IHSG Terkoreksi Tajam Usai Pidato Prabowo soal Ekspor SDA

Forex & Saham Kevin S. Pratama 25 Mei 2026 15:00 WIB 3
IHSG Terkoreksi Tajam Usai Pidato Prabowo soal Ekspor SDA

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG berbalik arah dan tertekan tajam setelah pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam. Pada perdagangan Rabu, indeks sempat menguat lebih dari 1 persen sebelum akhirnya melemah lebih dari 2 persen.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG turun 2,25 persen ke level 6.227,41 pada pukul 11.19 WIB. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen pasar yang merespons kebijakan baru pemerintah terkait ekspor SDA melalui BUMN.

IHSG Berbalik Arah

Pergerakan IHSG pada sesi perdagangan siang menunjukkan tekanan jual yang semakin kuat. Indeks sempat menyentuh level 6.459,55 sebelum pidato Prabowo disampaikan. Setelah itu, pasar bergerak melemah secara konsisten.

Data RTI Business mencatat 135 saham menguat, 548 saham melemah, dan 127 saham stagnan. Kondisi tersebut menegaskan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada indeks utama. Sentimen negatif menyebar ke banyak saham di lantai bursa.

Sepanjang 2026, IHSG tercatat melemah hingga 27,64 persen. Angka itu menggambarkan tekanan yang masih membayangi pasar modal domestik. Investor cenderung berhati-hati menghadapi perubahan kebijakan dan volatilitas global.

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati apakah koreksi ini bersifat sementara atau berlanjut. Arah perdagangan ke depan akan sangat dipengaruhi respons investor terhadap kebijakan pemerintah. Pasar juga menunggu kepastian teknis atas implementasi aturan baru tersebut.

Sektor Basic Industry Tertekan

Sektor basic industry menjadi yang paling tertekan dalam perdagangan hari ini. Penurunannya mencapai 5,75 persen dan menjadi beban utama IHSG. Tekanan di sektor ini memperlihatkan kekhawatiran pasar terhadap dampak kebijakan baru.

Sejumlah saham di sektor tersebut terkoreksi tajam, termasuk PT Chandra Asri Pacific Tbk atau TPIA. Saham emiten itu bahkan menyentuh auto reject bawah atau ARB 14,74 persen ke harga Rp2.660 per saham. Penurunan ini menjadi salah satu yang paling dalam di jajaran saham utama.

PT Barito Pacific Tbk atau BRPT juga melemah 7,31 persen ke harga Rp7,31 per saham. Sementara itu, PT Amman Mineral International Tbk atau AMMN turun 7,26 persen ke harga Rp2.950 per saham. Pelemahan serentak pada saham-saham tersebut memperparah tekanan indeks.

Investor menilai sektor berbasis komoditas menjadi pihak yang paling sensitif terhadap kebijakan ekspor SDA. Ketidakpastian mengenai skema baru dapat memengaruhi proyeksi kinerja emiten. Karena itu, aksi jual terjadi lebih cepat pada saham-saham terkait.

Kebijakan Ekspor Lewat BUMN

Dalam pidatonya di Sidang Paripurna DPR RI, Prabowo menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam. Aturan tersebut disebut disusun agar ekspor SDA memberi manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Pemerintah ingin memastikan nilai tambah tetap berada di dalam negeri.

Prabowo menegaskan penerbitan PP itu merupakan langkah strategis untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas. Menurutnya, kebijakan ini tidak hanya soal perdagangan, tetapi juga soal kedaulatan ekonomi. Pemerintah ingin memastikan pengelolaan sumber daya lebih tertib dan terarah.

Ia juga menyebut seluruh penjualan ekspor SDA akan dikelola melalui BUMN. Dengan kebijakan itu, negara memiliki kendali yang lebih kuat atas arus ekspor komoditas strategis. Langkah ini diharapkan meningkatkan transparansi dan penerimaan negara.

Komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, batu bara, hingga ferro alloy nantinya wajib diekspor melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah. Kebijakan ini diproyeksikan mengubah rantai distribusi ekspor yang selama ini berjalan di pasar. Pelaku usaha kini menunggu aturan turunan yang akan menjelaskan mekanisme operasionalnya.

Respons Pasar Saham

Pasar saham bereaksi cepat terhadap pidato tersebut karena investor menilai kebijakan baru berpotensi mengubah lanskap bisnis ekspor. Sentimen ini mendorong aksi jual pada saham-saham yang memiliki keterkaitan dengan komoditas. Tekanan kemudian merembet ke indeks secara keseluruhan.

Di tengah volatilitas itu, pelaku pasar cenderung melakukan penyesuaian portofolio. Sebagian investor memilih mengurangi eksposur pada saham komoditas sambil menunggu kejelasan implementasi kebijakan. Sikap hati-hati ini membuat transaksi semakin didominasi tekanan jual.

Analis menilai arah IHSG dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi persepsi pasar atas aturan baru tersebut. Jika pelaku usaha melihat kepastian regulasi, tekanan bisa mereda. Namun jika ketidakpastian berlanjut, volatilitas berpotensi tetap tinggi.

Perdagangan hari ini menjadi sinyal bahwa pasar sangat responsif terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Pernyataan pejabat negara dapat langsung berdampak pada pergerakan indeks dan saham sektoral. Karena itu, investor diminta mencermati perkembangan kebijakan secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!