IHSG Menguat, Saham Komoditas dan Emiten Jadi Sorotan

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 02 Juni 2026 18:10 WIB 11
IHSG Menguat, Saham Komoditas dan Emiten Jadi Sorotan

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 1,10 persen ke level 6.162,04 pada perdagangan Jumat, 22 Mei. Penguatan ini terutama ditopang saham berbasis komoditas dan tambang, meski tekanan dari saham berkapitalisasi besar masih terasa.

Di tengah kondisi tersebut, investor asing masih membukukan jual bersih Rp1,07 triliun di pasar reguler dan Rp309,45 miliar di seluruh pasar. Pelaku pasar kini mencermati sentimen global, kebijakan ekspor komoditas strategis, serta dampak rebalancing indeks MSCI yang segera berlaku.

IHSG Ditopang Saham Komoditas

Penguatan IHSG didorong lonjakan sejumlah saham berbasis komoditas dan tambang. Merdeka Copper Gold atau MDKA menjadi penopang utama setelah melesat 24,77 persen. Emas Antam Indonesia atau EMAS naik 19,67 persen, sedangkan Bumi Resources Minerals atau BRMS menguat 11,50 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan minat investor yang kembali masuk ke saham-saham berbasis sumber daya alam. Sektor basic industry menjadi pendorong terbesar dengan kenaikan 6,85 persen. Namun, kenaikan itu belum cukup untuk menutup tekanan dari saham-saham besar yang melemah.

Telkom Indonesia atau TLKM turun 2,67 persen, Astra International atau ASII terkoreksi 3,57 persen, dan Bayan Resources atau BYAN melemah 4,53 persen. Pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar ini membatasi laju indeks. Meski begitu, mayoritas sektor pasar tetap bergerak di zona hijau.

Arus Asing Masih Keluar

Tekanan terhadap pasar saham domestik masih datang dari aksi jual investor asing. Sepanjang perdagangan, asing mencatat jual bersih Rp1,07 triliun di pasar reguler. Jika dihitung di seluruh pasar, total jual bersih mencapai Rp309,45 miliar.

Kondisi ini menunjukkan pelaku asing masih berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar Indonesia. Sektor keuangan menjadi sektor dengan pelemahan terdalam, meski hanya turun 0,28 persen. Di sisi lain, beberapa sektor lain masih mampu menjaga kinerja positif indeks.

Sentimen dari Amerika Serikat membantu meredam tekanan jual di pasar domestik. Dow Jones naik 0,58 persen, S&P 500 bertambah 0,37 persen, dan Nasdaq menguat 0,19 persen. Kombinasi sentimen global dan lokal membuat pasar tetap bergerak selektif.

Rebalancing Global Jadi Perhatian

Pelaku pasar juga menunggu dampak rebalancing indeks MSCI yang mulai efektif pada 1 Juni. Pada saat yang sama, ETF EIDO tercatat relatif datar di level 0,08 persen. MSCI Indonesia justru turun 0,95 persen, sehingga pasar masih berada dalam fase penyesuaian.

Di pasar global, FTSE Russell resmi mengeluarkan Dian Swastatika Sentosa atau DSSA dari indeks Large Cap. Tiga emiten lain, yakni Daaz Bara Lestari, Hillcon, dan Mulia Industrindo, juga dicoret dari indeks Micro Cap. Keputusan ini menambah perhatian investor terhadap perubahan komposisi indeks global.

FTSE menilai struktur kepemilikan saham DSSA terlalu terkonsentrasi, dengan HSC mencapai 95,76 persen. DAAZ dinilai belum memenuhi ketentuan minimum saham publik, sedangkan HILL dan MLIA dikeluarkan karena aktivitas perdagangan yang tidak biasa. Perubahan tersebut berpotensi memicu arus dana asing keluar lebih dari US$2,86 miliar.

Aksi Korporasi Emiten

Dari sisi emiten, Singaraja Putra Tbk atau SINI berencana menerbitkan 721,50 juta saham baru melalui rights issue. Perseroan akan meminta persetujuan dalam RUPS pada 26 Mei mendatang. Jika harga pelaksanaan diasumsikan Rp5.000 per saham, dana yang dihimpun akan mendukung akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti.

Nilai akuisisi anak usaha Petrosea itu mencapai sekitar Rp1,73 triliun. SINI akan membayar Rp1,51 triliun secara tunai saat transaksi selesai, sedangkan sisanya Rp218,40 miliar plus bunga 7,5 persen per tahun dibayar bertahap hingga akhir 2028. Adapun kas dan setara kas perseroan per 2025 tercatat Rp33,56 miliar.

Sementara itu, Indocement Tunggal Prakarsa atau INTP memutuskan membagikan dividen tunai Rp468 per saham untuk tahun buku 2025. Total dividen yang dibagikan mencapai Rp1,54 triliun atau setara 68,35 persen dari laba bersih. Cum dividen ditetapkan pada 3 Juni, sedangkan pembayaran dilakukan pada 19 Juni 2026.

Rekomendasi saham hari ini:

  • TINS: Buy 3530-3580, TP 3650-3720, SL 3380
  • ADMR: Buy 1460-1480, TP 1500-1520, SL 1380
  • INDY: Buy 2420-2460, TP 2530-2570, SL 2300
  • WIFI: Buy 2080-2120, TP 2160-2200, SL 1980
  • DEWA: Buy 368-378, TP 386-398, SL 352

INTP juga menarik perhatian karena menawarkan dividend yield sekitar 9,55 persen pada harga penutupan Rp4.900 per saham. Saham ini diperdagangkan pada PBV 0,74 kali dan PER 7,64 kali trailing twelve months. Dengan kombinasi dividen dan valuasi yang relatif rendah, INTP tetap berada dalam pantauan investor.

Tag Terkait
#IHSG#saham#emiten

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!