IHSG Terkoreksi, Saham Bank dan Emiten Jadi Penopang

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 24 Mei 2026 09:02 WIB 6
IHSG Terkoreksi, Saham Bank dan Emiten Jadi Penopang

Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah pada perdagangan Rabu, 20 Mei, setelah turun 0,82 persen ke level 6.318,50. Koreksi terjadi ketika tekanan melanda mayoritas sektor, terutama basic industry yang menjadi pemberat terbesar. Di tengah pelemahan itu, saham keuangan justru bergerak positif dan menahan penurunan lebih dalam. Pelaku pasar juga mencermati sentimen global, rencana pemerintah terkait ekspor komoditas, serta sejumlah agenda ekonomi penting.

Di pasar reguler, investor asing membukukan jual bersih Rp130,88 miliar, meski secara keseluruhan pasar masih mencatat beli bersih Rp249,17 miliar. Bursa Amerika Serikat sebelumnya ditutup menguat, namun sentimen domestik tetap dominan karena kekhawatiran terhadap emiten berbasis komoditas. Pergerakan saham juga dipengaruhi kinerja emiten, aksi korporasi, dan proyeksi data ekonomi makro. Kondisi ini membuat pasar bergerak selektif dan cenderung berhati-hati.

IHSG Melemah di Pasar

IHSG berada di bawah tekanan sepanjang perdagangan karena sebagian besar sektor bergerak di zona merah. Basic industry terkoreksi paling dalam sebesar 4,67 persen dan menjadi penekan utama indeks. Sektor keuangan menjadi satu-satunya penopang besar dengan kenaikan 1,21 persen. Situasi tersebut menunjukkan rotasi saham masih berlangsung di tengah kehati-hatian investor.

Sejumlah saham menjadi penggerak penguatan, dipimpin Mora Telematika Indonesia yang naik 19,75 persen. Sinarmas Multiartha menguat 8,49 persen, sementara Bank Mandiri bertambah 2,42 persen. Di sisi lain, saham grup petrokimia dan energi melemah cukup tajam. Chandra Asri Pacific turun 14,74 persen, Barito Pacific melemah 10,18 persen, dan Barito Renewables Energy terkoreksi 7,62 persen.

Tekanan pada saham komoditas juga berkaitan dengan rencana pemerintah membentuk BUMN ekspor untuk sentralisasi ekspor CPO dan batu bara. Kebijakan tersebut dinilai dapat mengubah peta distribusi ekspor dan menekan sentimen pada emiten terkait. Investor kemudian memilih menunggu kepastian arah kebijakan sebelum kembali agresif membeli. Dalam kondisi seperti ini, pasar cenderung merespons berita kebijakan dengan sensitivitas tinggi.

Sentimen Global Masih Menunggu

Pelaku pasar kini menantikan notulen rapat Federal Open Market Committee dari The Fed. Rilis tersebut berpotensi memberi petunjuk arah suku bunga dan pandangan bank sentral Amerika Serikat. Selain itu, pasar juga menunggu data neraca berjalan Indonesia kuartal I-2026. Konsensus memperkirakan defisit mencapai US$4,50 miliar.

Dari sisi eksternal, bursa saham Amerika Serikat memang ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones naik 1,31 persen ke level 50.009, S and P 500 bertambah 1,08 persen menjadi 7.432, dan Nasdaq menguat 1,55 persen ke posisi 26.270. Namun penguatan Wall Street belum cukup mengangkat IHSG pada perdagangan domestik. Investor tampak lebih fokus pada dinamika sektor dan sentimen lokal.

Arus dana asing juga menunjukkan sikap selektif di pasar Indonesia. Jual bersih di pasar reguler menandakan sebagian pelaku memilih mengurangi eksposur jangka pendek. Meski demikian, beli bersih secara keseluruhan masih menandakan minat terhadap pasar domestik belum hilang. Kombinasi data global dan arus modal ini membuat arah IHSG bergerak terbatas.

Kinerja Emiten Jadi Sorotan

Indika Energy Tbk membukukan laba bersih US$13,59 juta pada kuartal I-2026, naik 33,88 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perseroan juga naik tipis menjadi US$493,21 juta dari US$489,59 juta. Kenaikan pendapatan investasi membantu menopang kinerja perusahaan. Beban perusahaan pun turun 1,57 persen menjadi US$419,18 juta.

Perseroan mencatat pendapatan investasi meningkat 73,51 persen menjadi US$5,47 juta. Pendorongnya berasal dari peningkatan investasi pada Nanshan Aluminium International Holdings Ltd yang mencapai US$20,04 juta. Penurunan beban pokok juga dipengaruhi kenaikan persediaan batu bara selama kuartal berjalan. Kondisi tersebut mengindikasikan produksi batu bara lebih tinggi dibanding volume penjualan.

Cisadane Sawit Raya Tbk menargetkan volume pengolahan tandan buah segar sebanyak 700 ribu ton tahun ini, naik dari 500 ribu ton pada tahun sebelumnya. Hingga kuartal I-2026, realisasi produksi TBS telah mencapai 18 persen dari target tahunan. Perseroan juga menyiapkan belanja modal Rp100 miliar untuk replanting dan penambahan landbank. Di sisi pendapatan, perusahaan menargetkan pertumbuhan menjadi Rp2 triliun dari Rp1,89 triliun.

Buyback dan Rekomendasi Saham

Bangun Kosambi Sukses menyiapkan dana maksimal Rp250 miliar untuk pembelian kembali saham. Aksi buyback akan dilakukan dengan menggunakan kas internal perusahaan yang pada kuartal I-2026 mencapai Rp2,75 triliun. Periode pelaksanaan ditetapkan pada 20 Mei hingga 19 Agustus 2026. Prosesnya akan dijalankan melalui Ina Sekuritas Indonesia sesuai ketentuan POJK.

Manajemen menyebut jumlah saham yang dibeli kembali tetap mengacu pada aturan saham treasuri. Langkah ini umumnya dilakukan untuk mendukung stabilitas harga saham dan mengoptimalkan struktur modal. Namun dampaknya tetap bergantung pada respons pasar terhadap sentimen korporasi dan kondisi likuiditas. Investor perlu mencermati detail pelaksanaan agar dapat menilai efeknya secara lebih akurat.

Sejumlah rekomendasi saham juga disusun untuk perdagangan hari ini. PTBA direkomendasikan buy di rentang 2.770 hingga 2.820 dengan target 2.850 hingga 2.900 dan stop loss 2.650, sementara ASII direkomendasikan buy di 5.900 hingga 5.950 dengan target 6.050 hingga 6.100 dan stop loss 5.700. MYOR, OASA, dan KETR juga masuk daftar pantauan dengan level masuk dan target yang telah ditentukan. Seluruh rekomendasi tersebut bersifat informatif dan tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.

Tag Terkait
#IHSG#saham#emiten

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!