IHSG Terkoreksi 3,46%, Emiten Siapkan Buyback Saham

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 21 Mei 2026 20:00 WIB 6
IHSG Terkoreksi 3,46%, Emiten Siapkan Buyback Saham

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 19 Mei, dengan koreksi 3,46 persen ke level 6.370,68. Tekanan datang dari mayoritas sektor, pelemahan bursa Amerika Serikat, serta sikap pelaku pasar yang menanti arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.

Di tengah pelemahan tersebut, investor asing masih membukukan beli bersih Rp306,34 miliar di pasar reguler dan Rp260,12 miliar di seluruh pasar. Sejumlah saham justru bergerak berlawanan arah, sementara beberapa emiten mengumumkan aksi pembelian kembali saham atau buyback yang menjadi perhatian pasar.

Tekanan Pasar Menguat

IHSG bergerak di zona merah sepanjang perdagangan dan menutup sesi dengan pelemahan yang cukup dalam. Sektor kesehatan menjadi satu-satunya penopang dengan kenaikan tipis 0,55 persen. Sebaliknya, sektor basic industry menjadi penekan terbesar setelah terkoreksi 7,30 persen.

Di jajaran saham penguat, Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk atau SRAJ naik 9,06 persen. Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau AMRT menguat 2,12 persen, sedangkan Bank Syariah Indonesia Tbk atau BRIS bertambah 4,12 persen. Pergerakan tersebut menunjukkan masih adanya minat selektif pada saham tertentu di tengah pasar yang rapuh.

Tekanan terbesar datang dari Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA yang turun 14,77 persen. Mora Telematika Indonesia Tbk atau MORA melemah 9,51 persen, sementara Bank Central Asia Tbk atau BBCA terkoreksi 2,86 persen. Kombinasi pelemahan saham berkapitalisasi besar ikut memperdalam koreksi indeks.

Sentimen eksternal turut memperburuk suasana setelah bursa Amerika Serikat kompak ditutup melemah. Dow Jones turun 0,65 persen, S&P 500 terkoreksi 0,67 persen, dan Nasdaq melemah 0,84 persen. Kondisi itu menambah kehati-hatian investor domestik menjelang rilis kebijakan bank sentral.

Menanti Sinyal Bank Indonesia

Pelaku pasar kini menunggu keputusan suku bunga Bank Indonesia untuk Mei 2026. Konsensus memperkirakan BI Rate naik menjadi 5,00 persen dari sebelumnya 4,75 persen. Ekspektasi tersebut muncul di tengah tekanan terhadap rupiah yang berada di kisaran Rp17.705 per dolar AS.

Pergerakan rupiah menjadi salah satu variabel yang terus diperhatikan investor. Kenaikan suku bunga dinilai berpotensi meredam tekanan nilai tukar, meski di sisi lain dapat menahan laju pertumbuhan kredit. Dalam situasi seperti ini, pasar cenderung selektif terhadap emiten dengan fundamental kuat.

Beli bersih asing yang masih positif memberi sinyal bahwa minat pada pasar saham Indonesia belum sepenuhnya hilang. Namun, arus beli tersebut belum cukup kuat untuk menahan tekanan indeks secara keseluruhan. Investor masih menimbang risiko global, arah suku bunga, dan ketahanan laba emiten.

Untuk jangka pendek, volatilitas diperkirakan tetap tinggi selama pasar menunggu kepastian kebijakan moneter. Saham-saham defensif dan emiten dengan katalis korporasi cenderung menjadi pilihan utama. Di saat yang sama, aksi ambil untung pada saham berkapitalisasi besar masih berpotensi berlanjut.

Rencana Buyback Emiten

Delta Dunia Makmur Tbk atau DOID mengumumkan rencana buyback saham dengan nilai maksimal US$6 juta atau sekitar Rp104,25 miliar. Dana pembelian kembali akan berasal dari kas internal perseroan. Perusahaan menargetkan pembelian hingga 320,77 juta saham atau setara 4,36 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

DOID menyebut posisi kas per akhir Desember 2025 mencapai US$210,26 juta. Pelaksanaan buyback akan dilakukan bertahap selama maksimal 12 bulan setelah persetujuan pemegang saham dalam RUPS pada 24 Juni 2026. Batas akhir pelaksanaan ditetapkan pada Juni 2027.

Setelah aksi tersebut, total ekuitas DOID diperkirakan turun menjadi US$42,87 juta dari sebelumnya US$48,87 juta. Jumlah saham beredar juga diproyeksikan menyusut menjadi 7,03 miliar saham dari 7,35 miliar saham. Langkah ini kerap dibaca pasar sebagai sinyal manajemen percaya diri terhadap prospek perusahaan.

Estika Tata Tiara Tbk atau BEEF juga menyiapkan buyback saham senilai maksimal Rp100 miliar. Perseroan menargetkan pembelian kembali sekitar 333,33 juta saham atau setara 4,10 persen dari total saham beredar, dengan harga maksimal Rp300,60 per saham. Aksi tersebut akan dilakukan melalui BCA Sekuritas mulai 19 Mei 2026 hingga 18 Mei 2027 secara bertahap.

Kinerja dan Prospek

ABM Investama Tbk atau ABMM membukukan laba bersih kuartal I-2026 sebesar US$14,88 juta, turun 30,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan juga menyusut menjadi US$222,65 juta dari US$250,02 juta. Penurunan ini menunjukkan tekanan bisnis masih cukup terasa pada awal tahun.

Manajemen menilai lonjakan harga bahan bakar minyak akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang membebani operasional. Harga minyak pada kuartal I-2026 tercatat US$101,38 per barel, jauh lebih tinggi dibanding posisi akhir 2025 di US$57,42 per barel. Kondisi tersebut menambah biaya dan menekan margin perusahaan.

ABMM saat ini juga fokus menyelesaikan perizinan proyek PT Piranti Jaya Utama di Kalimantan Tengah. Perseroan menargetkan proyek itu mulai beroperasi pada akhir 2026. Di sisi lain, tambang batu bara PT Nirmala Coal Nusantara di Aceh diharapkan menambah pendapatan setelah penjualan perdana pada Februari lalu.

Dalam kondisi pasar yang bergejolak, rekomendasi saham hari ini tetap menjadi perhatian investor ritel. Sejumlah saham yang disorot antara lain TLKM, ASPR, MYOR, SMIL, dan AMRT dengan strategi beli pada rentang harga tertentu. Meski demikian, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing investor.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!