IHSG Terkoreksi, DOID dan BEEF Siapkan Buyback Saham

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 23 Mei 2026 05:13 WIB 8
IHSG Terkoreksi, DOID dan BEEF Siapkan Buyback Saham

Indeks Harga Saham Gabungan IHSG ditutup melemah 3,46% ke posisi 6.370,68 pada perdagangan Selasa, 19 Mei, di tengah tekanan mayoritas sektor dan pelemahan bursa global. Meski pasar terkoreksi, investor asing masih mencatatkan beli bersih, sementara sejumlah emiten mengumumkan aksi korporasi dan saham pilihan tetap menarik dicermati.

Tekanan pasar datang seiring melemahnya indeks utama Amerika Serikat, penurunan harga sejumlah saham berkapitalisasi besar, serta ekspektasi terhadap keputusan suku bunga Bank Indonesia. Di sisi lain, rencana buyback dari DOID dan BEEF, serta laporan kinerja ABMM, menjadi fokus utama pelaku pasar hari ini.

IHSG dan sentimen pasar

IHSG terkoreksi cukup dalam seiring tekanan pada mayoritas sektor. Sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang mampu menguat, sedangkan sektor basic industry mencatat pelemahan paling besar.

Di tengah penurunan indeks, aliran dana asing tetap masuk ke pasar domestik. Investor asing membukukan beli bersih sekitar Rp306,34 miliar di pasar reguler dan Rp260,12 miliar di seluruh pasar.

Pergerakan pasar juga dipengaruhi sentimen eksternal dari bursa Amerika Serikat yang kompak melemah. Dow Jones turun 0,65 persen, S&P 500 terkoreksi 0,67 persen, dan Nasdaq melemah 0,84 persen.

Pelaku pasar kini menunggu keputusan suku bunga Bank Indonesia untuk Mei 2026. Konsensus memperkirakan BI Rate naik menjadi 5,00 persen dari sebelumnya 4,75 persen, di tengah tekanan rupiah di kisaran Rp17.705 per dolar AS.

Aksi buyback emiten

Delta Dunia Makmur Tbk atau DOID mengumumkan rencana buyback saham dengan nilai maksimal US$6 juta atau sekitar Rp104,25 miliar. Dana pembelian kembali saham tersebut akan berasal dari kas internal perseroan.

Perseroan menargetkan pembelian hingga 320,77 juta saham, setara 4,36 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Hingga akhir Desember 2025, kas DOID tercatat sebesar US$210,26 juta.

Pelaksanaan buyback akan dilakukan bertahap selama maksimal 12 bulan setelah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPS pada 24 Juni 2026. Batas akhir pelaksanaan direncanakan pada Juni 2027.

Estika Tata Tiara Tbk atau BEEF juga menyiapkan aksi serupa dengan nilai maksimal Rp100 miliar. Perseroan menargetkan pembelian kembali sekitar 333,33 juta saham, setara 4,10 persen dari total saham beredar, melalui BCA Sekuritas.

Kinerja ABMM

ABM Investama Tbk atau ABMM membukukan laba bersih kuartal I-2026 sebesar US$14,88 juta. Capaian tersebut turun 30,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan perseroan juga turun menjadi US$222,65 juta dari sebelumnya US$250,02 juta. Manajemen menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang menekan operasional.

Harga minyak pada kuartal I-2026 tercatat mencapai US$101,38 per barel. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding posisi akhir 2025 yang sebesar US$57,42 per barel.

ABMM kini fokus menyelesaikan perizinan proyek PT Piranti Jaya Utama di Kalimantan Tengah. Perseroan menargetkan proyek tersebut mulai beroperasi pada akhir 2026, sambil menunggu kontribusi tambahan dari tambang PT Nirmala Coal Nusantara di Aceh.

Rekomendasi saham

Sejumlah saham tetap menarik untuk dicermati investor di tengah volatilitas pasar. Rekomendasi harian mencakup TLKM, ASPR, MYOR, SMIL, dan AMRT dengan rentang beli, target harga, serta batas stop loss yang berbeda.

  • TLKM: Buy 3020-3050, TP 3120-3160, SL 2850
  • ASPR: Buy 452-456, TP 468-480, SL 428
  • MYOR: Buy 1800-1815, TP 1840-1865, SL 1705
  • SMIL: Buy 292-296, TP 304-310, SL 278
  • AMRT: Buy 1425-1435, TP 1465-1500, SL 1305

Rekomendasi tersebut bersifat informatif dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Investor tetap perlu menyesuaikan keputusan dengan profil risiko, horizon investasi, dan tujuan keuangan masing-masing.

Dengan tekanan IHSG, aksi korporasi emiten, dan menanti arah kebijakan moneter, pasar masih berpotensi bergerak fluktuatif. Kondisi ini membuat seleksi saham berbasis fundamental dan disiplin manajemen risiko menjadi semakin penting.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!