IHSG Menguat, Saham Komoditas dan Emiten Jadi Sorotan

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 28 Mei 2026 13:17 WIB 3
IHSG Menguat, Saham Komoditas dan Emiten Jadi Sorotan

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 1,10 persen ke level 6.162,04 pada perdagangan Jumat, 22 Mei. Kenaikan indeks terutama ditopang saham berbasis komoditas dan tambang, dengan Merdeka Copper Gold, Emas Antam Indonesia, dan Bumi Resources Minerals mencatat penguatan signifikan.

Namun, reli tersebut tertahan oleh pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar, sementara investor asing masih membukukan jual bersih. Di tengah dinamika itu, pelaku pasar menyoroti sentimen global, rebalancing indeks MSCI, serta sejumlah aksi korporasi emiten di bursa.

IHSG ditopang saham komoditas

Penguatan IHSG pada akhir pekan lalu mencerminkan rotasi dana ke saham-saham berbasis komoditas. Merdeka Copper Gold melesat 24,77 persen, Emas Antam Indonesia naik 19,67 persen, dan Bumi Resources Minerals menguat 11,50 persen.

Di sisi lain, saham-saham big cap justru menjadi penahan laju indeks. Telkom Indonesia turun 2,67 persen, Astra International terkoreksi 3,57 persen, dan Bayan Resources melemah 4,53 persen.

Secara sektoral, mayoritas sektor bergerak di zona hijau dengan basic industry memimpin penguatan 6,85 persen. Sektor keuangan menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 0,28 persen, sehingga kenaikan indeks tetap berlangsung selektif.

Asing masih mencatat jual bersih

Meski indeks menguat, aksi jual investor asing belum mereda di pasar saham domestik. Tercatat jual bersih sebesar Rp1,07 triliun di pasar reguler dan Rp309,45 miliar di seluruh pasar.

Tekanan jual tersebut menunjukkan bahwa minat beli investor asing masih berhati-hati. Kondisi ini membuat pergerakan IHSG lebih banyak ditentukan oleh minat beli investor domestik dan rotasi ke saham tertentu.

Sentimen global ikut memberi warna pada perdagangan, terutama dari Wall Street yang berakhir menguat. Dow Jones naik 0,58 persen, S&P 500 bertambah 0,37 persen, dan Nasdaq menguat 0,19 persen.

Pasar cermati kebijakan komoditas

Memasuki pekan berjalan, pelaku pasar menunggu perkembangan kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT DSI. Kebijakan tersebut dinilai dapat memengaruhi arus perdagangan, harga, dan sentimen terhadap saham berbasis sumber daya alam.

Pasar juga menantikan dampak rebalancing indeks MSCI yang mulai efektif pada 1 Juni. Hal itu tercermin dari pergerakan ETF EIDO yang cenderung datar dan MSCI Indonesia yang turun 0,95 persen.

Di pasar global, FTSE Russell turut menjadi perhatian setelah melakukan perubahan pada sejumlah konstituen indeks. Langkah ini berpotensi memicu penyesuaian portofolio oleh investor institusi, terutama pada saham-saham dengan eksposur besar.

Emiten dan aksi korporasi

Singaraja Putra Tbk atau SINI berencana menerbitkan 721,50 juta saham baru melalui rights issue setelah memperoleh persetujuan rapat umum pemegang saham pada 26 Mei. Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp5.000 per saham, perseroan berpotensi menggalang dana untuk akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti senilai sekitar Rp1,73 triliun.

Dalam skema transaksi itu, SINI akan membayar Rp1,51 triliun secara tunai saat penyelesaian akuisisi. Sisa kewajiban Rp218,40 miliar ditambah bunga 7,5 persen per tahun akan dibayar bertahap hingga akhir 2028 menggunakan kas internal, sementara posisi kas per 2025 tercatat Rp33,56 miliar.

Indocement Tunggal Prakarsa Tbk atau INTP juga menjadi sorotan setelah menetapkan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp468 per saham. Total pembagian mencapai Rp1,54 triliun atau setara 68,35 persen dari laba bersih perseroan.

Dividen INTP dan rekomendasi

Meski pendapatan INTP turun 4,40 persen menjadi Rp17,73 triliun, laba bersih perseroan justru naik 12,04 persen menjadi Rp2,25 triliun. Laba per saham ikut meningkat menjadi Rp674,50 dari sebelumnya Rp591,49, mencerminkan perbaikan profitabilitas.

Pada penutupan perdagangan terakhir, saham INTP berada di level Rp4.900 per saham dengan dividend yield sekitar 9,55 persen. Secara valuasi, saham ini diperdagangkan pada PBV 0,74 kali dan PER 7,64 kali trailing twelve months, sehingga tetap menarik bagi investor berburu dividen.

Jadwal cum dividen ditetapkan pada 3 Juni, sedangkan pembayaran dividen akan dilakukan pada 19 Juni 2026. Di tengah sentimen tersebut, sejumlah rekomendasi saham hari ini mencakup TINS, ADMR, INDY, WIFI, dan DEWA dengan strategi buy, target profit, serta stop loss yang telah ditentukan analis.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!