Ferry Maryadi Rayakan Idul Adha Bersama Keluarga

Lifestyle Anindya Kirana Putri 30 Mei 2026 00:32 WIB 2
Ferry Maryadi Rayakan Idul Adha Bersama Keluarga

Ferry Maryadi merayakan Idul Adha bersama keluarga dengan cara yang sederhana, hangat, dan penuh makna. Ia mengawali hari dengan salat Id berjemaah, lalu melanjutkan tradisi kurban bersama istri dan anak-anaknya. Momen tersebut berlangsung di tengah kebersamaan keluarga, saat ia hadir di Studio Arisan Trans 7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, pada Jumat (29/5/2026). Bagi Ferry, perayaan tahun ini terasa normal seperti kebanyakan masyarakat yang menjalankan ibadah kurban.

Selain menikmati kebersamaan, Ferry juga menyoroti pengalaman putra bungsunya, Abay, yang mulai belajar berkurban. Anak berusia 11 tahun itu memilih membeli seekor kambing menggunakan uang tabungannya sendiri. Uang tersebut dikumpulkan dari hadiah Lebaran hingga uang khitan yang disimpan secara bertahap. Ferry menilai proses itu penting agar anaknya memahami makna kurban sejak dini.

Idul Adha Bersama Keluarga

Ferry mengatakan perayaan Idul Adha tahun ini berjalan apa adanya, tanpa kemewahan yang berlebihan. Ia dan keluarga melaksanakan salat Id bersama pada pagi hari, lalu bersiap menyembelih hewan kurban. Menurutnya, pola itu sudah cukup mewakili suasana perayaan yang hangat dan khidmat. Ia menyebut momen tersebut sebagai bagian dari tradisi keluarga yang dijalankan dengan penuh syukur.

Dalam keterangannya, Ferry menegaskan bahwa keluarga kecilnya memilih merayakan Idul Adha secara sederhana. Ia menilai esensi perayaan bukan pada kemewahan, melainkan pada ibadah dan kebersamaan. Karena itu, salat berjemaah dan prosesi kurban menjadi agenda utama keluarganya. Suasana tersebut juga memperlihatkan kedekatan antaranggota keluarga dalam menjalankan ibadah bersama.

Ferry merasa bersyukur karena tahun ini keluarganya masih diberi kesempatan untuk berkurban. Ia menyebut bahwa rezeki yang diterima patut disyukuri melalui pelaksanaan ibadah tersebut. Bagi dirinya, kurban menjadi pengingat agar keluarga tetap dekat dengan nilai berbagi. Hal itu membuat perayaan Idul Adha memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar rutinitas tahunan.

Ia juga menilai kebiasaan merayakan hari besar keagamaan secara bersama-sama penting untuk terus dijaga. Menurutnya, pengalaman seperti ini dapat menjadi contoh baik bagi anak-anak di rumah. Keluarga yang kompak saat ibadah dinilai mampu menumbuhkan rasa kebersamaan yang kuat. Dari situ, momen Idul Adha berubah menjadi ruang pembelajaran yang sederhana namun berkesan.

Abay Belajar Makna Kurban

Ferry mengungkapkan bahwa putra bungsunya, Abay, mulai menunjukkan minat untuk belajar berkurban. Tahun ini, anaknya membeli sendiri seekor kambing dengan uang tabungan pribadi. Tabungan itu berasal dari hadiah Lebaran dan uang khitan yang selama ini disimpan. Menurut Ferry, keputusan tersebut menjadi langkah awal yang baik dalam mengenalkan ibadah kurban.

Ia menceritakan bahwa Abay memang ingin memahami proses membeli hewan kurban secara langsung. Karena itu, Ferry mendorong sang anak untuk memulai dari kambing terlebih dahulu. Langkah tersebut dipilih agar Abay tidak hanya melihat kurban sebagai tradisi, tetapi juga sebagai ibadah yang memiliki aturan. Dengan cara itu, anaknya diharapkan belajar bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri.

Ferry menyebut bahwa pembelian kambing dengan uang jajan sendiri membuat pengalaman Abay terasa lebih bermakna. Proses menabung dinilai memberi pelajaran tentang kesabaran dan perencanaan. Anak itu pun belajar bahwa ibadah dapat dijalankan melalui usaha pribadi yang konsisten. Pengalaman tersebut menjadi bekal awal untuk memahami nilai berbagi dalam kurban.

Meski baru memulai, Ferry melihat semangat belajar yang cukup besar dari putranya. Ia menilai keinginan Abay untuk berkurban perlu diapresiasi karena muncul dari kesadaran sendiri. Sikap itu menunjukkan bahwa anaknya mulai memahami pentingnya berbuat baik kepada sesama. Dari sini, kurban bukan hanya soal hewan yang disembelih, tetapi juga proses mendidik karakter.

Pertanyaan Anak Soal Kurban

Menurut Ferry, Abay masih banyak mengajukan pertanyaan tentang konsep kurban. Sebagai anak berusia 11 tahun, ia memang belum sepenuhnya memahami aturan dan tujuan ibadah tersebut. Ferry menilai hal itu wajar karena anak-anak pada umumnya masih berada dalam tahap belajar. Pertanyaan yang muncul justru dianggap sebagai tanda rasa ingin tahu yang sehat.

Salah satu hal yang ditanyakan Abay adalah mengapa daging kurban harus dibagi dalam persentase tertentu. Ia juga penasaran mengapa dirinya belum boleh ikut memotong hewan kurban sendiri. Ferry menjelaskan bahwa pertanyaan semacam itu biasa muncul pada anak seusianya. Dari situ, proses belajar berjalan secara alami melalui dialog di dalam keluarga.

Ferry berusaha menjawab pertanyaan sang anak dengan bahasa yang mudah dipahami. Ia tidak ingin Abay sekadar mengikuti tradisi tanpa mengetahui dasar dan maknanya. Karena itu, setiap pertanyaan dijadikan kesempatan untuk memberi penjelasan yang sederhana. Pendekatan tersebut dinilai penting agar anak lebih menghargai ibadah yang dijalankan.

Baginya, rasa penasaran Abay merupakan bagian dari pembelajaran yang sangat positif. Anak yang bertanya berarti sedang berusaha memahami nilai di balik sebuah ibadah. Ferry percaya proses ini akan membuat putranya lebih siap saat kelak menjalankan kurban secara mandiri. Dengan demikian, kurban bukan hanya diwariskan sebagai kebiasaan, tetapi juga sebagai pemahaman.

Rezeki Sapi untuk Keluarga

Selain kambing yang dibeli Abay, Ferry dan Deswita juga ikut berkurban pada tahun ini. Ia menyebut keluarga mereka mendapat rezeki untuk menyembelih sapi. Bagi Ferry, tambahan kurban tersebut menjadi bentuk syukur atas kelapangan rezeki yang diterima. Ia menilai kesempatan itu patut dimanfaatkan untuk berbagi kepada sesama.

Ferry mengatakan bahwa kehadiran kurban sapi membuat suasana Idul Adha di rumah terasa semakin lengkap. Keluarga dapat menjalankan ibadah sekaligus menyalurkan daging kepada yang membutuhkan. Nilai berbagi itulah yang menurutnya paling penting dalam perayaan hari besar ini. Dengan begitu, kurban menjadi sarana memperkuat kepedulian sosial di lingkungan sekitar.

Ia menekankan bahwa berkurban bukan semata soal jumlah hewan yang disembelih. Yang lebih utama adalah niat, ketulusan, dan rasa syukur atas rezeki yang diterima. Karena itu, Ferry memandang pengalaman tahun ini sebagai berkah bagi keluarganya. Tradisi tersebut juga menjadi pengingat agar keluarga terus menjaga kebersamaan dalam ibadah.

Dalam penutup keterangannya, Ferry menyampaikan rasa syukur atas seluruh rezeki yang datang tahun ini. Ia berharap semangat berkurban dapat terus tumbuh di keluarganya, termasuk pada anak-anak. Pengalaman Abay membeli kambing sendiri menjadi contoh kecil yang bernilai besar bagi keluarga. Dari momen Idul Adha itu, Ferry menemukan pelajaran tentang syukur, tanggung jawab, dan kebersamaan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!