dividen. Di tengah volatilitas pasar, aksi korporasi dan pembagian laba seperti ini kerap menjadi penopang minat beli.

Untuk perdagangan berikutnya, beberapa saham direkomendasikan dengan pendekatan teknikal. Daftar yang disorot meliputi AADI, BRPT, CUAN, KPIG, dan MBMA dengan level beli, target harga, dan batas rugi yang telah ditentukan. Meski demikian, setiap keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor. Pasar saham tetap membawa peluang sekaligus risiko yang perlu dikelola secara disiplin.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!