IHSG Menguat, Saham Komoditas dan Emiten Jadi Penopang

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 02 Juni 2026 00:16 WIB 2
IHSG Menguat, Saham Komoditas dan Emiten Jadi Penopang

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 1,10 persen ke level 6.162,04 pada perdagangan Jumat, 22 Mei. Penguatan ini ditopang oleh kenaikan saham berbasis komoditas dan tambang, terutama Merdeka Copper Gold yang melonjak 24,77 persen. Namun, kenaikan indeks belum sepenuhnya solid karena saham berkapitalisasi besar masih memberi tekanan. Aksi jual investor asing juga masih berlanjut dan menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Di tengah sentimen tersebut, mayoritas sektor tercatat bergerak di zona hijau. Sektor basic industry memimpin penguatan sebesar 6,85 persen, sedangkan sektor keuangan menjadi yang paling lemah dengan penurunan 0,28 persen. Pergerakan bursa Amerika Serikat yang relatif positif turut memberi dukungan bagi pasar saham domestik. Meski demikian, investor tetap mencermati agenda global dan sejumlah aksi korporasi emiten.

Pergerakan IHSG

Penguatan IHSG terutama berasal dari saham-saham komoditas dan tambang yang mengalami lonjakan signifikan. Selain MDKA, Emas Antam Indonesia naik 19,67 persen dan Bumi Resources Minerals menguat 11,50 persen. Kenaikan tersebut berhasil mengimbangi pelemahan saham besar seperti Telkom Indonesia, Astra International, dan Bayan Resources. Kombinasi itu membuat indeks tetap mampu bertahan di zona hijau hingga penutupan perdagangan.

Di sisi lain, tekanan dari investor asing masih terasa pada aktivitas transaksi harian. Data menunjukkan jual bersih asing mencapai Rp1,07 triliun di pasar reguler dan Rp309,45 miliar di seluruh pasar. Kondisi ini menandakan minat beli asing belum sepenuhnya pulih meski indeks menguat. Pelaku pasar pun cenderung berhati-hati dalam membaca arah perdagangan selanjutnya.

Secara sektoral, penguatan merata masih tampak pada sebagian besar lini perdagangan. Basic industry menjadi penopang utama, sementara sektor keuangan justru tertahan oleh pelemahan. Perbedaan arah antar sektor menunjukkan rotasi saham masih berlangsung cukup aktif. Dalam kondisi seperti ini, selektivitas menjadi faktor penting bagi investor.

Sentimen Pasar Global

Sentimen positif juga datang dari bursa Amerika Serikat yang bergerak menguat pada penutupan perdagangan terakhir. Dow Jones naik 0,58 persen ke level 50.579, S&P 500 bertambah 0,37 persen menjadi 7.473, dan Nasdaq menguat 0,19 persen ke posisi 26.343. Penguatan indeks acuan tersebut memberi dukungan psikologis bagi pasar Asia, termasuk Indonesia. Meski begitu, pengaruhnya masih terbatas karena investor menunggu kepastian kebijakan lanjutan.

Pasar juga mencermati perkembangan kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT DSI. Isu tersebut berpotensi memengaruhi arah perdagangan saham-saham berbasis sumber daya alam. Selain itu, pelaku pasar menilai dampaknya terhadap rantai pasok dan arus perdagangan komoditas nasional. Faktor ini membuat sentimen sektor terkait tetap atraktif namun penuh kehati-hatian.

Perhatian lain tertuju pada rebalancing indeks MSCI yang mulai efektif pada 1 Juni. Pergerakan ETF EIDO yang mendatar dan MSCI Indonesia yang turun 0,95 persen menunjukkan respons pasar masih terbatas. Investor tampak menunggu penyesuaian portofolio dari pelaku global sebelum mengambil posisi baru. Dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan masih akan mewarnai pasar saham domestik.

Aksi Korporasi Emiten

Singaraja Putra Tbk atau SINI berencana menerbitkan 721,50 juta saham baru melalui rights issue. Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan dalam RUPS pada 26 Mei mendatang. Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp5.000 per saham, perseroan berpeluang menghimpun dana besar untuk ekspansi. Dana itu akan diarahkan untuk mendukung akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti, anak usaha Petrosea.

Nilai transaksi akuisisi KMS diperkirakan sekitar Rp1,73 triliun. SINI akan membayar Rp1,51 triliun secara tunai pada saat penyelesaian transaksi. Sisa kewajiban sebesar Rp218,40 miliar akan dicicil hingga akhir 2028, ditambah bunga 7,5 persen per tahun. Adapun posisi kas dan setara kas perseroan per 2025 tercatat sebesar Rp33,56 miliar.

Di sisi lain, Indocement Tunggal Prakarsa Tbk memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp468 per saham. Total dividen yang akan dibagikan mencapai Rp1,54 triliun, atau setara 68,35 persen dari laba bersih. Meskipun pendapatan turun 4,40 persen menjadi Rp17,73 triliun, laba bersih justru naik 12,04 persen menjadi Rp2,25 triliun. Kinerja tersebut membuat saham INTP tetap menarik di mata investor pencari dividen.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Sejumlah saham pilihan masih mendapat perhatian karena peluang teknikal dan katalis fundamental yang berbeda. Rekomendasi yang muncul mencakup TINS, ADMR, INDY, WIFI, dan DEWA dengan rentang beli, target, serta batas cut loss yang telah ditetapkan. Berikut ringkasan rekomendasi dalam bentuk tabel agar lebih mudah dibaca. Investor tetap disarankan menyesuaikan keputusan dengan profil risiko masing-masing.

KodeBuyTargetStop Loss
TINS3530-35803650-37203380
ADMR1460-14801500-15201380
INDY2420-24602530-25702300
WIFI2080-21202160-22001980
DEWA368-378386-398352

INTP juga menjadi sorotan karena menawarkan dividend yield sekitar 9,55 persen pada harga penutupan Rp4.900 per saham. Valuasi saham tersebut tergolong rendah dengan PBV 0,74 kali dan PER 7,64 kali secara trailing twelve months. Kombinasi dividen dan valuasi memberi daya tarik tersendiri bagi investor jangka menengah. Namun, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan kondisi pasar dan kebutuhan likuiditas masing-masing investor.

Meski sejumlah rekomendasi terlihat menarik, pasar masih dibayangi sentimen eksternal dan aksi jual asing. Karena itu, disiplin terhadap target harga dan batas kerugian perlu dijaga dengan ketat. Investor juga sebaiknya memantau kabar korporasi dan arah aliran dana asing sebelum masuk ke pasar. Dengan strategi yang terukur, peluang di tengah volatilitas masih dapat dimanfaatkan secara lebih bijak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!