IHSG Menguat, Saham Komoditas dan Emiten Jadi Sorotan

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 01 Juni 2026 06:37 WIB 2
IHSG Menguat, Saham Komoditas dan Emiten Jadi Sorotan

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 1,10 persen ke level 6.162,04 pada perdagangan Jumat, 22 Mei. Kenaikan indeks terutama ditopang lonjakan saham berbasis komoditas dan tambang, sementara sejumlah saham berkapitalisasi besar justru menahan laju penguatan pasar.

Di tengah penguatan tersebut, investor asing masih mencatatkan jual bersih Rp1,07 triliun di pasar reguler dan Rp309,45 miliar di seluruh pasar. Pelaku pasar kini menyoroti sentimen global, rencana rebalancing MSCI, serta sejumlah aksi korporasi emiten yang berpotensi memengaruhi pergerakan saham.

IHSG Ditopang Saham Komoditas

Penguatan IHSG pada perdagangan terakhir didorong oleh saham-saham komoditas dan tambang yang bergerak agresif. Merdeka Copper Gold mencatat kenaikan paling tinggi sebesar 24,77 persen.

Emas Antam Indonesia juga menguat 19,67 persen, sedangkan Bumi Resources Minerals naik 11,50 persen. Di sisi sektoral, sektor basic industry memimpin penguatan dengan kenaikan 6,85 persen.

Meski demikian, saham berkapitalisasi besar memberikan tekanan pada indeks. Telkom Indonesia turun 2,67 persen, Astra International terkoreksi 3,57 persen, dan Bayan Resources melemah 4,53 persen.

Arus Asing Masih Keluar

Tekanan dari investor asing belum mereda dan masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Pada perdagangan reguler, asing membukukan jual bersih Rp1,07 triliun.

Jika dihitung di seluruh pasar, nilai jual bersih asing mencapai Rp309,45 miliar. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen domestik belum sepenuhnya mampu menahan arus keluar dana asing.

Di sisi lain, sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang melemah paling dalam dengan koreksi 0,28 persen. Pergerakan tersebut memperlihatkan rotasi pasar yang masih kuat ke saham-saham tertentu, terutama berbasis komoditas.

Sentimen Global Tetap Dijaga

Sentimen positif datang dari bursa Amerika Serikat yang ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones naik 0,58 persen, S&P 500 bertambah 0,37 persen, dan Nasdaq menguat 0,19 persen.

Meski demikian, pasar domestik masih mencermati perkembangan kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT DSI. Isu tersebut dinilai dapat memengaruhi prospek emiten berbasis sumber daya alam dalam jangka menengah.

Pelaku pasar juga menunggu dampak rebalancing indeks MSCI yang akan mulai efektif pada 1 Juni. Kinerja ETF EIDO yang mendatar dan MSCI Indonesia yang turun 0,95 persen mencerminkan sikap hati-hati investor.

Aksi Korporasi Emiten Mencuri Perhatian

Saham Singaraja Putra Tbk atau SINI menjadi sorotan setelah berencana menerbitkan 721,50 juta saham baru melalui rights issue. Aksi korporasi ini menunggu persetujuan RUPS pada 26 Mei dan berpotensi mendanai akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti senilai sekitar Rp1,73 triliun.

Di sisi lain, Indocement Tunggal Prakarsa Tbk atau INTP memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp468 per saham. Total dividen tersebut mencapai Rp1,54 triliun atau setara 68,35 persen dari laba bersih perseroan.

Untuk strategi perdagangan harian, sejumlah saham seperti TINS, ADMR, INDY, WIFI, dan DEWA masuk daftar rekomendasi teknikal. Namun, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor, karena rekomendasi pasar bukan jaminan hasil.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!