IHSG Terkoreksi, DOID dan BEEF Siapkan Buyback Saham

Forex & Saham Kevin S. Pratama 26 Mei 2026 02:01 WIB 3
IHSG Terkoreksi, DOID dan BEEF Siapkan Buyback Saham

Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 3,46 persen ke level 6.370,68 pada perdagangan Selasa, 19 Mei, seiring tekanan pada mayoritas sektor dan sentimen global yang cenderung negatif. Meski pasar terkoreksi dalam, investor asing masih mencatat beli bersih di pasar reguler dan seluruh pasar, menunjukkan minat beli yang belum sepenuhnya hilang.

Di tengah pelemahan tersebut, sejumlah saham justru bergerak menguat, terutama SRAJ, AMRT, dan BRIS, sementara DSSA, MORA, dan BBCA menjadi penekan utama indeks. Pelaku pasar kini menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia, di saat rupiah masih berada di bawah tekanan dan bursa Amerika Serikat juga ditutup melemah.

IHSG Tertekan Sentimen Global

Perdagangan saham pada Selasa berakhir di zona merah setelah tekanan terjadi hampir di seluruh sektor. Hanya sektor kesehatan yang mampu bertahan dan mencatat kenaikan tipis, sedangkan basic industry menjadi sektor dengan pelemahan terdalam. Kondisi ini memperlihatkan bahwa aksi jual masih dominan di tengah kehati-hatian investor.

Tekanan indeks tidak lepas dari melemahnya bursa Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq sama-sama terkoreksi, sehingga memicu kehati-hatian di pasar Asia. Sentimen eksternal tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Di sisi lain, data transaksi menunjukkan investor asing tetap melakukan akumulasi bersih di pasar saham domestik. Beli bersih tersebut memberi sinyal bahwa koreksi IHSG belum sepenuhnya mengubah pandangan asing terhadap prospek pasar Indonesia. Namun, arah pergerakan indeks masih sangat bergantung pada respons terhadap data makro dan kebijakan suku bunga pekan ini.

Menanti Keputusan Bank Indonesia

Fokus pasar kini tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diperkirakan akan menjadi katalis penting bagi arah IHSG berikutnya. Konsensus memproyeksikan BI Rate naik menjadi 5,00 persen dari sebelumnya 4,75 persen. Ekspektasi itu muncul di tengah tekanan terhadap rupiah yang masih bertahan di sekitar Rp17.705 per dolar AS.

Kebijakan moneter berpotensi menentukan minat investor terhadap saham-saham perbankan, konsumsi, dan emiten yang sensitif terhadap suku bunga. Jika BI memilih tetap berhati-hati, pasar dapat membaca langkah tersebut sebagai upaya menjaga stabilitas rupiah. Sebaliknya, keputusan yang tidak sesuai ekspektasi berpotensi menambah volatilitas di bursa.

Pergerakan harga minyak global juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi biaya operasional sejumlah emiten. Kenaikan harga energi yang tajam berpotensi menekan margin perusahaan tertentu, terutama yang memiliki konsumsi bahan bakar besar. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung memilih saham dengan fundamental kuat dan arus kas yang stabil.

DOID ABMM dan BEEF

Delta Dunia Makmur Tbk mengumumkan rencana pembelian kembali saham dengan nilai maksimal US$6 juta atau sekitar Rp104,25 miliar. Dana untuk aksi korporasi ini akan berasal dari kas internal perseroan. Manajemen menargetkan pembelian hingga 320,77 juta saham atau setara 4,36 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Pelaksanaan buyback akan dilakukan bertahap setelah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPS pada 24 Juni 2026. Perusahaan menyiapkan batas pelaksanaan maksimal 12 bulan, dengan target selesai pada Juni 2027. Setelah aksi tersebut, jumlah saham beredar diproyeksikan menurun dan ekuitas perseroan ikut terkoreksi.

Sementara itu, ABM Investama Tbk membukukan laba bersih kuartal I-2026 sebesar US$14,88 juta, turun 30,39 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan juga melemah menjadi US$222,65 juta, tertekan kenaikan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah. Di sisi lain, Estika Tata Tiara Tbk menyiapkan buyback saham senilai maksimal Rp100 miliar melalui BCA Sekuritas sebagai bagian dari strategi penguatan struktur modal.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Di tengah volatilitas pasar, sejumlah saham masih menarik dicermati oleh pelaku pasar jangka pendek. TLKM direkomendasikan pada area beli 3.020 hingga 3.050 dengan target 3.120 sampai 3.160 dan batas rugi di 2.850. ASPR juga masuk pantauan dengan area beli 452 hingga 456 serta target 468 sampai 480.

Untuk saham konsumsi, MYOR dinilai berpeluang bergerak positif selama bertahan di area teknikal yang disarankan. SMIL turut direkomendasikan dengan target kenaikan moderat, sementara AMRT tetap menarik karena didukung likuiditas dan minat beli yang masih kuat. Seluruh rekomendasi tersebut perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.

Meski sejumlah saham menunjukkan peluang teknikal, investor tetap perlu mencermati risiko koreksi lanjutan pada IHSG. Kombinasi tekanan global, arah suku bunga, dan pergerakan rupiah dapat mengubah sentimen pasar dengan cepat. Karena itu, disiplin pada strategi masuk dan keluar menjadi kunci dalam menghadapi pasar yang volatil.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!