IHSG Menguat, Saham Perbankan dan Emiten Jadi Penopang

Forex & Saham Gilang Nabaris 29 Mei 2026 23:26 WIB 3
IHSG Menguat, Saham Perbankan dan Emiten Jadi Penopang

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,72 persen ke level 6.206,35 pada perdagangan Senin, 25 Mei, ditopang kenaikan saham perbankan dan otomotif. Pada saat yang sama, investor asing mencatat jual bersih triliunan rupiah, sehingga ruang penguatan indeks masih dibayangi aksi ambil untung.

Untuk perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan bergerak terbatas di tengah sentimen positif dari perkembangan pembicaraan Iran dan Amerika Serikat. Pelaku pasar juga mencermati liburnya bursa Wall Street karena Memorial Day, penundaan implementasi penuh kebijakan ekspor DSI, serta penguatan MSCI Indonesia offshore.

Sentimen IHSG Masih Terbatas

Penguatan IHSG pada perdagangan sebelumnya terutama ditopang saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan dan otomotif. Bank Rakyat Indonesia naik 3,93 persen, Bank Central Asia menguat 3,39 persen, dan Astra International bertambah 3,70 persen.

Di sisi lain, tekanan datang dari sejumlah saham yang terkoreksi cukup dalam. Barito Pacific melemah 7,79 persen, Dian Swastatika Sentosa turun 11,93 persen, dan Sumber Alfaria Trijaya terkoreksi 9,12 persen.

Investor asing membukukan jual bersih Rp2,09 triliun di pasar reguler dan Rp2,22 triliun di seluruh pasar. Kondisi itu menunjukkan minat beli domestik masih harus berhadapan dengan tekanan arus keluar dana asing.

Dari sisi sektoral, enam sektor berhasil bertahan di zona hijau, dengan sektor transportasi menjadi penopang utama melalui kenaikan 3,83 persen. Sebaliknya, sektor energi menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 2,04 persen.

Prospek Saham Emiten

Solusi Environment Asia atau SOFA resmi bergabung dalam konsorsium proyek Waste to Energy bersama Zhejiang Weiming melalui anak usaha PT Ananta Energi Asia. Konsorsium ini akan menggarap dua proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik di wilayah Denpasar Raya dan Bogor Raya.

Zhejiang Weiming dikenal sebagai salah satu operator PSEL terbesar di dunia dengan produksi listrik berbasis sampah mencapai 4,62 miliar kWh pada 2025. Kerja sama tersebut membuka peluang pendapatan berulang bagi SOFA melalui skema Power Purchase Agreement selama 30 tahun.

Millennium Pharmacon International atau SDPC membidik pendapatan Rp5 triliun pada 2026, naik 21,68 persen dari target 2025. Perseroan juga menargetkan laba bersih Rp60 miliar, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya Rp38,46 miliar.

Untuk menopang pertumbuhan, SDPC hampir merampungkan gudang pusat di Bekasi dengan progres pembangunan 95 persen. Perseroan juga menyiapkan ekspansi cabang di Kupang dan Kendari untuk memperluas jangkauan distribusi.

Dividen dan Kinerja Saham

Sinar Mas Agro Resources and Technology atau SMAR menetapkan dividen tunai Rp270 per saham untuk tahun buku 2025. Total dividen mencapai Rp775,49 miliar, setara 30 persen dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Sepanjang 2025, SMAR membukukan pendapatan Rp86,95 triliun, tumbuh 10,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih perseroan melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi Rp2,58 triliun, sementara laba per saham naik menjadi Rp900.

Pada perdagangan 25 Mei 2026, saham SMAR ditutup di level Rp5.225 per saham dengan indikasi dividend yield sekitar 5,17 persen. Cum date dividen dijadwalkan pada 4 Juni, sedangkan pembayaran dilakukan pada 18 Juni 2026.

Pergerakan saham seperti BRIS, INDF, PGAS, SSIA, dan ISAT juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Rekomendasi teknikal pada saham-saham tersebut menunjukkan peluang jangka pendek, namun tetap memerlukan disiplin pada batas risiko masing-masing investor.

Strategi Investor IHSG

Menjelang libur panjang bursa, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang yang terbatas karena pelaku pasar cenderung menahan transaksi. Sentimen positif dari meredanya ketegangan geopolitik tetap perlu diimbangi dengan kewaspadaan atas potensi profit taking.

Penguatan MSCI Indonesia offshore sebesar 1,70 persen memberikan tambahan sentimen positif bagi pasar domestik. Meski demikian, arah indeks masih akan sangat ditentukan oleh respons investor terhadap arus dana asing dan dinamika eksternal.

Bagi investor, saham-saham dengan fundamental kuat dan katalis dividen masih berpotensi menarik untuk dicermati. Namun, keputusan transaksi tetap sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko, horizon investasi, dan tujuan keuangan masing-masing.

Dengan kombinasi sentimen global, aksi korporasi emiten, dan pergerakan sektoral, pasar saham Indonesia masih menyimpan peluang sekaligus tantangan. Dalam kondisi seperti ini, strategi yang disiplin dan selektif menjadi kunci agar investor tidak terpancing euforia sesaat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!