Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali tertekan pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, setelah dibuka di level 6.065 dan bergerak fluktuatif sejak awal sesi. Berdasarkan data RTI pada pukul 09.05 WIB, IHSG berada di level 6.047 atau melemah 47 poin setara 0,78 persen. Pergerakan ini membuat pasar kembali menyoroti kuatnya tekanan jual di tengah sentimen yang belum sepenuhnya pulih.
Sepanjang sesi pagi, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.074 dan terendah 5.966, menunjukkan volatilitas yang masih tinggi. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp1,67 triliun dengan volume 3,60 miliar lembar saham dalam 178.693 kali transaksi. Dari total saham yang diperdagangkan, 129 saham menguat, 418 saham melemah, dan 155 saham stagnan.
IHSG dan Tekanan Jual
Tekanan pada IHSG terlihat jelas dari dominasi saham yang melemah pada awal perdagangan. Kondisi ini menandakan pelaku pasar masih cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi. Di tengah ketidakpastian, aksi jual terus menahan ruang penguatan indeks.
Meski sempat bergerak ke area tertinggi 6.074, IHSG gagal bertahan di zona tersebut. Pergerakan naik turun yang cepat menunjukkan pasar masih mencari arah yang lebih stabil. Situasi ini juga menegaskan bahwa minat beli belum cukup kuat untuk membalikkan tren.
Volume transaksi yang besar tidak serta-merta mendorong penguatan indeks. Sebaliknya, nilai perdagangan yang tinggi justru mengiringi aksi ambil untung pada sejumlah saham. Pola ini kerap muncul saat investor memilih mengamankan posisi lebih awal.
Dengan lebih dari 400 saham melemah, tekanan pasar terlihat tersebar ke banyak sektor. Artinya, koreksi tidak hanya terjadi pada satu kelompok emiten tertentu. Kondisi seperti ini biasanya membuat pemulihan indeks berjalan lebih lambat.
Perbandingan dengan Masa COVID
Pergerakan IHSG yang lesu mengingatkan sebagian pelaku pasar pada periode awal pandemi COVID-19. Saat itu, sentimen global dan domestik sama-sama menekan pasar modal Indonesia. Akibatnya, IHSG mengalami penurunan tajam dalam waktu singkat.
Pada 2 Maret 2020, ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus positif pertama di Indonesia, IHSG ditutup melemah 91 poin atau 1,67 persen ke level 5.361. Angka tersebut menjadi sinyal awal bahwa pasar akan menghadapi tekanan yang lebih berat. Kekhawatiran terhadap penyebaran virus membuat investor bergegas keluar dari aset berisiko.
Tekanan kemudian semakin dalam ketika jumlah kasus terus bertambah. Pada perdagangan 9 Maret 2020, IHSG ditutup anjlok 6,5 persen ke level 5.136. Penurunan sebesar itu termasuk jarang terjadi dan hanya muncul saat kondisi pasar benar-benar genting.
Situasi tersebut mendorong regulator mengambil langkah cepat untuk menahan kepanikan. Bursa Efek Indonesia kemudian menerapkan penghentian perdagangan atau trading halt pada 10 Maret 2020. Kebijakan itu menjadi salah satu upaya menjaga stabilitas pasar di tengah gejolak ekstrem.
Catatan Kinerja IHSG
Selain melemah pada perdagangan harian, IHSG juga mencatat kinerja negatif dalam periode yang lebih panjang. Secara bulanan, indeks melemah 20,01 poin. Dalam tiga bulan, pelemahannya mencapai 25,38 persen.
Jika dilihat sepanjang 2026, IHSG sudah terkoreksi 30,07 persen. Angka ini menggambarkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terjadi sesaat, tetapi berlangsung berkelanjutan. Dengan kinerja seperti ini, investor cenderung menahan diri untuk masuk agresif.
Pergerakan indeks yang terus tertekan juga memberi sinyal bahwa sentimen makro masih belum solid. Ketidakpastian global, arus modal asing, dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan ekonomi menjadi faktor yang ikut diperhatikan. Seluruh elemen tersebut membentuk arah perdagangan yang lebih defensif.
Di sisi lain, koreksi yang dalam kerap memunculkan peluang selektif bagi investor jangka panjang. Namun, keputusan masuk pasar tetap membutuhkan pertimbangan yang cermat dan disiplin risiko. Tanpa strategi yang tepat, volatilitas justru berpotensi menambah kerugian.
Prospek Pasar Saham
Ke depan, arah IHSG akan sangat bergantung pada sentimen pasar dan respons investor terhadap perkembangan terbaru. Jika tekanan jual masih dominan, indeks berpeluang bergerak terbatas. Sebaliknya, perbaikan minat beli dapat membantu meredakan koreksi yang terjadi.
Pelaku pasar biasanya mencermati arus dana, pergerakan saham berkapitalisasi besar, serta kebijakan otoritas pasar modal. Ketiga faktor itu sering menjadi penentu cepat atau lambatnya pemulihan indeks. Karena itu, setiap perkembangan informasi dapat berdampak langsung pada psikologi pasar.
Investor juga cenderung membandingkan kondisi saat ini dengan fase-fase koreksi sebelumnya. Pengalaman pada masa pandemi menunjukkan bahwa pasar bisa jatuh dalam, tetapi juga mampu pulih ketika kepastian kembali muncul. Hal serupa menjadi perhatian dalam membaca peluang IHSG ke depan.
Dengan volatilitas yang masih tinggi, pasar saham Indonesia membutuhkan katalis yang lebih kuat untuk kembali stabil. Penguatan berkelanjutan kemungkinan baru terjadi jika tekanan eksternal mereda dan kepercayaan investor membaik. Sampai saat itu tiba, IHSG masih berpotensi bergerak hati-hati.
