Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 1,10 persen ke level 6.162,04 pada perdagangan Jumat, 22 Mei, di tengah dorongan saham berbasis komoditas dan tambang. Kenaikan tersebut terjadi meski investor asing masih membukukan jual bersih, sementara saham-saham berkapitalisasi besar justru menekan laju indeks.
Sentimen pasar juga dipengaruhi perkembangan global, rencana sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT DSI, dan antisipasi rebalancing indeks MSCI yang mulai efektif pada 1 Juni. Di saat yang sama, pelaku pasar mencermati perubahan konstituen FTSE Russell serta sejumlah aksi korporasi emiten yang berpotensi memengaruhi pergerakan saham dalam beberapa pekan ke depan.
IHSG ditopang saham komoditas
Penguatan IHSG terutama ditopang lonjakan saham-saham berbasis komoditas dan tambang. Merdeka Copper Gold atau MDKA melesat 24,77 persen, disusul Emas Antam Indonesia yang naik 19,67 persen, serta Bumi Resources Minerals yang menguat 11,50 persen.
Di sisi lain, saham berkapitalisasi besar menjadi penahan penguatan indeks. Telkom Indonesia terkoreksi 2,67 persen, Astra International turun 3,57 persen, sedangkan Bayan Resources melemah 4,53 persen.
Secara sektoral, mayoritas bursa bergerak di zona hijau dengan basic industry memimpin kenaikan 6,85 persen. Sektor keuangan justru menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 0,28 persen, sehingga kenaikan IHSG tampak masih ditopang rotasi ke saham-saham tertentu.
Asing masih mencatat jual bersih
Aksi jual investor asing masih berlanjut pada perdagangan terakhir. Tercatat jual bersih sebesar Rp1,07 triliun di pasar reguler dan Rp309,45 miliar di seluruh pasar.
Kondisi tersebut menunjukkan pasar domestik masih menghadapi tekanan dari arus dana keluar. Meski demikian, penguatan indeks membuktikan minat beli investor lokal pada saham tertentu masih cukup kuat untuk menjaga IHSG tetap berada di zona hijau.
Dari pasar global, sentimen positif datang dari Wall Street yang kompak menguat. Dow Jones naik 0,58 persen, S&P 500 bertambah 0,37 persen, dan Nasdaq menguat 0,19 persen, sehingga memberi dukungan bagi selera risiko pelaku pasar di Asia.
FTSE dan MSCI jadi sorotan
Pelaku pasar kini juga menyoroti dampak rebalancing indeks MSCI yang mulai berlaku efektif pada 1 Juni. Pergerakan ETF EIDO yang mendatar dan MSCI Indonesia yang turun 0,95 persen mencerminkan sikap hati-hati investor menjelang perubahan komposisi indeks.
Di pasar global, FTSE Russell resmi mengeluarkan Dian Swastatika Sentosa atau DSSA dari indeks Large Cap. Selain itu, Daaz Bara Lestari, Hillcon, dan Mulia Industrindo dicoret dari indeks Micro Cap.
FTSE menilai kepemilikan saham DSSA terlalu terkonsentrasi, sementara DAAZ belum memenuhi ketentuan minimum saham publik. Adapun HILL dan MLIA dikeluarkan karena aktivitas perdagangan yang tidak biasa, dan perubahan ini berpotensi memicu arus dana asing keluar lebih dari US$2,86 miliar.
Aksi korporasi emiten mencuri perhatian
Singaraja Putra Tbk atau SINI berencana menerbitkan 721,50 juta saham baru melalui rights issue setelah memperoleh persetujuan RUPS pada 26 Mei. Jika harga pelaksanaan diasumsikan Rp5.000 per saham, dana yang dihimpun berpotensi digunakan untuk mendukung akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti senilai sekitar Rp1,73 triliun.
Dalam skema tersebut, SINI akan membayar Rp1,51 triliun secara tunai saat penyelesaian transaksi. Sisa kewajiban Rp218,40 miliar ditambah bunga 7,5 persen per tahun akan dilunasi bertahap hingga akhir 2028 menggunakan kas internal, padahal posisi kas perseroan per 2025 tercatat hanya Rp33,56 miliar.
Sementara itu, Indocement Tunggal Prakarsa memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp468 per saham. Total dividen mencapai Rp1,54 triliun, setara 68,35 persen dari laba bersih, dengan jadwal cum dividen pada 3 Juni dan pembayaran pada 19 Juni 2026.
